Kamis, 16 Juni 2016

Bab 6 NELAYAN



Bab 6
NELAYAN

Nelayan tertawa terbahak-bahak. “Dia ada di sana, Nak. Ini permainan menunggu. Dunia menunggu kita untuk memberi, sementara kita menunggu Dunia untuk memberi. Ini memang permainan menunggu.

“Bukankah memancing adalah permainan menunggu?”

“Oh, ya, dulu seperti itu, sampai aku menjadi nelayan yang lebih baik.”

“Dan kekayaan apa yang Anda miliki?”

“Aku memiliki jaringan ritel. Kamu lihat apa yang kupakai? Sepatu bot ini? Jaket ini? Barang-barang ini dari jaringan ritelku.
Barang bgus. Aku senang menghabiskan waktu dengan orang-orangku. Seperti aku menghabiskan waktu di sini dengan ikan-







ikan. Itulah yang kusuka. Itulah kekayaan yang kumiliki. Bagaimana denganmu?”

“Saya tidak punya cukup banyak kekayaan.”

Nelayan bersiul, “Dunia sedang menunggu, berharap...” Kemudian dia berkata, “Apakah kamu buta, Nak?” sambil mengetuk dinding kapal dengan keras.
Richard tiba-tiba merasa mabuk laut—meskipun mereka tidak berada di laut. Atau mungkin itu hanya ketidakpastian. Dia menatap Nelayan dan bersiap dengan buku catatannya.

“Kamu ingin menemukan kayunya? Could, should, wood. Di sinilah kayunya. Tepat di sini. Ada di sekelilingmu. Kamu duduk di dalamnya.”
Dia mengetuk kapal itu lagi.

Richard mau tidak mau memerhatikan bahwa kapal tersebut tamplak cukup tua bagi seseorang yang katanya kaya.







“Bukan, maksud Tukang Kebun—maksud saya—kayu dari pepohonan. Saya sedamg mencari kayu dari pepohonan. Visi saya.”

Nelayan mengubah topik pembicaraan, “Akan kutunjukkan kepadamu cara menjadi nelayan yang lebih baik asal kamu berjanji untuk terfokus kepada menangkap ikan.”

“Tentu saja,” Richard menjawab sambil memegang buku catatan.

“Kalau begitu, ini.” Nelayan mematkan mesin dan mengeluarkan joran. Dia memberikannya kepada Richard. “Mulailah memancing.”

Richard mulai berbicara, “Saya tidak menyangka yang Anda maksud benar-benar menangkap ikan. Bisakah Anda jelaskan maksudnya? Mengapa saya harus menangkap ikan?”

“Sebaiknya kamu mulai mengajukan pertanyaan yang lebih baik, Nak. Alasan pertama kamu mendapatkan joran itu adalah karena mengetahui tanpa melakukan berarti belum mengetahui. Alasan kedua adalah







karena sekarang hampir waktunya makan siang dan aku lapar.”

Richard mengambil joran itu dan dengan tangan satunya dia menulis:

“12. Mengetahui tanpa
melakukan berarti belum mengetahui.”

Semakin dia belajar, semakin banyak yang tampaknya tidak diketahuinya. Maka, dia memutuskan bahwa inilah saatnya
melakukan sesuatu yang lebih. Dia
meletakkan buku catatannya dan bertanya, “Apa yang harus saya gunakan untuk menangkap ikan?”
“Pilihlah.” Nelayan memberikan sekotak rapala (kail yang dihias sebagai umpan
buatan) berwarna-warni yang indah. Saat Richard melihat pilihannya, dia segera
melihat satu yang paling disukainya, “Saya pilih yang itu.”





Nelayan tidak bergerak. Dia hanya didik memandangi sungai.

Richard menunggu sebentar. Kemudian bertanya, “Yang mana yang berfungsi paling biak?”

“Oh, kupikir kamu tak akan bertanya. Yang ini.” Dia mengambil rapala yang, terus terang saja, mirip boneka belalang berkaki tiga. Richard tidak ingin berdebat.

Nelayan memasang rapala itu. “Sekarang berdiri, tarik jorannya ke belakang seperti ini, dan...”

Tali pancingnya melayang ke depan dan rapalanya mendarat jauh dalam air.
“Sekarang, pelan-pelan mulailah menggulungnya kembali.” Richard melakukannya, dan ia kaget setelah beberapa saat ternyata tali pancingnya menegang. Dia terus menggulungnya, dengan kekuatan yang lebih besar. Pada saat diperlukan, Nelayan justru meninggalkannya dan turun ke
kabinnya di bawah dek.







“Pak Nelayan!” Richard berseru saat ikannya muncul di permukaan, “Tolong!”

Nelayan kembali dengan keranjang, dan menarik ikan itu dari air dengan tali pancingnya. “Halo, Sally! Senang bertemu denganmu lagi. Sapalah Richard.” Dia mengangguk kepada ikan itu ke arah Richard, kemudian melepaskannya dari pancing dan menjatuhkannya kembali ke air. Sally berenang menjauh.

“Anda kenal ikan itu?”

“Hanya lelucon kecil. Sallu adalah istriku. Sekarang, waktunya makan siang.”

Dia membuka keranjangnya untuk menyajikan sandwich, buah dan makanan pencuci mulut.

“Saya pikir Anda ingin makan ikan untuk makan siang.”

“Tidak. Banyak ikan di laut, kata mereka.
Atau dalam hal ini di sungai. Jadi, berakhir sudah pelajaran menjadi nelayan yuang lebih







baik. Sekarang, kamu perlu bertindak sesuai dengan hasrat terbesarmu dan berkomitmen untuk memancing ikan.”

“Tetapi, saya baru saja melakukannya!”
Richard memprotes.

“Yang kumaksud adalah ikan sesungguhnya. Keran uang. Tidak ada gunanya mengetahui jika tidak melakukan apa-apa.”

Richard mengambil sandwitch. “Bagaimana Anda merintis keran uang pertama Anda?”

“Seperti yang kukatakan, aku menjadi
nelayan yang lebih baik. Aku dulu berpikir TENTANG ikan. Saat menjadi nelayan yang lebih baik, aku mulai berpikir SEPERTI ikan. Itu berbeda. Akku mengejar ikan tiada henti. Akku adalah manajer penjualan pada waktu
itu, dan aku benci pekerjaanku—hanya
karena pekerjaan itu tak pernah henti. Terus-menerus mengejar pelanggan.”

“Saat menjadi nelayan yang lebih baik, aku terfokus kepada penciptaan mata kail yang lebih baik. Tentu saja, aku bisa membuat






yang lebih menarik. Saat kamu menciptakan daya tarik, kamu tidak perlu lagi mengejar. Maka, aku menginvestasikan waktuku untuk menciptakan nilai. Tidak ada kekayaan bila tidak ada nilai. Nilai adalah sungai di mana Kekayaan mengalir.”

Richard menuliskannya sambil terus mendengarkan:

“13. Nilai adalah sungai di
mana Kekayaan mengalir.”

“Aku melihat di lluar pekerjaanku produk-produk lain yang tampaknya menarik bagi orang-orang. Pada saat itu aku menjual jaket outdoor yang benar-benar tidak digemari di pasar. Maka, aku menginvestasikan waktuku untuk belajar lebih banyak tentang apa yang dibeli orang. Itu berarti aku juga menemui
para pedagang yang jauh lebih sukses
daripada aku.”

“Hanya dalam enam bulan, aku mempunyai cukup pengetahuan dan kenalan untuk





memulai toko ritelku sendiri di mana aku memilih pakaian yang aku tahu pasti akan terjual. Kemudian, setiap hari aku menambahkan nilai lebih kepada pelanggan dan penjual grosirku. Setiap hari aku
bertanya kepada diriku sendiri berapa banyak lagi nilai yang bisa kuberikan.”

“Aku menjadi karya terilhami yang sedang dalam proses. Toko itu begitu sukses
sehingga jaringan toko itu begitu sukses sehingga jaringan toko baru akan segera dibuka.”

“Apa maksud Anda dengan karya terilhami yang sedang dalam proses?”

Nelayan mengambil rapala tadi. “Kamu lihat ini? Seolah hanya butuh lima menit untuk membuat barang ini, tetapi sesungguhnya dibutuhkan lima tahun. Setiap hari aku memikirkan rapala yang lebih baik, merancangnya, melihat cara kerjanya, dan kemudian mencoba lagi.”

Richard ingat perkataan Tukang Leding:






“1. Pikirkan, tuliskan, lakukan,
tinjau kembali.”

“Jadi, rapala ini adalah karya terilhami yang sedang dalam proses. Karena rapala ini masih belum sempuarna, tidak akan pernah
sempurna, karen jika sempurna justru akan menganggu kesenangannya. Kesenangannya ada pada tindakan coba-coba. Jadi, begitu
pula aku. Aku adalah karya terilhami yang sedang dalam proses.”

Richard memikirkan kebun Tukang Kebun dan visi Tukang Leding. Keduanya sungguh-sungguh merupakan karya terilhami yang sedang dalam proses. Dia menambahkan ke dalam daftarnya:

“14. Menjadi karya terilhami
yang sedang dalam proses.”

“Tetapi saat mulai membuka toko Anda, apakah Anda tidak takut kepada
kemungkinan gagal?”



“Sama sekali tidak, aku berencana untuk gagal! Kamu harus berencana untuk gagal, Nak, atau kamu akan terus-menerus kecewa. Lihatlah ke sini.” Nelayan menunjuk ke sungai seolah sedan memimpin orkes. “Di sungai ini ada seribu ekor ikan. Saat aku membenamkan tali pancingku, aku berencana untuk gagal menangkap semua kecuali seekor di antaranya, yang berarti aku merencanakan tingkat kegagalan 99,8%. Jika tingkat kegagala itu menjadi 99,8%, aku akan menangkap dua ekor ikan, yang berarti menggandakan hasilku hari itu.”

“Saat melakukan percobaan dengan ide pemasaran bari, promosi ke toko baru, atau jajaran produk baru, aku selalu menginvestasikan waktu dan uang ku dengan harapan tingkat kegagalan yang tinggi, dan aku memastikan bahwa dengan tingkat kegagalan yang tinggi itu aku masih bisa mendapatkan imbalan yang masuk akal
untuk waktu dan uang yang telah kuinvestasikan. Jadi, hari demi hari aku
belajar secara menguntungkan.”

“Pernahkan Anda mendapatkan hasil yang lebih buruh daripada yang Anda perkirakan?”





“Tentu saja pernah. Sebelum menjadi nelayan yang lebih baik, hal itu terjadi setiap saat. Aku selalu mematok harapan dan target yang tinggi, dan aku selalu kecewa. Lebih buruk lagi, aku menganggarkan waktu dan uangku berdasarkan harapan yang tinggi tersebut. Maka, selain aku jadi kecewa, waktu dan uang yang kukira kuinvestasikan malah terbuang sia-sia.”

“Sekarang, saat aku telah menjadi nelayan yang lebih baik, aku berencana untuk gagal. Jadi, sering kali aku dibuat terkejut dan senang oleh hasilnya. Namun, aku masik tetap menghadapi kegagaln yang lebih besar daripada yang kuperkirakan, dan kegagalan itu kusambut. Karena setiap kegagalan adalah kesempatan baru untuk membuat mata kail yang jauh lebih baik.”

Richard terilhami. Nelayan telah gagal berkali-kali, lebih sering daripada ayahnya, dan begitulah caranya untuk menjadi sedemikian sukses. Dan dia senang melakukan hal itu.

Bagi Nelayan, pemelajaran benar-benar







sebuah permainan. Richard mau tidak mau berpikir bahwa beberapa orang mungkin bermain-main karena mereka tidak
mengetahui aturannya.

Nelayan itu sepertinya mengetahui apa yang ada dalam pikiran Richard dan berkata:

Berencanalah untuk kaya dengan sembilan kali kegagalan dari sepuluh kali percobaan. Dengan begitu, entah sukses atau gagal,
kamu masih tetap akan kaya. Jika kamu berencana untuk kaya dengan sembilan kali kesuksesan dari seouluh kali percobaan, kekayaan akan selalu menghindarimu—kecuali, tentu saja, juka kamu beruntung. Beberapa nelayan melakukannya. Mereka menunggu untuk mendapatkan
keberuntungan. Bagi mereka. Ini memang pernainan menunggu.”
Richard menulis:
“15. Berencanalah untuk
gagal.”







Sungai itu mulai melebar dan alirannya semakin lambat. Nelayan itu mengangkat kakinya dan berkata, “Sekarang aku punya pertanyaan untukmu. Apa yang kamu pelajari yang membuatmu menjadi melayan yang lebih baik?”

Richard baru akan menjawab, saat dia menghentikan dirinya. Dia tidak melakukan banyak hal kecuali melempar tali pancing dan menareik ikannya. Pada kenyataannya, dia mulai dengan mengambil mata kail yang
salah. Kemudian, dia ingat telah bertanya kepada Nelayan rapala mana yang terbaik
,
dan dia ingat apa yang ditulisnya setelah bertemu Dokter Mata:
“4. Mintalah dan kamu akan
menerima.”

“Saya belajar bertanya saat saya tidak tahu.”

“Saat kamu tidak tahu atau saat kamu tidak mau menginvestasikan waktumu untuk mencari tahu?”






“Yah, tentu saja saya tidak mau menginvestasikan lima tahun untuh mencari tahu.”

“Dan dalam situasi seperti itu, kepada siapa kamu harus bertanya?”

Richard tersenyum, “Saya akan bertanya kepada ‘karya terilhami yang sedang dalam proses’ yang berhasrat kepada hal-hal seperti memancing dengan rapala.”

“Tepat sekali. Kamu bisa mempercepat kemajuanmu dengan pesat dengan menginvestasikan waktumu dalam jaringan yang mencakup banyak karya terilhami yang sedang dalam proses. Itulah yang dilakukan oleh semua orang kaya. Dengan demikian, kamu menginvestasikan waktumu dalam pemelajaran yang betul-betul mendukung hasrat dan visimu sendiri.”

Richard mencoba memperjelas hal tersebut. “Jadi, Anda memutuskan untuk menjadi
karya terilhami yang sedang dalam proses dalam menciptakan nilai karena di situlah hasrat dan visi Anda. Kemudian, Anda akan







menemukan orang-orang semacam Tukang Leding untuk menciptakan sistem perledingan yang lebih baik dan Tukang Kebun untuk menciptakan kebun yang lebih baik, karena si situlah hasrat dan visi mereka?”

“Tepat sekali!”

“Tetapi, mengapa Anda mau membantu saya?”

“Karena akku tahu karya terilhami yang sedang dalam proses saat aku melihatnya.”

Richard mulai merasa dirinya sangat hebat. Tetapi, dia gelisah karena dia belum cukup berbuat sesuatu. Dia bertanya kepada
Nelayan:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi kaya saat ini?”

Nelayan tertawa kecil. “Mereka tidak membuat anak sembilan tahun seperti dulu.”
Dia mengetuk dinding kapal lagi. “Lihat kayunya, Nak. Di situlah kamu akan menemukan kekayaanmu.” Dia mengarahkan







kapalnya ke pinggir sungai, dan Richard melihat sebuah garasi kapal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar