What if I tell you there is a great book like you have never
seen before.
First time I bought this book in 2007 only for IDR 10k or
less than 1 dollar on a big sale . Now this book is not
published anymore.
Enjoy the ride and you can thank me later :)
Pada
Suatu Ketika
“Ini benar-benar tidak adil!”
“Aku muak dan bosan.”
Dan begitulah dia. Muak dan
bosan.
Kenyatannya, dia bosan merasa
muak dan
muak merasa bosan. Apakah itu
adil? Ayah
Richard telah bekerja sepanjang
hidupnya
sebagai tukang kayu. Dia selalu
Menginginkan kekayaan, tetapi
tidak pernah
Mendapatkannya. Hal itu
mendorongnya
Bekerja jauh lebih keras sehingga
tekanan
yang dia tanggung akhirnya
melumatkan
Sampai gepeng.
Dia sama sekali tidak memiliki
uang, dan
Terbaring sakit di tempat tidur.
“Richard, setiap hari selama dua
puluh tahun
terakhir, aku selalu mendatangi Sumur
Kekayaan dan menghabiskan satu
dolar. Hari
ini, aku butuh bantuanmu. Ini satu
dolar.
Belilah satu ember Air Sumur,
Nak. Aku
mengandalkanmu.”
Richard baru berusia sembilan tahun.
Dia
merasa kasihan kepada ayahnyadan agak
ketakutan. Kekayaan keluarganya
sekarang
ada di tangannya, dengan uang
kertas satu
dolar itu. Uang satu dolar itu
adalah kunci
menuju kekayaan keluarganya dan
kesehatan
ayahnya. Dia memegang uang kertas
yang
kusut itu dengan kedua tangannya
dan
mendengarkan nasihat ayahnya
dengan
saksama:
“Selama berabad-abad, orang-orang
di desa ini telah terbiasa
mengunjungi Sumur Kekayaan
setiap hari tanpa henti. Bermurah-
Hatilah kepada Sumur, Anakku, dan
Sumur akan bermurah hati
Kepadamu sebagai balasannya.”
Bab
2
SUMUR
Saat
Richard menyusuri jalan setapak
Menuju
Sumur, dia bertanya-tanya mengapa
Sumur
itu belum bermurah hati kepada
Ayahmya
atau kepada sebagian besar
Penduduk
desa lainnya. Banyak penduduk
Desa
berada dalam kondisi keuangan yang
Lebih
buruk daripada Ayag Miskin. Tentu
Saja,
mereka mendapatkan seember Air
Sumur setiap hari tanpa henti. Tetapi, rari
Yang dia
lihatm yang mereka lakukan
Hanyalah
meminumnya hingga habis.
Dia
tidak berpiir terlalu lama karena dia
segera
tiba di sebuah persimpangan jalan.
Seorang
Perempuan Tua duduk di kursi lipat,
Sedang
bersantai menikmati udara musim
Semi
yang segar. Dia memegang segelas air
Dingin.
Richard
berhenti.
“Ada yang bisa aku bantu, anak
muda?”
“Bisakah Anda menunjukkan kepada
saya
Jalan menuju kekayaan?” Richard
bertanya
sedikit terlalu keras, sembari
menyodorkan
Uang dolarnya.
“Well, well, well! Kamu ingin
menjadi kaya.
Dan kapan kamu akan tahu bahwa
kamu telah kaya?”
Richard memandang perempuan itu
dengan
Kebingungan. Perempuan Tua
tersenyum, dan
Dengan secercah sinar di matanya
Menambahkan, “Seberapa keras kamu
bersedia bekerja untuk menjadi
kaya?”
“Oh, sangat keras! Ayah saya
telah bekerja
sangat keras sepanjang hidupnya
dan dia
masih tetap tidak kaya. Maka,
saya kira saya
Harus bekerja jauh lebih keras
daripada dia.”
“Berarti kamu harus mengambil
jalan ini.
Carilah Dokter Mata.”
Richard memerhatikan jalan itu. Jalan
itu
Penuh dengan sebak belukar dan
tidak
menarik disbanding jalan lain,
yang diaspal
dengan baik dan cukup lebar untuk
seekor
gajah sekalipun. Hal tersebut
mengingatkannya kepada salah sati
ungkapan favorit ayahnya:
“Orang
di jalan lurus
tidak
pernah tersesat”
tetapi,
sesuatu di mata Perempuan Tua
membuatnya
memilih mengambil jalan penuh
semak
belukar itu.
Sebelum
Richard pergi, perempuan itu
Mengeluarkan
sebuah buku catatan kecil dan
bolpoin.
Sambil memberikan kepada
Richard,
dia berkata, “Pikirkan, tuliskan.”
Dia
menadahkan tangannya yang lain dengan
Penuh
harap. Richard menuyadari bahwa dia
Masih
menggenggam uang dolarnya. Maka,
Dia
menyerahkan uangnya kepada perempuan
itu,
mengambil buku catatan itu, dan dengan
Cepat
menulis:
“Pikirkan, tuliskan.”
Kata-kata itu tidak seperti apa yang pernah
Dikatakan ayahnya. Tak lama kemudian dia
Sudah berjalan menyusuri jalan setapak itu,
Jauh ke dalam hutan, mencari Dokter Mata.
Bab 3
DOKTER MATA
Richard segera menemukan sebuah rumah
dalam hutan. Pada kenyataannya, rumah
Tersebut lebih mirip sebuah gedung besar
dengan ukuran yang belum pernah dia lihat
sebelumnya. Dari tempatnya berdiri, dia bisa
Melihat berhektar-hektar taman yang
Terpangkas rapi, air mancur yang indah,
Searmada mobil sport, dan sesuatu yang
Tampak seperti landasan helikopter di atap,
Tetapi dia tidak yakin mengenai yang terakhir.
Dia naik dan mengetuk pintu.
Seorang lelaki muda mengenakan “gaun”
Putih terang muncul. Richard mundur, tetapi
ia segera menenangkan diri dan
mengeluarkan buku catatannya. “Anda pasti
Dokter Mata. Perempuan Tua menyuruh saya
Ke sini. Saya ingin kaya!”
Dokter Mata memerhatikan Richard dengan
tatapan geli. “Well, well, well! Seberapa kaya?”
Richard metatapnya seolah ia bodoh. “Cukup
Kaya untuk hidup makmur.”
“Oh, itu mudah! Ajukan saja pertanyaan yang
lebih bagus.”
Richard memikirkannya sejenak, dan berniat
Menyampaika pendapat ayahnya tentang
laki-laki yang mengenakan gaun, ketika tiba-
tiba dia memutuskan untuk mengikuti
nasihat tersebut dan mengajukan pertanyaan
yang lebih baik.
“Jadi, seberapa kayakah Anda?”
“Aku memiliki pendapatan yang cukup
Sehingga tidak perlu bekerja, aku
Menghabiskan waktuku untuk melakukan
Hal-hal yang kunikmati, dan aku
Menyumbangkan sesuatu kepada dunia
Dengan cara yang memberiku kepuasan
total.”
Richard memandang lelaki itu dengan tatapan
kosong.
“Tetapi, berapa banyak uang yang Anda
miliki?”
“Apakah itu penting?”
Richard mengerutkan wajahnya. Dia
Memutuskan untuk mengubah arah
Pembicaraan.”Jadi, bagaimana Anda menjadi
kaya?”
Dengan sinar di matanya, Dokter Mata
menceritakan rahasianya, “Aku menjadi
Dokter Mata yang lebih baik.”
Maka, sekarang Richard siap untuk
mengakhiri semua permainan itu. Ayahnya
selalu berkata:
“Kamu tidak akan menghasilkan
uang jika kamu tidak bisa
dimengerti.”
Lelaki itu tampaknya berusaha sekuat tenaga
untuk tidak bisa dimengerti. Tetapi, sinar
Mata itu mengingatkan Richard kepada
Perempuan Tua. Dia ingat mata Perempuan
Tua saat dia duduk dan berseru, “Well, well,
well!”
maka, dia mengajukan pertanyaan lain yang
lebih baik:
“Dan bagaimana menjadi seorang Dokter
Mata yang lebih baik bisa menjadikan Anda kaya?”
Dokter Mata duduk di sofa di ruang tamunya
Yang sangat besar dan memberi isyarat
Kepada Richard ntuk melakukan hal yang
sama. Richard terbenam di kursi itu dan
Melihat bahwa bantal sofa itu lebih besar
Daripada tempat tidurnya. Dokter Mata
Memulai ceritanya.
“Pekerjaanku adalah memperbaiki
Penglihatan orang. Spesialisasiku adalah
anak-anak. Jika seorang anak terlahir dengan
Penglihatan yang tidak sempurna, mereka
hidup dalam dunia yang samar selama
beberapa tahun awal, tanpa memahami apa
pun dengan baik. Ketika mereka memakai
Kacamata yang aku resepkan, mereka sering
berkata, ‘Jadi, BEGINILAH dinia seharusnya
terlihat!” Hal tersebut membuatku benar-
benar berpikir, karena aku merasa bahwa
aku hidup di dunia yang samar.”
Kini Richard mendapatkan ide untuk
pertanyaan yang lebih baik. “Apa yang
Membuat Anda merasa seperti itu?”
“Yang penting bukan sekadar apa yang kamu
Tanyakan, Nak. Tetapi juga kapan kamu
menanyakannya. Saat ini, sebagiaimana yang
kukatakan, segalanya terasa samar. Aku dulu
menjalani kehidupanku seperti cara
kebanyakan orang. Aku bahkan mengunjungi
Sumur Kekayaan setiap hari. Kemudian,
beberapa tahun lalu akku bertanya kepada
diriku sendiri, bagaimana juka aku menjadi
seorang Dokter Mata yang lebih baik?”
“Jawabannya sederhana. Aku akan
memperoleh kejelasan. Aku akan mempunyai
fokus. Aku akan mempunyai VISI! Itulah saat
aku menyadari bahwa aku benar-benar
dalam kondisi samar. Karena aku tidak
mempunyai
kejelasan sebening kristal
mengenai
siapa diriku, aku tidak mempunyai
fokus
yang jelas dalam hidupku. Aku bahkan
tidak
mempunyai tujuan, hanya mengikuti orang banyak.”
“Aku segera menyadari bahwa semua orang
hebat mengawali perjalanan mereka dengan
visi yang hebat pula. Mereka mempunyai
kejelasan tentang posisi mereka saat ini dan
ke mana mereka hatrus melangkah.
Kemudian, mereka memiliki fokus setajam
laser untuk memcapainya. Maka, aku
memutuskan untuk menemukan visiku. Saat
aku menemukannya, kehidupanku berubah.”
Saat Dokter Mata berbicara, perhatian
Richard mulai mengembara. Dia ingin tahu
cara menjadi kaya. Mengapa dia juga
memerlukan visi? Pasti ada orang-orang kaya
yang tidak memliki visi. Dia memikirkan visi
ayahnya, dan saat itulah dia mendesah.
Ayahnya
sangat rabun sehingga tidak bisa
melihat
melampaui besok.
Richard mengajukan pertanyaan lain: “Jadi,
anda memutuskan untuk bekerja lebih keras
sebagai Dokter Mata yang lebih baik?”
“Kamu benar-benar tidak mendengarkan aku.
Aku tidak perlu bekerja sama sekali. Uangku
bekerja untukku. Aku memiliki investasi yang
mampu mencukupi kebutuhan hidupku. Aku
memutuskan
untuk MENJADI Dokter Mata
yang
lebih baik, bukan MELAKUKAN
pekerjaan
sebagai Dokter Mata dengan lebih
baik.
Bukan profesiku yang membuatku kaya,
melainkan penemuanku akan visiku yang
sesungguhnya.”
“Biarlah akku tunjukkan sesuatu kepadamu.”
Dokter Mata mencondongkan tubuh ke depan
dan menuliskan di buku catatan Richard:
Kekayaan
lebih
daripada
sekadar
yang
Terlihat!
Visi = kejelasan+fokus
“Apa SIFAT
KOMUNIKASI Anda?”
4 tingkat komunikasi:
1.
Saling bertukar
2.
Berhubungan
3.
Memotivasi
4.
Mengilhami
KUALITAS KOMUNIKASI = KUALITAS KEHIDUPAN
“Nah,
sedikit sekali orang menjadi kaya tanpa
Sebab
ata sekadar karena sumber
Penghasilan
mereka. Kekayaanmu akan
Datang
dari waktu, bakat, minat, dan sumber
Daya
orang-orang di sekitarmu. Itu berarti
Kemampuan
berkomunikasi akan menjadi
kunci
kesuksesanmu. Ada emlpat tingkat
Komunikasi. Pilihlah di tingkat mana kamu
ingin bermain.”
Dokter Mata menunjuk tingkat pertama.
“Sebagian besar orang hanya memilih untuk
SALING BERTUKAR, yang artinya mereka
bisa
menghabiskan berjam-jam untuk
mengeluh
atau mengobrol tanpa menciptakan
kejelasan
sedikit pun. Orang senang saling
bertukar, tetapi tak seorang pun menjadi
kaya dengan melakukan itu.”
Dia kemudian menunjuk tingkat kedua.
“Beberapa orang memilih untuk mendapatkan
Lebih banyak kejelasan, dan ketika mereka
Melakukannya, mereka menciptakan makna
Dan nilai dalam hubungan mereka, mereka
BERHUBUNGAN dengan orang-orang di
sekitarnya, yang menarik lebih banyak
Hubungan dan kerja sama. Orang-orang itu
adalah pemain tim yang hebat
dan akan
menjadi sebagian asetmu yang
terbaik.”
“Sekelompok orang yang lebih
sedikit
jumlahnya memilih bersikap
proaktif, dan
mereka menbiptakan fikus yang
bisa
dipahami orang lain.
Orang-orang itu adalah
pemimpin. Mereka MEMOTIVASI,
yang
menciptakan koneksi DAN
momentum.”
Dokter Mata dengan bangga
menunjuk
kepada tingkat keempat. “Di
sinilah pilihanku
untuk bermain. Bila kamu
MENGILHAMI,
kamu menjadi pemimpin para
pemimpin.
Untuk mengilhami, sudah tentu
kamu
memerlukan visi. Saat kamu
bermain di
tingkat ini, visimu menjadi
landasan
kepemimpinanmu. Kunci menuju
kekayaanmu adalah belajar bagaimana
memimpin para pemimpin.”
Richard telah siap bertanya
mengenai satu
Hal itu. “Jadi, apa visi Anda?”
Sebagai jawabannya, Dokter Mata
melakukan
Sesuatu yang sangat aneh. Dia
tersenyum,
Dan dengan sinar di matanya,
doa
Mengedipkan sebelah mata.
“Apa visimu?”
Tak seorang pun pernah
menanyakan hal itu
kepada Richard sebelumnya. Lagi
pula, dia
baru berusia sembilan tahun.
Dia sadar dia
belum punya visi. Dia juga
tidak memiliki
kejelasan maupun fokus. Segalanya
masih
samar baginya.
Kemudian dia ingat pertanuyaan
Perempuan
Tua. Sekarang dia berkata,
“Jika saya
mencari visi saya, bagaimana
mengetahui
bahwa saya sudah
mendapatkannya?”
“Saat kamu menemukan visimu, segala
sesuatunya tiba-tiba akan menjadi sebening
kristal. Kamu akan melihat sekeliling sambil
berkata, ‘Jadi, BEGINILAH seharusnya dunia
ini terlihat!’ Pada saat itulah kamu akan
mulai menaruk orang-orang,
kesempatan, dan
kekayaan yang kamu inginkan.”
Richard masih skeptis. Semuanya
masih
tampak begitu tidak pasti
baginya.
Bagaimana mungkin Dolter Mata
menjadi
kaya hanya dengan melihat
dengan lebih
baik? Tidak semudah itu. Dia
ingat perkataan
Ayahnya:
“Uang tidak tumbuh di pohon.”
Dan ayah pasti tahu.
Bagaimanapun, dia
adalah seorang tukang kayu—dan
tukang
kayu yang hebat. Ayah bisa
mengubah pohon
menjadi meja dan kursi yang
bagus. Dia bisa
mengubah pohon menjadi bingkai
pintu dan
birai jendela yang hebar. Ayah
bisa
mengubah pohon menjadi apa
pun, kecuali
uang.
Richard berpikir tentang Sumur
Kekayaan.
dari situlah uang datang. Dia
bertanya
kepada Dokter Mata, “Jadi,
sekarang setelah
Anda kaya, apakah Anda masih
mengunjungi
Sumur Kekayaan?”
Dokter Mata tertawa. “Aku kaya
setelah aku
berhanti mengunjungi Sumur. Sumur itu
tidak seperti yang kamu pikirkan,
Nak. Aku
menjadi kaya begitu aku
menemukan
kejelasan, fokus, dan visiku.”
“Dan bagaimana Anda menemukan
semua
Itu?”
“Kamu harus menemui Tukang
Leding untuk
itu, itulah yang kulakukan.”
Richard memikirkan hal itu. Dia
merasa
seperti sedang dijauhkan dari
apa yang
selama ini dia pahami dan
terima. Dia
merasa seperti sedang bergerak
menjauhi
Sumur yang diminta auahnya
agasdia
kunjungi, dia bisa memilih
untuk kembagi
sekarang atau melanjutkan
perjalanan. Apa
yang akan dikatakan ayahnya?
Dia bisa
mendengar pertakaan ayahnya:
“Setialah kepada dirimu sendiri.”
Richard memandang Dokter
Mata.”Ayah saya
menyuruh saya untuk setia
kepada diri
sendiri. Mengapa saya harus
mencari visi jika
saya bisa sepenuhnya setia
kepada diri
sendiri?”
Dokter Mata tersenyum. “Apakah
ayahmu
setia kepada dirinya sendiri?”
“Tentu saja dia setia!” Richard
menjawab
dengan sedikit membela diri.
“Dan apakah dia setia kepada
dirinya di masa
lalu atau dirinya di masa
depan?”
Richard tidak suka orang asing
ini bertanya
mengenai ayahnya, dan dia
memalingkan
muka.
“Richard, apa yang dikatakan
ayahmu benar.
Tetapi hanya jika kamu memahami
arti sejati
kata-kata itu. Jika kamu setia
kepada dirimu
di masa lalu, kamu akan tetap seperti dirimu
saat ini. Jika kamu memutuskan untuk setia
kepada dirimu di masa depan, hidupmu akan
berubah secara luar biasa.”
Dokter Mata mencondongkan tubuh
ke depan
dan Richard kembali menatapnya.
“Jika
kamu sekadar ingin setia kepada
dirimu di
masa lalu, ingatam yang tajam
saja dudah
cukup. Tetapi, kamu akan tetap
persis sama
seperti dirimu saat ini.”
“Jika kamu berkomitmen untuk
setia kepada
dirimu di masa depan, kamu
membutuhkan
visi. Tanpa visim kamu hanya
akan melakukan
perjalanan tanpa tujuam. Kamu
akan
mengembara mencari jawaban
hanya untuk
kembali lagi kepada apa yang
sudah kamu
ketahui. Namun, saat visimu
lebih kuat
daripada ingatanmu, masa depanmu akan
menjadi jauh lebih erharga dariopada masa
lalumu.”
Richard berdiri. “Baiklah. Saya
akan mencari
Tukang Leding. Tetapi
sebelumnya, saya
punya pertanyaan yang lebih
baik. Dari
semua hal yang telah Anda
katakam, pesan
terbaik apa yang bisa saya
bawa?”
Dokter Mata menjawab:
“Aset terbesarmu adalah visimu
tentang akan
jadi siapakah kamu. Sedikit
orang yang
menyadari hal tersebut. Berinvestasilah
dalam memperjelas visimu. Begitu
kamu
berfokus kepada visimu dan visi
tersebut
Menjadi kenyataan, aset itu
menjadi sangat
berhargam dan kamu bisa mulai
mempertukarkannya, Hanya dengan
menukarkan bagian yang kecil
sekalipun,
kamu akan sekaya yang kamu
inginkan.”
“Bisakah Anda
menyederhanakannya?”
“Tentu saja. Pilih tingkat di
mana kamu ingin
bermain. Apa yang kamu lihat
selalu
merupakan apa yang kamu
dapatkan.
Belajarlah untuk melihat dengan lebih baik
Maka kamu akan menjadi lebih baik.”
Mata Richard membelalak.
Belajarlah untuk
MELIHAT dengan lebih baik maka
kamu akan
MENJADI lebih baik! Tiba-tiba
saja ucapan
Dokter Mata menyentuh sesuatu
dalam
tubuh kecil Richard. Sangat
sedikit yang
telah didapatkan keluarganya.
Ayahnya
selama ini telah bekerja sangat
keras!
Ayahnya telah bekerja begitu
keras sehingga
dia tidak punya waktu untuk
memikirkan
pada tingkat apa dia bisa
bermain. Dia
bekerja sangat keras sehingga
tidak tersisa
waktu untuk mempelajari cara
melihat
dengan lebih jelas.
Jika apa yang dikatakan Dikter
Mata benar,
setiap jam yang dihabiskan ayah
Richard
untuk bekerja kerasm alih-alih
belajar melihat
dengan lebih baik, tidak
membuat mereka
kaya. Semua itu membuat mereka
tetap
miskin.
Richard menuliskannya dan
merasa sedikit
terilhami:
“2. Pilih tingkat di mana
Kamu ingin bermain.”
“3. Apa yang kamu lihat
Selalu merupakan apa yang
Kamu dapatkan.”
Richard menatap mata Dikter
Mata dengan
penuh harap. Dia bisa melihat
dengan cukup
jelas bahwa Dokter Mata hidup
pada tingkat
kejelasan yag berbeda. Dia sekarang
bisa
melihat dengan cukup jelas
untuk
mengetahui bahwa, jika ingin
menaikkan
tingkatnya sendirim dia harus
mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang
lebih baik.
Richard tersenyum saat dia
memikirkan
pertanyaan yang telah dia
ajukan kepada
Perempuan Tua dan Dokter Mata.
Dia menyadari bahwa setiaop
pertanyaannya
yang lebih baik membuka pintu
baru dalam
perjalanannya. Dia menulis:
“4. Mintalah maka kamu
Akan menerima.”
Dia berterimakasih kepada
laki-laki bergaun
tersebut dan pergi mencari
Tukang Leding.
-to
be continued-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar