Selasa, 14 Juni 2016

Bab 5 TUKANG KEBUN



Bab 5
TUKANG KEBUN

Tidak sulit untuk menemukan Tukang
kebun. Richard mengikuti lapangan rumplut
menuju sungai, dan di tepi sungai terdapat
hamparan bunga-bunga, pagar, dan tanaman
buah tercantik yang pernah dilihatnya.
seorang perempuan yang sama cantiknya
duduk di bawah pohon mangga sedang
berpiknik bersama dua orang gadis.

“Halo, saya Richard. Saya baru saja berbicara
dengan Tukang Leding. Bisakah Anda
menunjukkan sesuatu yang ajaib kepada
saya?”

Tukang Kebun tersenyum. “Richard. Hmmm.
Jadi, yang mana?”

“Maaf, maksud anda?”

“Rich-hard. Namamu. Jadi, yang mana?”
Apakah hidupmu Rich? Atau hidupmu Hard?”







Pertanyaan yang sangat aneh. Tanpa pikir
panjang, Richard berkata. ”Hidup itu sulit ...
iya kan?”

hal itu mungkin adalah salah satu hal
terbodoh yang pernah dia katakan.

dia sedang duduk di taman yang indah. Di
bawah sinar hangat matahari musim panas,
memandang sungai yang tenang, merasa
benar-benar damai. Bagaimana mungkin dia
bisa berpikir hidup itu sulit? Tetapi. Begitulah
dia, karena dia memang selalu demikian,
seperti ayahnya juga selalu demikian.

kehangatan hari itu menyelimutinya. Dia
terkejut karena menggigil. Sesuatu akan
terjadi. Saat dia memandang keindahan di
sekelilingnya, bibirnya bergerak dan dia
mendengar suata ayahnya, “Hidup MEMANG
sulit.”

tukang Kebun duduk seolah dia sedang
mendengarkan musik yang indah di udara.
kemudian dari ulutnya yang menyungging
senyum meluncur lembut sebuah senandung.
“Well, well, well ...”








Sensasi menggigil Richard berubah menjadi
oengungkapan yang menggetarkan. Mata
Richard membelalak dan mulai berair.

“Well, well, well.”

kemudian tiba-tiba dia melihat keajaiban.

Richard menahan napas.

“Well, well, well.”

Hal tersebut benar-benar ajaib. Semuanya
terjadi di sekelilingnya. Semua itu ada di
sana sepanjang hari, tetapi dia tidak
melihatnya. Sekarang, tiba-tiba saja dia
melihat dengan lebih jelas. Apa yang
dilihatnya membuatnya terpesona. Hal itu
sangat menakjubkan.

Dia sedang meatap ke dalam Sumur
Kekayaan.

dengan berdebar-debar, dia mulai sekilas
membaca kata-kata Perempuan Tua, Dokter
Mata, Tukang Leding, dan Tukang Kebun. Dia
mengingat apa yang mereka katakan,








mengingat apa yang mulai dia tanyakan, apa
yang mulai dia tuliskan.

dia berputar untuk memandang Tukang
kebun dengan sorot mata penuh
kegembiraan. Tukan gkebun tahu bahwa
Richard bisa melihat keajaibannya. Richard
tertawa keras dan berseru, “Well, well, well!”

dia melompat dan menari-nari di sepanjang
kebun, membuat geli dua gadis yang ada di
sana, “Well, well, well! Itulah Sumur (well)
Kekayaan! Kalian semua telah
nengetahuinya! Siapa pun bisa melihatnya.
tetapi, saya bisa melihatnya sekaran! Sumur
itu ada dalam Kata-Kata ita!”

“SUMUR ITU ADA DALAM KATA-KATA KITA!!”

Dia duduk kembali di bangku, menghapus air
matanya. “Saya tidak sungguh-sungguh
dengan kata-kata saya tadi. Saya sungguh
tidak bermaksud demikian. Hidup tidak sulit.
hidup itu Kaya. Saya sungguh-sungguh
percaya bahwa hidup itu Kaya, dan hidup itu












lebih Kaya dapipada yang pernah saya
bayangkan.”

Tukang Kebun menambahkan, “Hidup itu
Sulit katau Hidup itu Kaya—apa yang kamu
lihat selalu merupakan apa yang kamu
dapatkan
.” Kemudian dia menggemakan
“Sumur itu ada dalam Kata-Katamu”.

Richard berbicara dengan gelenyar
kegembiraan, “Saya bisa merasakan bahwa
orang-orang yang saya temui hari ini berpikir
dengan cara yang berbeda dibanding ayah
saya dan orang-orang uang saya kenal di desa
saya.
Mereka menggunakan kata-kata yang
lebih baik. Saya kira mereka bisa
mengajukan pertanyaan yang lebih baik
karena mereka mempunyai pila pikir yang
lebih baik. Tetapi, sejkarang saya tahu itu
terbalik.”

Mereka memiliki pila pikir lebih baik karena
mereka mengajukan pertanyaan yang lebih
baik. Karena mereka menggunakan kata-kata
yang lebih baik.









“Seperti uang sedamg kamu lakukan
sekarang!” Tukang Kebun menambahkan.

Richard melanjutkan, “Tukang Leding, Dokter
Mata. Mereka memulai sama seperti saya,
seperti ayah saya. Tetapi, saat mereka mulai
mengubah kata-kata mereka, mereka mulai
memperileh kejelasan. Mereka mulai
memanfaatkan Sumur dan karena itulah
mereka sekarang kaya.”

“Seumur hidup, kita mengunjungi Sumur
Kekayaan. Tetapi, itu bukan Sumur yang
sesungguhnya. Sumur yang sesungguhnya
ada dalam kata-kata kita, dan sumur
tersebut jauh lebih besar daripada yang
pernah saya bayangkan.”

Tukamg Kebun mengangguk, “Dan setiap Kata Kekayaan yang kamu ucapkan atau pikirkan mengalir ke dalam Sumur. Setiap pertanyaan lebih baik yang kamu ajukan menimba
sesuatu dari Sumur. Semua itu tanpa batas.”

“Ajaib!” Richard pun menulis:









“8. Sumurmu ada dalam
Kata-Katamu.”

Tukang Kebun tersenyum lagi. Dia kemudian memandang Richard dam melakukan sesuatuyang aneh. Dengan binar paling menakjubkan, dia mengedipkan sebelah mata.

Richard ingat perkataan Tukang Leding:

“5. Pemelajaran adalah
permainan


Dia mulai benar-benar menikmati permainan
itu.
“Apakah Anda kaya?”
“Aku mempunyai dua anak perempuan yang luar biasa dan suami yang hebat,
kesehatanku terjaga, dan aku punya banyak waktu, jadi, ya, aku kaya”







“Apakah Anda memiliki bisnis dan investasi uang memberi Anda keran uan gsehingga Anda tidak perlu khawatir soal uang?”

“aAkku pemilik seluruh tanah yang kamu lihat di sini. Dokter Mata menuewa dariku, seperti halnya delapan puluh lima penduduk kaya lainnya di area ini. Aku juga berinvestasi di sejumlah pengembang properti di desa ini.”

“Dulu aku mencari uang hanya dengan
menjadi seorang tukang kebun, tetapi aku menyisihkan sebagian penghasilanku, dan
yang lebih penting, aku menginvestasikan waktuku untuk menjadi sangat meuakinkan
di hadapan para pemodal dan bankir
. Aku
juga meninvestasikan waktuku untuk
bertemu dan belajar dari pada pengembang tanah dan properti yang sukses.

“Kamu tahu, aku punya visi untuk memiliki tanahkku sendiri.  Visiku adalah bahwa alam akan memberiku kekayaan dan sebagai imbalannya aku aka memberikan
kekayaanku kepada alam. Itulah uang
dilakukan oleh tukang kebun uang baik.
Itulah yang kamu lihat di sini. Aku telah mewujudkan impianku.”







Dua gadis di
tepi sungai. Richard tiba-tiba menyadari kehangatan sinar matahari. Dia menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Ada burung berwarna-warni berkicau di pepohonan dan segerombolan kupu-kupu bermain di taman bunga. Richard merasa sedih saat dia memikirkan rumah kecilnya dan ayahnya,
yang terbaring sakit dan bosan di tempat
tidur.

Richard berpikir sejenak. “Tetapi, jika Dokter Mata begitu kaya, mengapa dia menyewa rumah dari Anda?”

“Ali Kacamata memiliki visi yang hebat. Dalam visinya, tidak masuk akal baginya untuk menanamkan uang di sebuah rumah permanen. Dia lebih suka berinvesrasi dan menganggap rumah sebagi pengeluaran. Lagi pula, dengan cara, imi aku senang merawat kebun untuknya. Dia menyukai
perawatanku.”

meskipun tahu jawabannya, Richard tetap mengajukan pertanyaan selanjutnya. “Dan bagaimana Anda menjadi begitu kaya?”








Tukang Kebun tertawa sambil menatap sungai. ”Aku menjadi tukang kebun yang lebih baik!”

“Karena kamu pernah bersama Tukang
Leding, aku bisa membayangkan apa yang telah kamu pelajari. Jadi, apa pertanyaanmu yang lebih baik?”

Richard telah siap, “Saya tahu saya harus menemukan cisi saya, dan saya harus menginvestasikan waktu saya alih-alih menghabiskannya. Tetapi, bagaimana caranya?”

“Tolong berikan pertanyaan yang lebih baik jika kamu tidak keberatan.”

Richard punya pertanyaan yang tampaknya tidak relevan. Tetapi mungkin juga relevan. “Tukang Leding tidak perlu bekerja. Anda juga tidak perlu. Jadi megnapa Anda
bekerja?”

“Pertanyaan bagus! Bagiku, berkebun bukanlah pekerjaan. Berkebun adalah
hasratku. Setiap kali berkebun, aku mememnuhi visiku, itulah rahasianya, Richard.







Kekayaan berawal dari pikiranmu.
Kekayaan bukannlah akhir. Kekayaan adalah awal.”

“Bagaimana kekayaan menjadi awal bagi Anda?”

“Kamu lihat kebun ini? Kebun ini adalah beraneka rabam warna, aroma, dan suara. Kebun ini dimulai dari sebidang tanah. Akku memberinya berlimpah air, mataharim kasih sayang, perhatian, dan hasrat. Sebagai balasannya, aku mempunyai kekayaan alam yang memberiku imbalan setiap hari. Kekayaan dimulai jauh sebelum bunganya mekar.”

Richard duduk memandangi bunga-bunga, dan dia tersenyum oleh kata-kata itu. Kekayaan dimulai jauh sebelum bunganya mekar.

Richard menulis:
“Kekayaan adalah awal,
bukan akhir.”








“Saya tahu bagaimana Anda mendapatkan kejelasan. Tetapi, bagaimana Anda memfokuskan diri?”

“Saat aku memutuskan untuk menjadi tukang kebun yang lebih baik, aku meminimalkan waktu yang kuhabiskan dan memaksimalkan waktu uang kuinvestasikan. Aku memperlakukan hidupku sebagai kebun, dan fokusku seperti slang penyiraman tanamanku. Yang kujadikan fokus kusiram dan tumbuh. Uang tidak kujadikan folus menjadi kering dan mati.”

Richard berpikir tentang tanaman liar di
kebun ayahnya uang selalu menjadi fokus ayahmua. Setiap kali ayahnya berkata, “Ini tidak adil,” sesungguhnya dia telah menyiram dan menumbuhkan tanaman liar itu menjadi pepohonan yang lebat. Yang jauh lebih buruk, seluruh bakat dan aspirasinya telah
diabaikan, dan layu. Dia menarik napas.

“Aku segera menyadaro bahwa aktivitasku yang paling bernilai adalah menabur, memelihara, dan menuai. Jal itu berlaku untuk pemelajaran, jaringan, dan investasiku












Aku memiliki sedikit pengalamam atau ketertarikan di bidang keuangan, tetapi aku memiliki segudang pengalaman dan ketertarikan pada berkebun.”

“Aku menabur benih pada setiap orang yang kutemui dan pada setiap alah baru yang kupelajari cara penggunaannya. Aku
membina hubungan baik dan menjaga investasiku. Aku menuai penghargaan dengan sadar dan pada saat yang tepat. Jika tidak demikian, aku mungkin telah mencoba
menuai terlalu awal, tidak menabur dengan kasinh sayang sepenuhnya, atau tidak memelihara dengan komitmen penuh.”

“Aku menjadi kaya hanya dengan menjadi tukang kebun yang lebih baik.”

Rivhard berpikir keras mengenai dirinya dan ayahnya. Apa yang telah mereka tabur? Apa yang telah mereka pelihara? Tidak mengherankan kalau mereka belum banyak berkembang. Apa yang mau ditumbuh-kembangkan jika mereka belum
menggunakan waktu untuk menabur apa pun?













Dia bertanya dengan lantang, “Jadi, mengunjungi Sumur Kekayaan berarti menabur ataukah menuai?”

“Sumur yang mana?” Tukang Kebun tertawa.

“Bukan Sumur sesungguhnya—bukan Sumur dalam Kata-Kata kita. Sumur yang selalu dikunjungi penduduk desa setiap hari.”

“Kupikir kamu sudah tahu bahwa itu bukan menabur ataupun menuai.”

Richard berpikir tentang keran waktu Tukang Leding. Dia tahu bahwa dia harus menginvestasikan waktunya alih-alih menghabiskannya. Sekarang dia paham
bahwa dia perlu membagi investasi waktunya menjadi menabur, memelihara, dan menuai.

Dia pun menulis:

“10. Menabur, memelihara,
menuai.”






Sejurus kemudian Richard tiba-tiba
menyadari bahwa dia telah kehilangan kesempatan emas untuk menabur. Dia telah bertemu orang-orang yang sangat fantastis, tetapi dia belum meminta mereka untuk terus berhubungan dengannya, dia segera memutuskan untuk melakukannya, mulai
dari Tukang Kebun
: “Bisakah kita berteman?”

“Jika itu yang kamu mau. Tentu saja, aku akan senang menjadi temanmu.”

Apa yang dia maksud dengan, “Jika itu yang aku mau”? Richard tahu bahwa dia telah melewatkan sesuatu. Dia harus bekerja lebih keras agar bisa melintarkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik. Dia memandangi gadis-gadis yang sedang berenang di sungai. Dia bertanya-tanya apa yang akan dipikirkan ikan-ikan tentang hal tersebut.

Dia bertanya, “Saat Anda membangun kebun Anda, bagaimana Anda mengetahui apa yang harus menjadi fokus Anda?”

“Pernahkah kamu mendengar ungkapan “Tidak bisa melihat kayu karena sibuk








mengamati pohonnya”? Aku belum mengetahui fokusku sebelum aku tahu
seperti apa kebun yang kuinginkan. Begitu memiliki visi, begitu memiliki gambaran jelas akan seperti apa nantinya kebun itu, aku
bisa mulai melihat apa yang harus kutabur,
apa yang harus kupelihara, apa yang harus kutuai.
Saat aku berjalan-jalan di kebunku setiap hari, jelas bagiku di mana seharusnya aku menginvestasikan 24 tetes air milikku. Dengan hanya 24 tetes, akku harus sangat
hati-hati di mana aku menginvestasikannya.”

“Dan kamu tahu, hari demi hari aku mulai melihat akar-akar dan rumput-rumput tua melayu karena akuk mengabaikannya. Aku mulai melihat pemelajaran, persahabatan, relasi, dan investasiku berkembang. Jalan-jalanku setiap hari di kebunku selalu mengasyikkan dan menyenangkan.”

“Jadi, Richard. Katakan kepadaku, kamu ingin kebunmu seperti apa?”

Richard bukan tukang kebun. Dia pernah mencoba menanam kentang di pot kecil di rumahnya tetapi hanya itu. Namun, dia













terilhami mendengarkan Tukang Kebun, dan dia ingat perkataan Dokter Mata tentang empat tingkat komunikasi:

“2. Pilih tingkat di mana
kamu ingin bermain.”


“Saya juga ingin memiliki kebun yang indah. Saya ingin melihat lebih dari sekadar pepohonannya. Saya ingin bisa melihat kamu sebagai ganti pepohinannya, saya sungguh ingin melihat kayunya.  Saya ingin menjalani kehidupan yang penuh ilham, di mana kekayaan didapatkan dari kekayaan yang
saya berikan. Saya ingin hidup dengan visi hebat saya sendiri. Bagaimana menemukannya?”

“Jika kamu ingin menemukan visimu, ikukti hasratmu. Semakin pekerjaanmu tidak terasa sebagai pekerjaan, semakin dekat kamu dengan visimu.”


Richard mulai merasa sangsi lagi. “Tukang Leding tidak pernah memberi penjelasan apa pun mengenai hasrat.”





“Berarti kamu tidak mendengarkan.
Setahuku, seluruh penjelasannya adalah mengenai hasrat, jika kamu mencari visimu, biarkan hasrat menjadi penunjuk arahmu. Sekarang, ada seseorang yang perlu kamu temui.”

Richard berdiri dan mengikuti Tukang Kebun menuju pinggir sungai. Sembari berjalan dia menulis:


“11. Hasratmu adalah
penunjuk arahmu.”


dia berpikir tentang ayahnya lagi. Hasratnya adalah mengeluh. Jadi, bagaimana keluhan akan membuat mereka kaya.

Mereka menemukan gadis-gadis itu di dekat kapal pencari ikan yang dilabuhkan di pinggir sungai. Seorang lelaki berjenggot menunjukkan dan kemudian memberikan seekor ikan gemuk kepada mereka. Mereka melemparkannya kembali ke dalam air dengan jerit dan tawa yang mengingatkan Richard kepada ibunya.






“Richard, perkenalkan Nelayan, Richard adalah anak muda yang sedang mencari
kayu.”

Richard mengulurkan tangannya. “Halo, saya Richard. Siap melayani Anda!”

“Well, well, well!” seru Nelayan. “Cari kayu, ya? Nah, kalau begitu, naiklah, kita akan menyusuri sungai.”

Richard melompat ke dalam kapal dan berpaling kepada Tukang Kebun. “Jika Anda hendak memberi saya kata-kata bijak, apa yang akan Anda katakan?”

Tukang Kebun melihat sekeliling surganya sembari menarik napas panjang, kemudian berkata keplada anak-anal gadisnya. “Anak-anak, kenapa kalian tidak memberi bekal kepada Richard?”

Salah satu gadis itu memandang Richard,
dan untuk pertamakalinya Richard melihat mata indahnya. Mata itu berbinar. Saat Nelayan bertolak, gadis itu bernyanyi:









“Dunia sedang menunggu,
Berharap... “

Richard menatapnya selama mungkin dengan jantung berdebat-debar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar