Senin, 04 Juli 2016

BAB 7 PENDAYUNG



Bab 7
PENDAYUNG

Nelayan menambatkan kapalnya di dermaga, dan seorang pendayung yang membawa dayung perlombaan mendekat. “Inilah akhir perjalanannya, Nak. Aku akan masuk untuk mencari minuman, panggil aku saat kamu siap. Dan ingat janjimu!”

Richard melihiatnya berjalan menuju garasi kapal. Panggil dia saat aku siap? Siap untuk apa? Richard merasa dia telah siap untuk apa pun. Tetapi, sebenarnya dia betul-betul belum siap. Ada sesuatu yang sangat besar yang belum dilihatnya. Dia melihat Pendayung memasukkan dayungnya ke dalam air dan mengunci dayung-dayung itu.

Richard memandang Pendayung, dan menyadari dia harus kembali. Dia mengulurkan tangannya dan tanpa pikir panjang berkata:







“Halo, saya Rich. Bisakah anda membantu saya?”

Pendayung tertawa, “Wah, jika kamu rich, bukankah seharusnya kamu bertanya bagaimana kamu bisa membantuku?”
Wajah Richard memerah karena malu.
“Baiklah, bagaimana saya bisa membantu Anda?”

Pendayung bersandar pada tambatan. “Aku akan mengikuti lomba mendayung selama satu jam. Buatlah aku terilhami.”
Richard memulai ceritanya. “Ayah saya hari
ini sakit. Dia sering sakit. Sakit dan bosan. Sayalah satu-satunya anaknya, dan saya menyayanginya, dia begitu berbakat, namun
dia bahkan tidak menyadari hal itu, saya membantunya melakukan pekerjaannya dan saya tahu betapa bagusnya dia. Saya akan memastikan bahwa kami menginvestasikan waktu kami dan membangun sistem
perledingan yang lebih baik, untuk membuat kebun yang indah.”
“Saya akan pulang hari ini dan menciptakan






kehidupan di mana kami menarik kekayaan
dan waktu yang layak kami dapatkan. Waktu bersama, karena tidak ada yang lebih berharga daripada waktu, dan tidak ada yang lebih berharga bagi saya daripada waktu yang saya lewatkan bersama ayah saya, hal itu bukanlah kehidupan terhebat, tetapi itulah kehidupan saya dan itu akan menjadi kehidupan yang luar biasa.”
“Cerita yang hebat! Aku bisa melihatnya. Visi yang bagus.”
Rich ternganga oleh kata-kata orang itu. Matanya berkaca-kaca seolah dia baru saja membukanya untuk pertama kali. Dia berputar-putar dan memandang kapal Nelayan dengan kejelasan sebening Kristal, dan kemudian dia berlari menuju garasi kapal. Dia lari begitu cepat hingga kakinya tersandung. Dia siap.
“Saya siap! Saya bisa membantu Anda!”
Nelayan melihatnya dan tersenyum.
“Maaf, saya sedikit lamban, tetapi saya belajar! Saya adalah karya terilhami yang tak pernah selesai! Kapal Anda: saya akan





mengampelas dan memelitur kayunya. Saya telah melakukannya berkali-kali untuk ayah saya. Dia seorang tukang kayu.”
“Ah, jadi akhirnya kamu melihat kayunya!”
“Saat tukang kebun berkata ‘Tidak bisa melihat kayunya karena sibuk mengamati pohonnya’, saya memahaminya seperti yang biasa saya pahami. Kayunya adalah gambaran besarnya—visinya. Dan saya tahu memang demikian, tetapi saya baru saja menyadari bahwa kayunya juga bisa berarti apa yang bisa diciptakan dari pepohonan. Kesempatan semacam itu bisa diciptakan kapan saja.”
Nelayan mengangguk.”Aku suka itu, kamu harus menulisnya.”
Rich mengambil buku catatannya dan menulis:
“16. Bedakan Kayu dari
Pohonnya.”






“17. Kesempatan ada setiap
saat.”
Tiba-tiba diselimuti ilham, dia juga menggambar:



















Dia berpaling pada Nelayan. “Jadi, saya siap membantu. Saya sudah mulai menjadi
tukang kayu yang lebih baik. Saya bisa
melihat Kayu apa adanya. Saya bisa melihat bahwa tanpa Air, Kayu tidak bisa tumbuh. Ayah saya adalah tukang kayu yang hebat
dan saya akan sehebat dia. Anda tahu, dia berbakat. Tetapi, saya tidak hanya akan MELAKUKAN perkayuan yg lebih baik saya
akan MENJADI tukang kayu yang lebih baik. Saya akan mamperbaiki kapal Anda, dan saya bisa belajar dari Anda untuk membangun tangga yang lebih baik menuju kehidupan
baru saya bersama ayah saya.”
“Pertukaran yang adil dan aku akan senang untuk membantu,”jawab Nelayan. “Upahnya $5 per jam dan aku punya tiga kapal. Tetapi, tolong pahami—uang yang kamu dapatkan bukanlah keran uang . itu hanyalah pertukaran waktu-untuk-uang yang sederhana—sebuah pekerjaan.”
“Jadi, investasimu yang sesungguhnya dalam hal ini adalah pengembangan pemelajaranmu. Tetapi, jangan tunggu sampai kamu mulai. Sekarang setelah mempunyai visi semacam itu, terfokuslah kepada penciptaan keran uang, dan ingat bahwa kesempatan ada setiap saat—saat ini, masa depan, dan masa lalu.”
Rich berterimakasih kepada Nelayan dan berjalan kembali ke dermaga. Dia memikirkan kesempatan masa lalu dari hari ini saja. Seandainya dulu dia sudah memahami visi dan fokusnya, apa yang mungkin telah terjadi?” Seandainya dia dulu memulai dengan hasrat dan antusiasme yang begitu besar, kesempatan apa yang mungkin telah ditemukannya?”
Dia ingat toko ritel Nelayan. Semua rak itu! Dia ingat bangku Tukang Kebun, dan semua propertinya--semua pintu, jendela, lantai, dan papan-papan pembatasnya. Dan ingat waralaba pemeliharaan Tukang Leding, dan perusahaan pngembangn propertinya.  Begitu pun banyak kesempatan bagi seorang tukang kayu—untuk bisnis perkayuan!
Ada begitu banyak kesempatan untuk menciptakan kekayaan dalam sehari ini saja dan dia telah melewatkan semua itu.














“Kamu tampak seperti orang yang terburu-buru.”
Richard menatap Pendayung. “Benar. Saya punya banyak pekerjaan yang harus saya lakukan . saya telah belajar dan sekarang waktunya untuk beraksi. Mengetahui tanpa melakukan belum bisa dikatakan mengetahui. Anda tahu itu.”
“Semakin banyak langkah, semakin tidak terburu-buru.” Pendayung berkata.
“Maaf, apa yang Anda katakan?”
“Kamu perlu salah satu dayung ini.” Dia memberikan salah satu dayungnya.
Richard memandang dayung itu, kemudian menatap Pendayung, dan kembali ke dayungnya.
“Apa yang terjadi pada Anda saat Anda menjadi pendayung yang lebih baik?”
“Yah, saat mulai mendayung, aku belajar menghasilkan jutaan uang, saat aku menjadi








semakin baik, aku belajar menjaganya. Jika terlalu terburu-buru, kamu akan kembali ke tempat semula tanpa menjadi lebih kaya, tetapi justru sama miskinnya. Kekayaan punya irama.”
Rich sangat tertarik. “Irama kekayaan?”
“Saat pertama kali mulai melihat kekayaan di luar sana, kamu mulai melihat kesempatan di mana-mana. Jika kamu tidak mengikuti irama, kamu hanya akan kewalahan,
frustasi, atau kelelahan.”
Rich baru saja akan menuliskan hal itu
ketika Pendayung berpaling kepada dayungnya. “Segera setelah kamu melihat kekayaan, kamu akan menemukan ini.”
“Sebuah dayung?”
“Pengungkit. Lakukan sedikit upaya, dan dapatkan hasil yang besar. Untuk
menciptakan kekayaan, kamu harus belajar mengungkit kekayaan, waktu, dan uangmu. Lakukan hal tersebut dengan upaya, waktu, dan uang orang lain.







Rich telah melihat pengungkit bekerja pada kemitraan waralaba Tukang Leding, pembiayaan tanah dan jaringan Tukang Kebun, dan bahkan bagaimana dia memanfaatkan pengetahuan Nelayan untuk menangkap ikan.
Rich bisa melihat bagaimana masing-masing dari mereka tidak akan bisa mendapatkan Kekayaan yang mereka miliki tanpa upaya, waktu, dan uang orang lain. Pada titik itulah dia menyadari pentingnya nasihat Dokter Mata mengenai tingkat  komunikasi. Masing-masing dari mereka telah mengilhami orang-orang yang mereka temui dengan visi mereka, dan sebagai hasilnya, mereka telah menciptakan pengungkit. Rich pun ingin mengungkit.
Pendayung melanjutkan:
“Tetapi, kunci penggunaan pengungkit, seperti dayung ini, adalah hal itu tidak banyak berguna jika kamu tidak tahu cara menggunakannya. Jika digunakan dengan cara yang salah, kamu hanya akan kelelahan berurusan dengan terlalu banyak atau terlalu







sedikit upaya, waktu, dan uang milik orang yang salah atau milik orang yang tepat.”
Rich menulis:
“18. Kunci penggunaan
pengungkit adalah caramu
menggunakannya.”
Pendayung menarik sebuah perahu dayung kecil dan menyuruh Rich melompat naik. Rich mendayung sementara Pendayung bercerita. “Segera setelah mulai mendayung, aku mendirikan perusahaan tur liburan. Aku menyukai alam, dan aku mempunyai visi
tentang sebuah perusahaan tur liburan. Aku menyukai alam, dan aku mempunyai visi
tentang sebuah perusahaan yang akan
mengirim orang-orang di seluruh dunia ke tempat-tempat yang paling eksotik.”
“Aku menemukan kekuatan pengungkit, dan aku menambah pendanaan, merekrut
manajer, dan membuat kesepakatan kemitraan dan agen di seluruh dunia. Selama lima tahun aku bekerja seperti orang gila dan







mengembangkan perusahaan secara luar biasa.”
“Semua itu melelahkan, tetapi terus kulakukan , aku mulai menghabiskan seluruh waktuku untuk masalah manajemen dan persaingan usaha. Kami terus menambah penandaan dan merekrut staf. Kami benar-benar bekerja keras. Kemudian , pasar wisata mengalami penurunan, dan kami pun kewalahan. Ada kreditor yang harus dibayar, ada pembayaran yang telah jatuh tempo, sementara bisnis tidak bergerak cepat. Aku benar-benar letih. Akhirnya aku terpaksa menutup perusahaan.”
Rich sama sekali tidak senang mendengar hal itu. Ceritanya sangat berbeda dengan komentar ceria Nelayan tentang perencanaan untuk gagal. Kemudian Rich menyadari bahwa itulah tepatnya yang tidak dilakukan Pendayung. Dia tidak berencana untuk gagal. Pada kenyataannya, ketika dia benar-benar gagal—seperti yang dialaminya—permainan selesai.
“Itulah hal terbaik yang bisa terjadi padaku.







Kegagalan itu memaksaku berpikir untuk menjadi pendayung yang lebih baik. Saat mulai mendayung, aku terpesona pada kekuatan dayung ini. Tetapi, dayung ini juga sulit dikendalikan, semakin kencang aku mengayung, kapalnya semakin tidak seimbang, dan semakin lamban pula aku berjalan. Kondisi itu membuatku mengayuhnya semakin kencang dan memutarnya lebih cepat untuk mengembalikannya ke dalam air yang, tentu saja, semakin membuatku letih tanpa hasil sama sekali.”
“Saat aku menjadi pendayung yang lebih baik, hal aneh terjadi. Aku menemukan bahwa apa yang kulakukan saat dayungnya berada di atas air lebih penting daripada apa yang kulakukan saat dayungnya dalam air.”
Rich memandang Pendayung seolah orang itu sedikit aneh. Dia mengulangi, “Saat dayungnya berada di atas air?”
“Ayahmu. Aku menduga dia sama sekali tidak mengungkit saat ini?”








“Memang tidak.”
“Tidak apa-apa. Hal itu hanya membuat dayungnya jauh lebih melelahkan. Bayangkan ayahmu sedang mendayung dengan tangannya.”
Rich tidak benar-benar memahaminya, tetapi ia tetap mengangguk.
Pendayung menggambar skala di buku catatan Rich, dari 0 hingga 20, dan kemudian bertanya, “Saat ayahmu mengerahkan
dirinya, misalnya, dalam pekerjaannya, menurutmu berapa bagian dari seluruh potensinya yang dikerahkan?”
Rich berhenti mendayung sejenak dan melingkari angka 6. “Dia selalu kelelahan, berarti dia pasti bekerja sangat keras, tetapi dia tidak benar-benar mengerahkan seluruh potensinya.”
“Oke. Sekarang, saat dia tidak bekerja, masih dengan skala yang sama, seberapa banyak
dia santai, seimbang, dan menikmati hidup sepenuhnya?”







Rich mengernyit dan melingkari angka 4. “Pekerjaannya membuatnya letih, maka sesampainya di rumah dia harus memulihkan kondisi tubuhnya.”
“Tapi, itulah intinya. Jika berada di angka 4, dia tidak memulihkan kondisi tubuhnya. Dia masih akan tetap lelah saat kembali bekerja. Jadi, ketahuilah, saat kamu mulai mengungkit, semua hal tersebut dikalikan dengan faktor 10. Saat menjalankan perusahaan wisata, aku membuat diriku kelelahan setiap hari. Saat mendayung, aku membuat diriku kelelahan dengan setiap tarikan dayungnya.”
“Sekarang, saat menjadi pendayung yang lebih baik, aku memahami bahwa semakin aku santai dan seimbang saat dayungnya berada di atas air, semakin aku siap untuk kayuhan selanjutnya. Itulah sebabnya hal itu dinamakan pemulihan, yang lebih penting, semakin sebentar dayungku dalam air, semakin cepat aku melaju. Maka, aku menghabiskan waktu di atas air dua kali
lebih lama, dengan upaya setengah dari yang dulu, dan melaju dua kali lebih cepat.”






“Aku sekarang memiliki perusahaan olahraga petualangan agen wisata, dan tempat peristirahatan. Aku bekerja selama sekitar satu minggu dalam sebulan dan itu aku menikmati sisa waktuku untuk berjalan-jalan serta menjalani kehidupan yang sangat seimbang. Saat mengerahkan diri, aku mengerahkan diriku sepenuhnya. Saat bersantai aku bersantai sepenuhnya. Tantangan apa pun bisa kutangani dengan baik. Aku mempersiapkan melaksanakan, meninjau kembali pada saat-saat tertentu setiap minggu dan setiap bulan. Irama itulah yang membuat kekayaanku mampu
bertahan.”
Rich menganggukkan kepalanya kuat-kuat. Kemudian, dia pun menulis:
“19. Kekayaan yang
berkelanjutan mempunyai irama.”
Dia menggambar skala yang diinginkannya:



















Mereka berdua duduk beberapa saat, merasakan sepoi-sepoi udara musim gugur. Aliran sungai membawa mereka lebih jauh menuju laut. Rich memikirkan ayahnya, yang sedang terbaring di tempat tidur dengan memelas. “Jadi, menurut Anda, yang kita lakukan saat kita tidak bekerja sama pentingnya dengan yang kita lakukan saat bekerja?”
Pendayung menggeleng. “Yang lebih penting. Saat kamu memiliki visi dan fokus, pekerjaan terbaikmu dilakukan saat kamu sedang tidak bekerja. Tetapi ingat, Rich, orang Kaya tidak bekerja. Mereka hanya mengikuti hasrat mereka.



Rich berpikir tentang Tukang Leding yang sedang menari dan Tukang Kebun yang sedang bertamasya. Tampaknya yang mereka lakukan tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap kekayaan mereka, tetapi sesungguhnya hal itu memberikan kontribusi. Hanya dengan merawat dirinya, mereka menjadi semakin kaya. Kereka bersantai dengan skala 20. Mereka akan kembali menginvestasikan waktunya dengan skala 20. Mereka memiliki visi 20/20.
Dia menggambar:
Kekayaan
lebih
daripada
sekadar
yang
terlihat!










Rich mendengar suara seruling di udara. Mereka telah sampai di mulut sungai, dan mereka berdua melihat gazebo kayu di pantai. Seorang
perempuan sedang duduk, bermain untuk laut.
Pendayung berkata kepada Rich. “Itu Pemusik. Jika kamu ingin merasakan kekayaan sesungguhnya, kusarankan kamu menghabiskan beberapa saat bersamanya.”
Mendengarkan music mengingatkan Rich pada apa yang dikatakan Tukang Kebun:
“11. Hasratmu adalah
penunjuk arahmu.”
Rich berpaling kepada Pendayung. “Oke. Ini nomor telepon saya. Saya akan senang mengampelas dan memernis kapal Anda.”
Pendayung tersenyum. “Baik, terimakasih. Aku memiliki segarasi penuh kapal yang sedang menanti untuk diampelas dan dipernis. Kamu
akan memerlukan bantuan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar