Bab 4
Tukang Leding
Dia
tidak perlu berjalan jauh. Saat dia
merenungkan
apakah ucapan Dokter Mata
masuk
akal atau tidak, dia bertemu seorang
tukang
leding yang sedang berdiri dalam
salah
satu kolam air mancur. Dia sepertinya
sedang
menari.
"Anda
pasti Tukang Leding. Dokter Mata
menyuruh
saya menemui Anda. Bisakah
Anda
membantu saya menjadi kaya?"
Tukang
Leding memandang Richard dan
berkata,
"Tentu saja! Masuklah ke kantorku."
Richard
sejenak diam, kemudian melepaskan
sepatunya,
dan sambil memegang buku
catatannya
tinggi-tinggi melangkah masuk ke
dalam
kolam air mancur itu.
"Apakah
kita harus bicara di sini?"
Tukang
Leding memandangnya dengan heran.
"Bagaimana
kamu akan belajar tentang
kekayaan
jika kamu tidak mengetahui
bagaimana
rasanya?"
"Berdiri
dalam kolam air mancur adalah
kekayaan?"
"Bukan, tetapi belajar bagaimana menjadi
basah tanpa merasa
takut, ya. Kekayaan ada
di sekitar kita tetapi sebagian besar dari kita
terlalu sibuk
mencarinyua untuk
memerhatikannya. Dan
ketika kita
mendekatinya, kita
tiba-tiba takut basah."
Richard
mempunyai satu pertanyaan cerdik
untuk menanggapinya,"Bagaimana jika saya
tidak
bisa berenang?"
"Maka
itu adalah tambahan alasan untuk
menjadi
basah dan belajar. Kamu pikir buku
catatan
itu akan mengajarimu berenang?"
Richard melihat-lihat buku catatannya dan
dan
menjawab, "Pikirkan,
tuliskan."
Tukang
Leding menjawab, "Pikirkan, tuliskan,
lakukan, tinjau kembali."
Dia berbalik dan
mengambil
kunci pas. "Pemelajaran adalah
permainan. Ingat itu. Tentu saja, kamu perlu
merencaranakan
lompatanmu di daratan dan
menuliskannya,
tetapi kemudian kamu harus
melompat
ke dalam air dan tenggelam atau
berenang.
Kemudian keluarlah dan tinjau
kembali
apa yang terjadi. Pikirkan bagaimana
kamu
bisa berkembang. Kemudian lakukan
berulang-ulang.
kamu akan belajar dengan
cepat.
Kamu hanya akan membohongi dirimu
sendiri
jika belajar dalam keadaan aman dan
kering."
Richard
memberi tambahan pada poin
pertama
di daftarna, dan juga menambah
satu
poin baru:
"1.
Pikirkan, tuliskan, lakukan,
tinjau
kembali."
"5.
Pemelajaran adalah
permainan."
"Jadi
apa visi anda, dan sudahkan visi
itu
membuat
Anda kaya?"
"Tentu
saja sdah. Aku seorang tukang
leding.
Aku senang menjadi tukang leding.
Visiku
adalah memiliki pembangkit listrik
tenaga
air untuk menggantikan pembangkit
bertenaga
bahan bakar. kamu tahu, 100%
mandiri."
"Dan
begitukah cara Anda menjadi kaya?"
Richard
bertanya dengan agak kebingungan.
“Aku
menjadi kaya dengan menjadi tukang
leding
yang lebih baik."
Richard
menunggu kelanjutannya. Apa yabng
dikatakannya
mirip cerita Dokter Mata.
"Aku memiliki bisnis perledingan. Saat orang-
orangku melauyani berbagai rumah, aku
memulai
bisnis pelayanan pemeliharaan dan
kelistrikan.,
Sejak itu aku menjalin hubungan
rekan dengan seoran manajer hebat dan
kami
mewaralabakan pelayanan kami. Aku
menginvestasikan kembali sebagian
pendapatanku
untuk meluncurkan
perusahaan
pengembang properti
yang
sekarang
mampu menghasilkan arus kas dua
kali
lipat daripada bisnis waralabaku."
“Sekitar
40% arus kas bulanan yang kuambil
dari
bisnisku mampu mencukupi
pengeluaranku,
dan sisanya masuk ke
incertasiku. Aku juga menanamkan 20% untuk
proyek
kesayangankku, Pembangkit Tenaga
Air."
Tukang
Leding ini tampaknya mempunyai
kejelasan dan fokus yang bagus. Tetapi,
Richard
masih belum
sepenuhnya mengerti
bagaimana
visinya telah menjadikannya kaya.
Pada
kenyataannya, visi tersebut sepertinya
merugikannya.
Tetapim, sebelum sampai di
sana,
dia punya pernyataan penting yang
ingin
disampaikan: "Tampaknya Anda
menjadi
kaya karena Anda menjadi seorang
pengusaha
yang lebih baik, bukan tukang
leding
yang lebih baik."
Tukang
Leding tertawa. "Aku tidak memiliki
hasrat
untuk berbisnis. Aku berhasrat
terhadap
perledinganm Aku menjadi tukang
leding
yang lebih baik."
Richard
menunjukkan tatapan kebingungan.
"Aku akan menguraikannya. Aku mengenal
perledingan
secara alami. Aku bisa
menyelesaikan
masalah-masalah perledingan.
Aku
menyukai perledingam. Kalau tentang
menghasilkan
uang, manajemen, dan segala
yagn
berhubungan dengan bisnis, aku jadi
tidak
tertarik. Terlalu membosankan."
"Maka,
aku memutuskan untuk MENJADI
tukang
leding yang lebih baik. AKu
menyalakan
gairahku dan menebarkannya ke
aspek-aspek pentikng dalam hidupku.
Menjadi
kaya itu penting maka saat aku melihat
penciptaan
kekayaanku sebagai sistem
perledingan sederhana aku melakukannya
dengan
penuh gairah. Hal itu menyenangkan!
Hal
itu harus menyenangkan, Nak."
Dia
duduk di pinggiran kolam air mancur dan
mulai
menggambar di buku caratan Richard.
Dia
menggambar:
Pekerjaan
KERAN UANG
Aluran Pembuangan
"Nah,
yang aku sadari adalah, berapapun
uang yang kuhasilkan uang tersebut selalu
habis. Ini keran uangku dan semua uangnya
jatuh
ke saluran pembuangan. Aku
menghabiskan semuanya dan sebagai tukang
leding
yang buruk yang
terpikir olehku
adalah membuka keran lebih lebar,. Dengan
demikian,
semakin banyak uang yang jatuh
ke
saluran pembuangan."
Bagi
Richard, kata-kata itu seperti kata-kata
ayahnya.
Sepertinya itu pula yang terjadi
kepada
semua ember air dari Sumur
Kekayaan.
"Maka, sebagai tukang leding
yang lebih baik,
aku
mengalokasikan sebagian uang tersebut
ke tabungan, Aku mengisi ember
dengan air
tetapi
tidak terlalu banyak. Kemudian,
sebagai
tukang leding yang jauh lebih baikm
aku
mengincertasikan sebagian uangku.
Sementara
tabunganku tetap tersimpan di
embvern
imvestasiku menghasilkan keran uang-
keran
uang baru. uangku mulai
menghasilkan
uang."
"Segera
menjadi jelas bagiku bahwa setiap
tetes
yang habis tidak akan
pernah kembali.
sementara
setiap tetes yang diinvestasikan
dan
diinvestsikan kembali mulai memberiku
laba
investasi yang terus meningkat. Sebagai
tukang
leding yang baikm aku
tinggal
memastikan
bahwa persentase arus kasku
yang
terus meningkat itu diinvestasikan. Hal
itu
berarti investasi pada bisnisku, orang-
orangku,
dan diriku sendiri. Aku mulai
dengan
menginvestasikan 10% dari arus
kasku,
dan setlah tiga tahun nilainya
meningkat
menjadi 40%, dan setelah enam
tahun
mencapai 60%."
"Keran uangku dari investasi dan bisnis juga
menjadi
lebih besar daripada keran uang dari
usahaku
sendiri. Maka, aku bisa berhenti
bekerja
dalam bisnisku dan mulai
mengembangkannya,
tentu saja, semua itu
tiak
akan terjadi bila aku tidak memutuskan
untuk
menjadi tukang leding yang lebih
baik."
Richard
tidak mudah diyakinkan. Dia tahu
ayahnya
menyimpan sedikit uang setiap
bukan
dan mencoba menginvestasikannya
kembali.
Tetapim sayanya
tidak memiliki
cukup
uang untuk memulainya, dan dia
sepertinya kehilangan uang yang
diinvestasikannya
sebanyak yang dia
hasilkan.
"Saya
bisa memahami sistem perledingan
Anda berjalan dengan baik jika ada hasil
uang
keluar dari keran uang Anda. Tetapi,
bagaimana
jika yang keluar hanya tetes-tetes
kecil,
seperti keran uang ayah saya. dia kan
butuh
waktu seumur hidupnya untuk
mengisi
ember investasinya
dan membuat
keran
uang uang lain. Bahkan sekkalipun
demikian,
keran yang lain itu hanya akan
menetes sedikit demi sedikit."
Tukang
Leding itu tersenyum lebar. "Jadi,
beri
aku pertanuyaan yang lebih baik."
Richard
berpikir. dia telah mengatakan
kepada
Perempuan Tua bahwa dia bersedia
bekerja
kerasm tetapi dia
tidak menyangka
akan
sekeras ini. Dia berpikir lebih keras lagi.
"Bagaimana
saya bisa menciptakan keran
uang
tanpa uang?"
"Sangat
bagus. Kamu bisa mulai dengan
membuiat
keran lain yang lebih berharga
faripada
keran uang."
"Ehm
... emassss?"
"Waktu.
Kita semua memiliki jumlah waktu yang
sama dari keran waktu. Ironisnya mereka yang
lebih
menghargai uang daripada waktu tidak
akan
pernah menajdi kaya. Mereka yang lebik
menghargai
waktu daripada uangm cepat sekali
menarik
kekayaan."
Richard
memikirkan hal itu tanpa sungguh-
sunggguh
memahaminya. Dia duduk, siap untuk
menulis
sesuatu yang penting.
“Aku
menyadari bahwa dulu aku
MENGHABISKAN uangku, bukan
MENGINVESTASIKANNYA.
Aku juga
menyadari
bahwa aku enghabiskan WAKTUKU,
bukan
menginvestasikannya. Sebagian besar
waktuku
terbuang sia-sia dengan kegiatan
yang
tidak terlalu berharga. Maka, aku
menciptakan
sistem perledingan yang lebih
baik. " Dia menggambarkan sistem
perledingannya.
"Nah,
24 tetes jatuh dari keran ini setiap
hari.
Jika kamu menghabiskan waktu itu
untuk
melakukan kegiatan yang tiak
menambah nilau apa pun dalam hidupmu
selain
untuk membuatmu nyaan sementara
atau
untuk mengisi waktu, tetesan itu habis.
tetsan
itu hilang dan tidak akan pernah
kembali lagi."
Richard
tiba-tiba menyadari
bahwa sebagian
besar
waktunuya telah dihabiskannya dan dia
pun
menulis:
"6. Investasikan
waktu lebih
banyak. Habiskan lebih
sedikit."
"7. Investasikan
uang lebih
banuyak. Habiskan lebih
sedikit."
"Banyak
orang senang mengambil dan
menukarkan
waktunya dengan uang.
Pertukaran
itu disebut pekerjaan
sebuah
barter.
Banyak orang menganggap mereka
sedang
meninvestasikan waktunya dengan
meningkatkan
keterampilan dan pengalamam
kerjanya.
Pada akhirnya, mereka memang
mendapatkan
semakin banya uang untuk
setiap
tetes waktunya. Tetapi, itu
adalah
investasi
yang salah, karena begitu
pertukarannya
berhenti--begitu kamu kerkata
tidak
ada lagi waktu yang bisa ditukarkan
atau
perusahaan berkata tidak ada lagi uang
untuk
ditukarkan---pipanya enjadi kering.
Maka,
aku juga menyebut investasi itu
bernilai
rendah."
Richard
tidak tahu apakan dia merasa
gembira atau sedih. Ayahnya telah bekerja
begitu
keras untuk menjaga supaya keran
uang
mereka tetap terbuka, dan sekarang
saat
dia muak dan bosan, keran uang mereka
menjadi
kering.Imbalan untuk seluruh kerja
kerasnya
adalah tubuh yabng lelah dan keplala
yang
sakit.
Tukang
Leding melanjutkan. "Maka, sebagai
tukang
leding yang lebih baik, aku mulai
mengalihkan
tetesan waktuku untuk
penggunaan
yang bernilai tinggi--untuk
investasi
waktu. Setiap tetes
yang
diinvestasikan
memberiku imbalan, terus-
menerus,
seumur hidup! Karena di sinilah
waktumu
menciptakan keran uang baru DAN
menciptakan
keran waktu baru!"
Richard
menyela, "Tetapi, bagaimana Anda
mengetahui
apakan Anda menghabiskan atau
menginvestasikan
waktu?"
"Saat kamu menghabiskan waktumu. kamu
bisa
saja mendapatkan sesuatu, tetapi kamu
tidak
membangun apapun. Saat kamu
menginvestasikan
waktumu, kamu
mengakhiri
harimu atau minggumu dengan
membangun
sesuatu yang kekal. Akan
kutunjukkan
apa yang kumaksud."
Dia
menambahkan ke diagram
perledingannya.
"Saat
kamu menginvestasikan waktu untuk
dirimu sendiri kamu menginvestasikan
waktu
untuk kesehatanmu dan kegiatan
berkualitas
yang memperkaya hidupmu.
Pengalaman
baru dan energi serta vitalitas
lebih
besar yang membuatmu semakin kuat
setiap
hari."
Richard
tiba-tiba menyuadari bahwa alasan
ayahnya
muak dan bosan adalah karena pipa
waktunya
selalu tertutup. Ayahnya
menganggap
olahraga dan mencoba hal baru
menyia-nyiakan
waktu saja. Maka, dia
memilih
untuk menutup pipanya. Sekarang,
dia
tidak memiliki uang dan dia juga telah
menghabiskan
waktunya.
"Saat
kamu berinvestasi pada
pemelajaranmu,
yang aku maksud bukan
pemelajadan
untuk MELAKUKAN perledingan
yang
lebih baikm, melainkan pemelajaran
untuk
MENJADI tukang leding yang lebih
baik.
Pelajari strategi, kebiasaanm dan pola
pikir
orang kaya--karena pola pikirnya
berbeda."
"Pelajari cara mengubah
tingkat fokus dan
kejelasanmum
Pahamilah visimu. Itu baru
investasi
waktu yang sesungguhnya. Itulah
yang
sedang kamu lakukan saat ini."
Richard
memikirkannya sembari memegang
buku.
Sudahkan dia menganggap apa yang
sedang
dilakukannya saat ini adalah investasi
waktu?"
Sudah ataupun belum, yang pasti
jari-jari
kakinya mulai mengerut dalam air.
"Saat
kamu berinbestasi untuk membanghun
jaringanmu,
kamu menciptakan dan
membangun
jaringan teman, kawan sebaya,
dan
kenalan. Waktu yang
kamu investasikan
untuk
memelihara jaringanmu akan
memperoleh
balasan yang lebih besar. Suatu
saat
kamu mungkin akan membutuhkan
dukungan
orang-orang yang kamu kenal, dan
orang-orang
yang mereka kenal. Pengaruhmu
tergantung
sepenuhnya pada jaringanmu."
"Saat
kamu berinvestasi pada investasimu,
yaitu
pada inbestasi uang tunaim properti, dan
bisnis,
yang kumaksud bukan menghabiskan
waktu
untuk mengerjakannya, melainkan
meninvestasikan
waktu untuk memilih
investasi
dan menciptakan bisnismu, serta
membangun
keduanya. Investasikan
waktumu
utnuk memilih orang, kesempatan,
produk,
dan pelayanan yang tepat--membuat
sistem
perledingan yang tepat yabg akan
egektif
bagimu. Waktu yang digunakan itu
langsung
berubah menjadi keran uang baru.
Kamu
mengubah waktumu menjadi sumber
uang
yang terus-menerus mengalir."
Richard
mengangguk. Meski telah bekerja
sangat
keras, ayahnya masih tetap menajdi
bagian
dari perledingan. Saat dia berhenti
bekerja,
seluruh sistem perledingan pun
terhenti Untuk masalah invbestasi dia tahu
ayahnya
mencoba menyimpan uang dan
mencoba
menginvestasikan sebagian, tetapi
ayahnya
sama sekali tidak pernah
menginvestasikan
waktu untuk mendapatkan
pengetahuan
atau membangun jaringan.
Maka,
tidak mengherankan jika ayahnya
terus-menerus
kehabisan tenaga. Ayahnya
kehilangan
gairah.
"Jika
kamu menginvestasikan waktu, waktu
bukanlah
uang. Waktu lebih bverharga
daripada
uang. Saat kamu meninvestasikan
waktu
untuk belajar cara memilih investasi
uyang
lebih bagusm pelajaran itu bisa
diterapkan berulang kali sepanjang hidupmu.
Pelajaran
itu tidak akan pernah hilang.
Imbalan
yabng kamu dapatkan dari setiap
tets
waktu yang kamu habiskan dalam hal
ini
sangat luar biasa. Waktu yang kamu
Habiskan
berubah menjadi arus uang baru
uang
terus-menerus mengalir."
"Kamu
tahu sekarang bahwa aku tidak bisa
membangun
bisnis dan menanamkan
investasi
sebelu aku menjadi tukang leding
yang
lebih baik. Aku bisa melakukannya
setelah
menginvestasikan cukup waktu dalam
bidang
yang tepat."
Tukang Leding berhenti sejenak untuk
menekankan,
dan kemudian berkata,
"Tunjukkan
kepadaku bagaimana orang
menghabiskan
dan menginvestasikan
waktunya dan aku akan menunjukkan
kepladamu bagaimana masa depannya."
Richard
menggambarkan diagram lingkaran
tentang
bagaimana dia menghabiskan dan
menginvestasikan
waktu selama ini. Hal
tersebut
membuat depresi. Ia lalu
menggambar
sebuah diagram lagi untuk
ayahnya.
Pada titik itulah anak laki-laki itu menuadari
bahwa
ia telah meningkatkan kejelasannua
secara
luar biasa. Dia benar-benar sedang
belajar.
Doa menggambarkan diagram lingkaran
tentang
bagaimana dia menghabiskan
waktunya
hari ini:
Tukang
Leding menggunakan kunci pas
untuk melonggarkan sebuah keran dan
sebuah
mlut pipa air mancur memancarkan
air.
Dia bertanya, "Maukah kamu melihat
sesuatu
uang ajaib?"
"Saya kira saya baru saja
menyaksikannya.
Bukankah mengubah waktu menjadi uang
adalah
keajaiban? Hal itu berarti saya bisa
mendapatkan
seluruh kekauyaann uang saya
inginkan
hanya dengan meninvestasikan
waktu
dengan tepat."
"Tentu
saja, itulah keajaiban. Hal itu juga
merupakan
perledingan yang bagus.
Sekarang temuilah Tkang Kebun."
"Terimakasih,
tetapi sebelum
pergi, saya
punya
sebuah pertanyaan. Apakah waktu dan
uang
yag Anda habiskan untuk visi Anda
merupakan
investasi jika Anda tidak
mendapatkan
hasil? Dan bagaimana visi
Anda
membuat Anda kaya?"
"Well,
well, well!" Tukang Leding itu pun
tersenyum.
"Pertanyaanmu semakin bagus.
Tetapi,
kali ini kupikir kamu dusah
mendapatkan
jawabannuya."
Richard
pergi dengan sedikit
kebingungan.
Jika
dia telah mendapatkan jawabannya.
mengapa
dia tidak mengetahuinya. Dia ingat
apa
uang dikatakan Dokter
Mata, dan
memutuskan
untuk membanuanya kembali:
"3. Apa yang
kamu lihat
selalu merupakan apa
yang
kamu dapatkan."
Dia
memutuskan untuk bekerja jauh lebih
keras
daropada uang dia janjikan
kepada
Perempuan
Tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar