Selasa, 14 Juni 2016

Bab 4 Tukang Leding



Bab 4
Tukang Leding


Dia tidak perlu berjalan jauh. Saat dia
merenungkan apakah ucapan Dokter Mata
masuk akal atau tidak, dia bertemu seorang
tukang leding yang sedang berdiri dalam
salah satu kolam air mancur. Dia sepertinya
sedang menari.

"Anda pasti Tukang Leding. Dokter Mata
menyuruh saya menemui Anda. Bisakah
Anda membantu saya menjadi kaya?"

Tukang Leding memandang Richard dan
berkata, "Tentu saja! Masuklah ke kantorku."

Richard sejenak diam, kemudian melepaskan
sepatunya, dan sambil memegang buku
catatannya tinggi-tinggi melangkah masuk ke
dalam kolam air mancur itu.

"Apakah kita harus bicara di sini?"

Tukang Leding memandangnya dengan heran.
"Bagaimana kamu akan belajar tentang
kekayaan jika kamu tidak mengetahui
bagaimana rasanya?"

"Berdiri dalam kolam air mancur adalah
kekayaan?"

"Bukan, tetapi belajar bagaimana menjadi
basah tanpa merasa takut, ya. Kekayaan ada
di sekitar kita tetapi sebagian besar dari kita
terlalu sibuk mencarinyua untuk
memerhatikannya. Dan ketika kita
mendekatinya, kita tiba-tiba takut basah."

Richard mempunyai satu pertanyaan cerdik
untuk menanggapinya,"Bagaimana jika saya
tidak bisa berenang?"

"Maka itu adalah tambahan alasan untuk
menjadi basah dan belajar. Kamu pikir buku
catatan itu akan mengajarimu berenang?"

Richard melihat-lihat buku catatannya dan
dan menjawab, "Pikirkan, tuliskan."
Tukang Leding menjawab, "Pikirkan, tuliskan,
lakukan, tinjau kembali." Dia berbalik dan
mengambil kunci pas. "Pemelajaran adalah
permainan. Ingat itu. Tentu saja, kamu perlu
merencaranakan lompatanmu di daratan dan
menuliskannya, tetapi kemudian kamu harus
melompat ke dalam air dan tenggelam atau
berenang. Kemudian keluarlah dan tinjau
kembali apa yang terjadi. Pikirkan bagaimana
kamu bisa berkembang. Kemudian lakukan
berulang-ulang. kamu akan belajar dengan
cepat. Kamu hanya akan membohongi dirimu
sendiri jika belajar dalam keadaan aman dan
kering."

Richard memberi tambahan pada poin
pertama di daftarna, dan juga menambah
satu poin baru:
"1. Pikirkan, tuliskan, lakukan,
tinjau kembali."
"5. Pemelajaran adalah
permainan."










"Jadi apa visi anda, dan sudahkan visi itu
membuat Anda kaya?"
"Tentu saja sdah. Aku seorang tukang
leding. Aku senang menjadi tukang leding.
Visiku adalah memiliki pembangkit listrik
tenaga air untuk menggantikan pembangkit
bertenaga bahan bakar. kamu tahu, 100%
mandiri."

"Dan begitukah cara Anda menjadi kaya?"
Richard bertanya dengan agak kebingungan.

Aku menjadi kaya dengan menjadi tukang
leding yang lebih baik."

Richard menunggu kelanjutannya. Apa yabng
dikatakannya mirip cerita Dokter Mata.

"Aku memiliki bisnis perledingan. Saat orang-
orangku melauyani berbagai rumah, aku
memulai bisnis pelayanan pemeliharaan dan
kelistrikan., Sejak itu aku menjalin hubungan
rekan dengan seoran manajer hebat dan
kami mewaralabakan pelayanan kami. Aku
menginvestasikan kembali sebagian
pendapatanku untuk meluncurkan


perusahaan pengembang properti yang
sekarang mampu menghasilkan arus kas dua
kali lipat daripada bisnis waralabaku."

Sekitar 40% arus kas bulanan yang kuambil
dari bisnisku mampu mencukupi
pengeluaranku, dan sisanya masuk ke
incertasiku. Aku juga menanamkan 20% untuk
proyek kesayangankku, Pembangkit Tenaga
Air."

Tukang Leding ini tampaknya mempunyai
kejelasan dan fokus yang bagus. Tetapi,
Richard masih belum sepenuhnya mengerti
bagaimana visinya telah menjadikannya kaya.
Pada kenyataannya, visi tersebut sepertinya
merugikannya. Tetapim, sebelum sampai di
sana, dia punya pernyataan penting yang
ingin disampaikan: "Tampaknya Anda
menjadi kaya karena Anda menjadi seorang
pengusaha yang lebih baik, bukan tukang
leding yang lebih baik."

Tukang Leding tertawa. "Aku tidak memiliki
hasrat untuk berbisnis. Aku berhasrat
terhadap perledinganm Aku menjadi tukang
leding yang lebih baik."

Richard menunjukkan tatapan kebingungan.

"Aku akan menguraikannya. Aku mengenal
perledingan secara alami. Aku bisa
menyelesaikan masalah-masalah perledingan.
Aku menyukai perledingam. Kalau tentang
menghasilkan uang, manajemen, dan segala
yagn berhubungan dengan bisnis, aku jadi
tidak tertarik. Terlalu membosankan."

"Maka, aku memutuskan untuk MENJADI
tukang leding yang lebih baik. AKu
menyalakan gairahku dan menebarkannya ke
aspek-aspek pentikng dalam hidupku. Menjadi
kaya itu penting maka saat aku melihat
penciptaan kekayaanku sebagai sistem
perledingan sederhana aku melakukannya
dengan penuh gairah. Hal itu menyenangkan!
Hal itu harus menyenangkan, Nak."

Dia duduk di pinggiran kolam air mancur dan
mulai menggambar di buku caratan Richard.
Dia menggambar:





Pekerjaan KERAN UANG
Aluran Pembuangan


"Nah, yang aku sadari adalah, berapapun
uang yang kuhasilkan uang tersebut selalu
habis. Ini keran uangku dan semua uangnya
jatuh ke saluran pembuangan. Aku
menghabiskan semuanya dan sebagai tukang
leding yang buruk yang terpikir olehku
adalah membuka keran lebih lebar,. Dengan
demikian, semakin banyak uang yang jatuh
ke saluran pembuangan."















Bagi Richard, kata-kata itu seperti kata-kata
ayahnya. Sepertinya itu pula yang terjadi
kepada semua ember air dari Sumur
Kekayaan.

"Maka, sebagai tukang leding yang lebih baik,
aku mengalokasikan sebagian uang tersebut
ke tabungan, Aku mengisi ember dengan air
tetapi tidak terlalu banyak. Kemudian,
sebagai tukang leding yang jauh lebih baikm
aku mengincertasikan sebagian uangku.
Sementara tabunganku tetap tersimpan di
embvern imvestasiku menghasilkan keran uang-
keran uang baru. uangku mulai
menghasilkan uang."

"Segera menjadi jelas bagiku bahwa setiap
tetes yang habis tidak akan pernah kembali.
sementara setiap tetes yang diinvestasikan
dan diinvestsikan kembali mulai memberiku
laba investasi yang terus meningkat. Sebagai
tukang leding yang baikm aku tinggal
memastikan bahwa persentase arus kasku
yang terus meningkat itu diinvestasikan. Hal
itu berarti investasi pada bisnisku, orang-
orangku, dan diriku sendiri. Aku mulai
dengan menginvestasikan 10% dari arus

kasku, dan setlah tiga tahun nilainya
meningkat menjadi 40%, dan setelah enam
tahun mencapai 60%."

























"Keran uangku dari investasi dan bisnis juga
menjadi lebih besar daripada keran uang dari
usahaku sendiri. Maka, aku bisa berhenti
bekerja dalam bisnisku dan mulai
mengembangkannya, tentu saja, semua itu
tiak akan terjadi bila aku tidak memutuskan
untuk menjadi tukang leding yang lebih
baik."

Richard tidak mudah diyakinkan. Dia tahu
ayahnya menyimpan sedikit uang setiap
bukan dan mencoba menginvestasikannya
kembali. Tetapim sayanya tidak memiliki
cukup uang untuk memulainya, dan dia
sepertinya kehilangan uang yang
diinvestasikannya sebanyak yang dia
hasilkan.

"Saya bisa memahami sistem perledingan
Anda berjalan dengan baik jika ada hasil
uang keluar dari keran uang Anda. Tetapi,
bagaimana jika yang keluar hanya tetes-tetes
kecil, seperti keran uang ayah saya. dia kan
butuh waktu seumur hidupnya untuk
mengisi ember investasinya dan membuat
keran uang uang lain. Bahkan sekkalipun
demikian, keran yang lain itu hanya akan
menetes sedikit demi sedikit."
Tukang Leding itu tersenyum lebar. "Jadi,
beri aku pertanuyaan yang lebih baik."
Richard berpikir. dia telah mengatakan
kepada Perempuan Tua bahwa dia bersedia
bekerja kerasm tetapi dia tidak menyangka
akan sekeras ini. Dia berpikir lebih keras lagi.

"Bagaimana saya bisa menciptakan keran
uang tanpa uang?"

"Sangat bagus. Kamu bisa mulai dengan
membuiat keran lain yang lebih berharga
faripada keran uang."

"Ehm ... emassss?"

"Waktu. Kita semua memiliki jumlah waktu yang
sama dari keran waktu. Ironisnya mereka yang
lebih menghargai uang daripada waktu tidak
akan pernah menajdi kaya. Mereka yang lebik
menghargai waktu daripada uangm cepat sekali
menarik kekayaan."

Richard memikirkan hal itu tanpa sungguh-
sunggguh memahaminya. Dia duduk, siap untuk
menulis sesuatu yang penting.


Aku menyadari bahwa dulu aku
MENGHABISKAN uangku, bukan
MENGINVESTASIKANNYA. Aku juga
menyadari bahwa aku enghabiskan WAKTUKU,
bukan menginvestasikannya. Sebagian besar
waktuku terbuang sia-sia dengan kegiatan
yang tidak terlalu berharga. Maka, aku
menciptakan sistem perledingan yang lebih
baik. " Dia menggambarkan sistem
perledingannya.

"Nah, 24 tetes jatuh dari keran ini setiap
hari. Jika kamu menghabiskan waktu itu
untuk melakukan kegiatan yang tiak
menambah nilau apa pun dalam hidupmu
selain untuk membuatmu nyaan sementara
atau untuk mengisi waktu, tetesan itu habis.
tetsan itu hilang dan tidak akan pernah kembali lagi."










Richard tiba-tiba menyadari bahwa sebagian
besar waktunuya telah dihabiskannya dan dia
pun menulis:

"6. Investasikan waktu lebih
banyak. Habiskan lebih
sedikit."

"7. Investasikan uang lebih
banuyak. Habiskan lebih
sedikit."

"Banyak orang senang mengambil dan
menukarkan waktunya dengan uang.
Pertukaran itu disebut pekerjaan sebuah
barter. Banyak orang menganggap mereka
sedang meninvestasikan waktunya dengan
meningkatkan keterampilan dan pengalamam
kerjanya. Pada akhirnya, mereka memang
mendapatkan semakin banya uang untuk
setiap tetes waktunya. Tetapi, itu adalah




investasi yang salah, karena begitu
pertukarannya berhenti--begitu kamu kerkata
tidak ada lagi waktu yang bisa ditukarkan
atau perusahaan berkata tidak ada lagi uang
untuk ditukarkan---pipanya enjadi kering.
Maka, aku juga menyebut investasi itu
bernilai rendah."

Richard tidak tahu apakan dia merasa
gembira atau sedih. Ayahnya telah bekerja
begitu keras untuk menjaga supaya keran
uang mereka tetap terbuka, dan sekarang
saat dia muak dan bosan, keran uang mereka
menjadi kering.Imbalan untuk seluruh kerja
kerasnya adalah tubuh yabng lelah dan keplala
yang sakit.

Tukang Leding melanjutkan. "Maka, sebagai
tukang leding yang lebih baik, aku mulai
mengalihkan tetesan waktuku untuk
penggunaan yang bernilai tinggi--untuk
investasi waktu. Setiap tetes yang
diinvestasikan memberiku imbalan, terus-
menerus, seumur hidup! Karena di sinilah
waktumu menciptakan keran uang baru DAN
menciptakan keran waktu baru!"


Richard menyela, "Tetapi, bagaimana Anda
mengetahui apakan Anda menghabiskan atau
menginvestasikan waktu?"

"Saat kamu menghabiskan waktumu. kamu
bisa saja mendapatkan sesuatu, tetapi kamu
tidak membangun apapun. Saat kamu
menginvestasikan waktumu, kamu
mengakhiri harimu atau minggumu dengan
membangun sesuatu yang kekal. Akan
kutunjukkan apa yang kumaksud."

Dia menambahkan ke diagram
perledingannya.

"Saat kamu menginvestasikan waktu untuk
dirimu sendiri kamu menginvestasikan
waktu untuk kesehatanmu dan kegiatan
berkualitas yang memperkaya hidupmu.
Pengalaman baru dan energi serta vitalitas
lebih besar yang membuatmu semakin kuat
setiap hari."

Richard tiba-tiba menyuadari bahwa alasan
ayahnya muak dan bosan adalah karena pipa
waktunya selalu tertutup. Ayahnya
menganggap olahraga dan mencoba hal baru

menyia-nyiakan waktu saja. Maka, dia
memilih untuk menutup pipanya. Sekarang,
dia tidak memiliki uang dan dia juga telah
menghabiskan waktunya.

"Saat kamu berinvestasi pada
pemelajaranmu, yang aku maksud bukan
pemelajadan untuk MELAKUKAN perledingan
yang lebih baikm, melainkan pemelajaran
untuk MENJADI tukang leding yang lebih
baik. Pelajari strategi, kebiasaanm dan pola
pikir orang kaya--karena pola pikirnya
berbeda."

"Pelajari cara mengubah tingkat fokus dan
kejelasanmum Pahamilah visimu. Itu baru
investasi waktu yang sesungguhnya. Itulah
yang sedang kamu lakukan saat ini."

Richard memikirkannya sembari memegang
buku. Sudahkan dia menganggap apa yang
sedang dilakukannya saat ini adalah investasi
waktu?" Sudah ataupun belum, yang pasti
jari-jari kakinya mulai mengerut dalam air.

"Saat kamu berinbestasi untuk membanghun
jaringanmu, kamu menciptakan dan
membangun jaringan teman, kawan sebaya,
dan kenalan. Waktu yang kamu investasikan
untuk memelihara jaringanmu akan
memperoleh balasan yang lebih besar. Suatu
saat kamu mungkin akan membutuhkan
dukungan orang-orang yang kamu kenal, dan
orang-orang yang mereka kenal. Pengaruhmu
tergantung sepenuhnya pada jaringanmu."

"Saat kamu berinvestasi pada investasimu,
yaitu pada inbestasi uang tunaim properti, dan
bisnis, yang kumaksud bukan menghabiskan
waktu untuk mengerjakannya, melainkan
meninvestasikan waktu untuk memilih
investasi dan menciptakan bisnismu, serta
membangun keduanya. Investasikan
waktumu utnuk memilih orang, kesempatan,
produk, dan pelayanan yang tepat--membuat
sistem perledingan yang tepat yabg akan
egektif bagimu. Waktu yang digunakan itu
langsung berubah menjadi keran uang baru.
Kamu mengubah waktumu menjadi sumber
uang yang terus-menerus mengalir."





Richard mengangguk. Meski telah bekerja
sangat keras, ayahnya masih tetap menajdi
bagian dari perledingan. Saat dia berhenti
bekerja, seluruh sistem perledingan pun
terhenti Untuk masalah invbestasi dia tahu
ayahnya mencoba menyimpan uang dan
mencoba menginvestasikan sebagian, tetapi
ayahnya sama sekali tidak pernah
menginvestasikan waktu untuk mendapatkan
pengetahuan atau membangun jaringan.
Maka, tidak mengherankan jika ayahnya
terus-menerus kehabisan tenaga. Ayahnya
kehilangan gairah.

"Jika kamu menginvestasikan waktu, waktu
bukanlah uang. Waktu lebih bverharga
daripada uang. Saat kamu meninvestasikan
waktu untuk belajar cara memilih investasi
uyang lebih bagusm pelajaran itu bisa
diterapkan berulang kali sepanjang hidupmu.
Pelajaran itu tidak akan pernah hilang.
Imbalan yabng kamu dapatkan dari setiap
tets waktu yang kamu habiskan dalam hal
ini sangat luar biasa. Waktu yang kamu
Habiskan berubah menjadi arus uang baru
uang terus-menerus mengalir."



"Kamu tahu sekarang bahwa aku tidak bisa
membangun bisnis dan menanamkan
investasi sebelu aku menjadi tukang leding
yang lebih baik. Aku bisa melakukannya
setelah menginvestasikan cukup waktu dalam
bidang yang tepat."

Tukang Leding berhenti sejenak untuk
menekankan, dan kemudian berkata,
"Tunjukkan kepadaku bagaimana orang
menghabiskan dan menginvestasikan
waktunya dan aku akan menunjukkan
kepladamu bagaimana masa depannya."

Richard menggambarkan diagram lingkaran
tentang bagaimana dia menghabiskan dan
menginvestasikan waktu selama ini. Hal
tersebut membuat depresi. Ia lalu
menggambar sebuah diagram lagi untuk
ayahnya.








Pada titik itulah anak laki-laki itu menuadari
bahwa ia telah meningkatkan kejelasannua
secara luar biasa. Dia benar-benar sedang
belajar. Doa menggambarkan diagram lingkaran
tentang bagaimana dia menghabiskan
waktunya hari ini:




Tukang Leding menggunakan kunci pas
untuk melonggarkan sebuah keran dan
sebuah mlut pipa air mancur memancarkan
air. Dia bertanya, "Maukah kamu melihat
sesuatu uang ajaib?"

"Saya kira saya baru saja menyaksikannya.
Bukankah mengubah waktu menjadi uang
adalah keajaiban? Hal itu berarti saya bisa
mendapatkan seluruh kekauyaann uang saya
inginkan hanya dengan meninvestasikan
waktu dengan tepat."

"Tentu saja, itulah keajaiban. Hal itu juga
merupakan perledingan yang bagus.
Sekarang temuilah Tkang Kebun."


"Terimakasih, tetapi sebelum pergi, saya
punya sebuah pertanyaan. Apakah waktu dan
uang yag Anda habiskan untuk visi Anda
merupakan investasi jika Anda tidak
mendapatkan hasil? Dan bagaimana visi
Anda membuat Anda kaya?"

"Well, well, well!" Tukang Leding itu pun
tersenyum. "Pertanyaanmu semakin bagus.
Tetapi, kali ini kupikir kamu dusah
mendapatkan jawabannuya."

Richard pergi dengan sedikit kebingungan.
Jika dia telah mendapatkan jawabannya.
mengapa dia tidak mengetahuinya. Dia ingat
apa uang dikatakan Dokter Mata, dan
memutuskan untuk membanuanya kembali:

"3. Apa yang kamu lihat
selalu merupakan apa yang
kamu dapatkan."

Dia memutuskan untuk bekerja jauh lebih
keras daropada uang dia janjikan kepada
Perempuan Tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar