Kamis, 16 Juni 2016

Bab 6 NELAYAN



Bab 6
NELAYAN

Nelayan tertawa terbahak-bahak. “Dia ada di sana, Nak. Ini permainan menunggu. Dunia menunggu kita untuk memberi, sementara kita menunggu Dunia untuk memberi. Ini memang permainan menunggu.

“Bukankah memancing adalah permainan menunggu?”

“Oh, ya, dulu seperti itu, sampai aku menjadi nelayan yang lebih baik.”

“Dan kekayaan apa yang Anda miliki?”

“Aku memiliki jaringan ritel. Kamu lihat apa yang kupakai? Sepatu bot ini? Jaket ini? Barang-barang ini dari jaringan ritelku.
Barang bgus. Aku senang menghabiskan waktu dengan orang-orangku. Seperti aku menghabiskan waktu di sini dengan ikan-







ikan. Itulah yang kusuka. Itulah kekayaan yang kumiliki. Bagaimana denganmu?”

“Saya tidak punya cukup banyak kekayaan.”

Nelayan bersiul, “Dunia sedang menunggu, berharap...” Kemudian dia berkata, “Apakah kamu buta, Nak?” sambil mengetuk dinding kapal dengan keras.
Richard tiba-tiba merasa mabuk laut—meskipun mereka tidak berada di laut. Atau mungkin itu hanya ketidakpastian. Dia menatap Nelayan dan bersiap dengan buku catatannya.

“Kamu ingin menemukan kayunya? Could, should, wood. Di sinilah kayunya. Tepat di sini. Ada di sekelilingmu. Kamu duduk di dalamnya.”
Dia mengetuk kapal itu lagi.

Richard mau tidak mau memerhatikan bahwa kapal tersebut tamplak cukup tua bagi seseorang yang katanya kaya.







“Bukan, maksud Tukang Kebun—maksud saya—kayu dari pepohonan. Saya sedamg mencari kayu dari pepohonan. Visi saya.”

Nelayan mengubah topik pembicaraan, “Akan kutunjukkan kepadamu cara menjadi nelayan yang lebih baik asal kamu berjanji untuk terfokus kepada menangkap ikan.”

“Tentu saja,” Richard menjawab sambil memegang buku catatan.

“Kalau begitu, ini.” Nelayan mematkan mesin dan mengeluarkan joran. Dia memberikannya kepada Richard. “Mulailah memancing.”

Richard mulai berbicara, “Saya tidak menyangka yang Anda maksud benar-benar menangkap ikan. Bisakah Anda jelaskan maksudnya? Mengapa saya harus menangkap ikan?”

“Sebaiknya kamu mulai mengajukan pertanyaan yang lebih baik, Nak. Alasan pertama kamu mendapatkan joran itu adalah karena mengetahui tanpa melakukan berarti belum mengetahui. Alasan kedua adalah







karena sekarang hampir waktunya makan siang dan aku lapar.”

Richard mengambil joran itu dan dengan tangan satunya dia menulis:

“12. Mengetahui tanpa
melakukan berarti belum mengetahui.”

Semakin dia belajar, semakin banyak yang tampaknya tidak diketahuinya. Maka, dia memutuskan bahwa inilah saatnya
melakukan sesuatu yang lebih. Dia
meletakkan buku catatannya dan bertanya, “Apa yang harus saya gunakan untuk menangkap ikan?”
“Pilihlah.” Nelayan memberikan sekotak rapala (kail yang dihias sebagai umpan
buatan) berwarna-warni yang indah. Saat Richard melihat pilihannya, dia segera
melihat satu yang paling disukainya, “Saya pilih yang itu.”





Nelayan tidak bergerak. Dia hanya didik memandangi sungai.

Richard menunggu sebentar. Kemudian bertanya, “Yang mana yang berfungsi paling biak?”

“Oh, kupikir kamu tak akan bertanya. Yang ini.” Dia mengambil rapala yang, terus terang saja, mirip boneka belalang berkaki tiga. Richard tidak ingin berdebat.

Nelayan memasang rapala itu. “Sekarang berdiri, tarik jorannya ke belakang seperti ini, dan...”

Tali pancingnya melayang ke depan dan rapalanya mendarat jauh dalam air.
“Sekarang, pelan-pelan mulailah menggulungnya kembali.” Richard melakukannya, dan ia kaget setelah beberapa saat ternyata tali pancingnya menegang. Dia terus menggulungnya, dengan kekuatan yang lebih besar. Pada saat diperlukan, Nelayan justru meninggalkannya dan turun ke
kabinnya di bawah dek.







“Pak Nelayan!” Richard berseru saat ikannya muncul di permukaan, “Tolong!”

Nelayan kembali dengan keranjang, dan menarik ikan itu dari air dengan tali pancingnya. “Halo, Sally! Senang bertemu denganmu lagi. Sapalah Richard.” Dia mengangguk kepada ikan itu ke arah Richard, kemudian melepaskannya dari pancing dan menjatuhkannya kembali ke air. Sally berenang menjauh.

“Anda kenal ikan itu?”

“Hanya lelucon kecil. Sallu adalah istriku. Sekarang, waktunya makan siang.”

Dia membuka keranjangnya untuk menyajikan sandwich, buah dan makanan pencuci mulut.

“Saya pikir Anda ingin makan ikan untuk makan siang.”

“Tidak. Banyak ikan di laut, kata mereka.
Atau dalam hal ini di sungai. Jadi, berakhir sudah pelajaran menjadi nelayan yuang lebih







baik. Sekarang, kamu perlu bertindak sesuai dengan hasrat terbesarmu dan berkomitmen untuk memancing ikan.”

“Tetapi, saya baru saja melakukannya!”
Richard memprotes.

“Yang kumaksud adalah ikan sesungguhnya. Keran uang. Tidak ada gunanya mengetahui jika tidak melakukan apa-apa.”

Richard mengambil sandwitch. “Bagaimana Anda merintis keran uang pertama Anda?”

“Seperti yang kukatakan, aku menjadi
nelayan yang lebih baik. Aku dulu berpikir TENTANG ikan. Saat menjadi nelayan yang lebih baik, aku mulai berpikir SEPERTI ikan. Itu berbeda. Akku mengejar ikan tiada henti. Akku adalah manajer penjualan pada waktu
itu, dan aku benci pekerjaanku—hanya
karena pekerjaan itu tak pernah henti. Terus-menerus mengejar pelanggan.”

“Saat menjadi nelayan yang lebih baik, aku terfokus kepada penciptaan mata kail yang lebih baik. Tentu saja, aku bisa membuat






yang lebih menarik. Saat kamu menciptakan daya tarik, kamu tidak perlu lagi mengejar. Maka, aku menginvestasikan waktuku untuk menciptakan nilai. Tidak ada kekayaan bila tidak ada nilai. Nilai adalah sungai di mana Kekayaan mengalir.”

Richard menuliskannya sambil terus mendengarkan:

“13. Nilai adalah sungai di
mana Kekayaan mengalir.”

“Aku melihat di lluar pekerjaanku produk-produk lain yang tampaknya menarik bagi orang-orang. Pada saat itu aku menjual jaket outdoor yang benar-benar tidak digemari di pasar. Maka, aku menginvestasikan waktuku untuk belajar lebih banyak tentang apa yang dibeli orang. Itu berarti aku juga menemui
para pedagang yang jauh lebih sukses
daripada aku.”

“Hanya dalam enam bulan, aku mempunyai cukup pengetahuan dan kenalan untuk





memulai toko ritelku sendiri di mana aku memilih pakaian yang aku tahu pasti akan terjual. Kemudian, setiap hari aku menambahkan nilai lebih kepada pelanggan dan penjual grosirku. Setiap hari aku
bertanya kepada diriku sendiri berapa banyak lagi nilai yang bisa kuberikan.”

“Aku menjadi karya terilhami yang sedang dalam proses. Toko itu begitu sukses
sehingga jaringan toko itu begitu sukses sehingga jaringan toko baru akan segera dibuka.”

“Apa maksud Anda dengan karya terilhami yang sedang dalam proses?”

Nelayan mengambil rapala tadi. “Kamu lihat ini? Seolah hanya butuh lima menit untuk membuat barang ini, tetapi sesungguhnya dibutuhkan lima tahun. Setiap hari aku memikirkan rapala yang lebih baik, merancangnya, melihat cara kerjanya, dan kemudian mencoba lagi.”

Richard ingat perkataan Tukang Leding:






“1. Pikirkan, tuliskan, lakukan,
tinjau kembali.”

“Jadi, rapala ini adalah karya terilhami yang sedang dalam proses. Karena rapala ini masih belum sempuarna, tidak akan pernah
sempurna, karen jika sempurna justru akan menganggu kesenangannya. Kesenangannya ada pada tindakan coba-coba. Jadi, begitu
pula aku. Aku adalah karya terilhami yang sedang dalam proses.”

Richard memikirkan kebun Tukang Kebun dan visi Tukang Leding. Keduanya sungguh-sungguh merupakan karya terilhami yang sedang dalam proses. Dia menambahkan ke dalam daftarnya:

“14. Menjadi karya terilhami
yang sedang dalam proses.”

“Tetapi saat mulai membuka toko Anda, apakah Anda tidak takut kepada
kemungkinan gagal?”



“Sama sekali tidak, aku berencana untuk gagal! Kamu harus berencana untuk gagal, Nak, atau kamu akan terus-menerus kecewa. Lihatlah ke sini.” Nelayan menunjuk ke sungai seolah sedan memimpin orkes. “Di sungai ini ada seribu ekor ikan. Saat aku membenamkan tali pancingku, aku berencana untuk gagal menangkap semua kecuali seekor di antaranya, yang berarti aku merencanakan tingkat kegagalan 99,8%. Jika tingkat kegagala itu menjadi 99,8%, aku akan menangkap dua ekor ikan, yang berarti menggandakan hasilku hari itu.”

“Saat melakukan percobaan dengan ide pemasaran bari, promosi ke toko baru, atau jajaran produk baru, aku selalu menginvestasikan waktu dan uang ku dengan harapan tingkat kegagalan yang tinggi, dan aku memastikan bahwa dengan tingkat kegagalan yang tinggi itu aku masih bisa mendapatkan imbalan yang masuk akal
untuk waktu dan uang yang telah kuinvestasikan. Jadi, hari demi hari aku
belajar secara menguntungkan.”

“Pernahkan Anda mendapatkan hasil yang lebih buruh daripada yang Anda perkirakan?”





“Tentu saja pernah. Sebelum menjadi nelayan yang lebih baik, hal itu terjadi setiap saat. Aku selalu mematok harapan dan target yang tinggi, dan aku selalu kecewa. Lebih buruk lagi, aku menganggarkan waktu dan uangku berdasarkan harapan yang tinggi tersebut. Maka, selain aku jadi kecewa, waktu dan uang yang kukira kuinvestasikan malah terbuang sia-sia.”

“Sekarang, saat aku telah menjadi nelayan yang lebih baik, aku berencana untuk gagal. Jadi, sering kali aku dibuat terkejut dan senang oleh hasilnya. Namun, aku masik tetap menghadapi kegagaln yang lebih besar daripada yang kuperkirakan, dan kegagalan itu kusambut. Karena setiap kegagalan adalah kesempatan baru untuk membuat mata kail yang jauh lebih baik.”

Richard terilhami. Nelayan telah gagal berkali-kali, lebih sering daripada ayahnya, dan begitulah caranya untuk menjadi sedemikian sukses. Dan dia senang melakukan hal itu.

Bagi Nelayan, pemelajaran benar-benar







sebuah permainan. Richard mau tidak mau berpikir bahwa beberapa orang mungkin bermain-main karena mereka tidak
mengetahui aturannya.

Nelayan itu sepertinya mengetahui apa yang ada dalam pikiran Richard dan berkata:

Berencanalah untuk kaya dengan sembilan kali kegagalan dari sepuluh kali percobaan. Dengan begitu, entah sukses atau gagal,
kamu masih tetap akan kaya. Jika kamu berencana untuk kaya dengan sembilan kali kesuksesan dari seouluh kali percobaan, kekayaan akan selalu menghindarimu—kecuali, tentu saja, juka kamu beruntung. Beberapa nelayan melakukannya. Mereka menunggu untuk mendapatkan
keberuntungan. Bagi mereka. Ini memang pernainan menunggu.”
Richard menulis:
“15. Berencanalah untuk
gagal.”







Sungai itu mulai melebar dan alirannya semakin lambat. Nelayan itu mengangkat kakinya dan berkata, “Sekarang aku punya pertanyaan untukmu. Apa yang kamu pelajari yang membuatmu menjadi melayan yang lebih baik?”

Richard baru akan menjawab, saat dia menghentikan dirinya. Dia tidak melakukan banyak hal kecuali melempar tali pancing dan menareik ikannya. Pada kenyataannya, dia mulai dengan mengambil mata kail yang
salah. Kemudian, dia ingat telah bertanya kepada Nelayan rapala mana yang terbaik
,
dan dia ingat apa yang ditulisnya setelah bertemu Dokter Mata:
“4. Mintalah dan kamu akan
menerima.”

“Saya belajar bertanya saat saya tidak tahu.”

“Saat kamu tidak tahu atau saat kamu tidak mau menginvestasikan waktumu untuk mencari tahu?”






“Yah, tentu saja saya tidak mau menginvestasikan lima tahun untuh mencari tahu.”

“Dan dalam situasi seperti itu, kepada siapa kamu harus bertanya?”

Richard tersenyum, “Saya akan bertanya kepada ‘karya terilhami yang sedang dalam proses’ yang berhasrat kepada hal-hal seperti memancing dengan rapala.”

“Tepat sekali. Kamu bisa mempercepat kemajuanmu dengan pesat dengan menginvestasikan waktumu dalam jaringan yang mencakup banyak karya terilhami yang sedang dalam proses. Itulah yang dilakukan oleh semua orang kaya. Dengan demikian, kamu menginvestasikan waktumu dalam pemelajaran yang betul-betul mendukung hasrat dan visimu sendiri.”

Richard mencoba memperjelas hal tersebut. “Jadi, Anda memutuskan untuk menjadi
karya terilhami yang sedang dalam proses dalam menciptakan nilai karena di situlah hasrat dan visi Anda. Kemudian, Anda akan







menemukan orang-orang semacam Tukang Leding untuk menciptakan sistem perledingan yang lebih baik dan Tukang Kebun untuk menciptakan kebun yang lebih baik, karena si situlah hasrat dan visi mereka?”

“Tepat sekali!”

“Tetapi, mengapa Anda mau membantu saya?”

“Karena akku tahu karya terilhami yang sedang dalam proses saat aku melihatnya.”

Richard mulai merasa dirinya sangat hebat. Tetapi, dia gelisah karena dia belum cukup berbuat sesuatu. Dia bertanya kepada
Nelayan:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadi kaya saat ini?”

Nelayan tertawa kecil. “Mereka tidak membuat anak sembilan tahun seperti dulu.”
Dia mengetuk dinding kapal lagi. “Lihat kayunya, Nak. Di situlah kamu akan menemukan kekayaanmu.” Dia mengarahkan







kapalnya ke pinggir sungai, dan Richard melihat sebuah garasi kapal.

Selasa, 14 Juni 2016

Bab 5 TUKANG KEBUN



Bab 5
TUKANG KEBUN

Tidak sulit untuk menemukan Tukang
kebun. Richard mengikuti lapangan rumplut
menuju sungai, dan di tepi sungai terdapat
hamparan bunga-bunga, pagar, dan tanaman
buah tercantik yang pernah dilihatnya.
seorang perempuan yang sama cantiknya
duduk di bawah pohon mangga sedang
berpiknik bersama dua orang gadis.

“Halo, saya Richard. Saya baru saja berbicara
dengan Tukang Leding. Bisakah Anda
menunjukkan sesuatu yang ajaib kepada
saya?”

Tukang Kebun tersenyum. “Richard. Hmmm.
Jadi, yang mana?”

“Maaf, maksud anda?”

“Rich-hard. Namamu. Jadi, yang mana?”
Apakah hidupmu Rich? Atau hidupmu Hard?”







Pertanyaan yang sangat aneh. Tanpa pikir
panjang, Richard berkata. ”Hidup itu sulit ...
iya kan?”

hal itu mungkin adalah salah satu hal
terbodoh yang pernah dia katakan.

dia sedang duduk di taman yang indah. Di
bawah sinar hangat matahari musim panas,
memandang sungai yang tenang, merasa
benar-benar damai. Bagaimana mungkin dia
bisa berpikir hidup itu sulit? Tetapi. Begitulah
dia, karena dia memang selalu demikian,
seperti ayahnya juga selalu demikian.

kehangatan hari itu menyelimutinya. Dia
terkejut karena menggigil. Sesuatu akan
terjadi. Saat dia memandang keindahan di
sekelilingnya, bibirnya bergerak dan dia
mendengar suata ayahnya, “Hidup MEMANG
sulit.”

tukang Kebun duduk seolah dia sedang
mendengarkan musik yang indah di udara.
kemudian dari ulutnya yang menyungging
senyum meluncur lembut sebuah senandung.
“Well, well, well ...”








Sensasi menggigil Richard berubah menjadi
oengungkapan yang menggetarkan. Mata
Richard membelalak dan mulai berair.

“Well, well, well.”

kemudian tiba-tiba dia melihat keajaiban.

Richard menahan napas.

“Well, well, well.”

Hal tersebut benar-benar ajaib. Semuanya
terjadi di sekelilingnya. Semua itu ada di
sana sepanjang hari, tetapi dia tidak
melihatnya. Sekarang, tiba-tiba saja dia
melihat dengan lebih jelas. Apa yang
dilihatnya membuatnya terpesona. Hal itu
sangat menakjubkan.

Dia sedang meatap ke dalam Sumur
Kekayaan.

dengan berdebar-debar, dia mulai sekilas
membaca kata-kata Perempuan Tua, Dokter
Mata, Tukang Leding, dan Tukang Kebun. Dia
mengingat apa yang mereka katakan,








mengingat apa yang mulai dia tanyakan, apa
yang mulai dia tuliskan.

dia berputar untuk memandang Tukang
kebun dengan sorot mata penuh
kegembiraan. Tukan gkebun tahu bahwa
Richard bisa melihat keajaibannya. Richard
tertawa keras dan berseru, “Well, well, well!”

dia melompat dan menari-nari di sepanjang
kebun, membuat geli dua gadis yang ada di
sana, “Well, well, well! Itulah Sumur (well)
Kekayaan! Kalian semua telah
nengetahuinya! Siapa pun bisa melihatnya.
tetapi, saya bisa melihatnya sekaran! Sumur
itu ada dalam Kata-Kata ita!”

“SUMUR ITU ADA DALAM KATA-KATA KITA!!”

Dia duduk kembali di bangku, menghapus air
matanya. “Saya tidak sungguh-sungguh
dengan kata-kata saya tadi. Saya sungguh
tidak bermaksud demikian. Hidup tidak sulit.
hidup itu Kaya. Saya sungguh-sungguh
percaya bahwa hidup itu Kaya, dan hidup itu












lebih Kaya dapipada yang pernah saya
bayangkan.”

Tukang Kebun menambahkan, “Hidup itu
Sulit katau Hidup itu Kaya—apa yang kamu
lihat selalu merupakan apa yang kamu
dapatkan
.” Kemudian dia menggemakan
“Sumur itu ada dalam Kata-Katamu”.

Richard berbicara dengan gelenyar
kegembiraan, “Saya bisa merasakan bahwa
orang-orang yang saya temui hari ini berpikir
dengan cara yang berbeda dibanding ayah
saya dan orang-orang uang saya kenal di desa
saya.
Mereka menggunakan kata-kata yang
lebih baik. Saya kira mereka bisa
mengajukan pertanyaan yang lebih baik
karena mereka mempunyai pila pikir yang
lebih baik. Tetapi, sejkarang saya tahu itu
terbalik.”

Mereka memiliki pila pikir lebih baik karena
mereka mengajukan pertanyaan yang lebih
baik. Karena mereka menggunakan kata-kata
yang lebih baik.









“Seperti uang sedamg kamu lakukan
sekarang!” Tukang Kebun menambahkan.

Richard melanjutkan, “Tukang Leding, Dokter
Mata. Mereka memulai sama seperti saya,
seperti ayah saya. Tetapi, saat mereka mulai
mengubah kata-kata mereka, mereka mulai
memperileh kejelasan. Mereka mulai
memanfaatkan Sumur dan karena itulah
mereka sekarang kaya.”

“Seumur hidup, kita mengunjungi Sumur
Kekayaan. Tetapi, itu bukan Sumur yang
sesungguhnya. Sumur yang sesungguhnya
ada dalam kata-kata kita, dan sumur
tersebut jauh lebih besar daripada yang
pernah saya bayangkan.”

Tukamg Kebun mengangguk, “Dan setiap Kata Kekayaan yang kamu ucapkan atau pikirkan mengalir ke dalam Sumur. Setiap pertanyaan lebih baik yang kamu ajukan menimba
sesuatu dari Sumur. Semua itu tanpa batas.”

“Ajaib!” Richard pun menulis:









“8. Sumurmu ada dalam
Kata-Katamu.”

Tukang Kebun tersenyum lagi. Dia kemudian memandang Richard dam melakukan sesuatuyang aneh. Dengan binar paling menakjubkan, dia mengedipkan sebelah mata.

Richard ingat perkataan Tukang Leding:

“5. Pemelajaran adalah
permainan


Dia mulai benar-benar menikmati permainan
itu.
“Apakah Anda kaya?”
“Aku mempunyai dua anak perempuan yang luar biasa dan suami yang hebat,
kesehatanku terjaga, dan aku punya banyak waktu, jadi, ya, aku kaya”







“Apakah Anda memiliki bisnis dan investasi uang memberi Anda keran uan gsehingga Anda tidak perlu khawatir soal uang?”

“aAkku pemilik seluruh tanah yang kamu lihat di sini. Dokter Mata menuewa dariku, seperti halnya delapan puluh lima penduduk kaya lainnya di area ini. Aku juga berinvestasi di sejumlah pengembang properti di desa ini.”

“Dulu aku mencari uang hanya dengan
menjadi seorang tukang kebun, tetapi aku menyisihkan sebagian penghasilanku, dan
yang lebih penting, aku menginvestasikan waktuku untuk menjadi sangat meuakinkan
di hadapan para pemodal dan bankir
. Aku
juga meninvestasikan waktuku untuk
bertemu dan belajar dari pada pengembang tanah dan properti yang sukses.

“Kamu tahu, aku punya visi untuk memiliki tanahkku sendiri.  Visiku adalah bahwa alam akan memberiku kekayaan dan sebagai imbalannya aku aka memberikan
kekayaanku kepada alam. Itulah uang
dilakukan oleh tukang kebun uang baik.
Itulah yang kamu lihat di sini. Aku telah mewujudkan impianku.”







Dua gadis di
tepi sungai. Richard tiba-tiba menyadari kehangatan sinar matahari. Dia menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Ada burung berwarna-warni berkicau di pepohonan dan segerombolan kupu-kupu bermain di taman bunga. Richard merasa sedih saat dia memikirkan rumah kecilnya dan ayahnya,
yang terbaring sakit dan bosan di tempat
tidur.

Richard berpikir sejenak. “Tetapi, jika Dokter Mata begitu kaya, mengapa dia menyewa rumah dari Anda?”

“Ali Kacamata memiliki visi yang hebat. Dalam visinya, tidak masuk akal baginya untuk menanamkan uang di sebuah rumah permanen. Dia lebih suka berinvesrasi dan menganggap rumah sebagi pengeluaran. Lagi pula, dengan cara, imi aku senang merawat kebun untuknya. Dia menyukai
perawatanku.”

meskipun tahu jawabannya, Richard tetap mengajukan pertanyaan selanjutnya. “Dan bagaimana Anda menjadi begitu kaya?”








Tukang Kebun tertawa sambil menatap sungai. ”Aku menjadi tukang kebun yang lebih baik!”

“Karena kamu pernah bersama Tukang
Leding, aku bisa membayangkan apa yang telah kamu pelajari. Jadi, apa pertanyaanmu yang lebih baik?”

Richard telah siap, “Saya tahu saya harus menemukan cisi saya, dan saya harus menginvestasikan waktu saya alih-alih menghabiskannya. Tetapi, bagaimana caranya?”

“Tolong berikan pertanyaan yang lebih baik jika kamu tidak keberatan.”

Richard punya pertanyaan yang tampaknya tidak relevan. Tetapi mungkin juga relevan. “Tukang Leding tidak perlu bekerja. Anda juga tidak perlu. Jadi megnapa Anda
bekerja?”

“Pertanyaan bagus! Bagiku, berkebun bukanlah pekerjaan. Berkebun adalah
hasratku. Setiap kali berkebun, aku mememnuhi visiku, itulah rahasianya, Richard.







Kekayaan berawal dari pikiranmu.
Kekayaan bukannlah akhir. Kekayaan adalah awal.”

“Bagaimana kekayaan menjadi awal bagi Anda?”

“Kamu lihat kebun ini? Kebun ini adalah beraneka rabam warna, aroma, dan suara. Kebun ini dimulai dari sebidang tanah. Akku memberinya berlimpah air, mataharim kasih sayang, perhatian, dan hasrat. Sebagai balasannya, aku mempunyai kekayaan alam yang memberiku imbalan setiap hari. Kekayaan dimulai jauh sebelum bunganya mekar.”

Richard duduk memandangi bunga-bunga, dan dia tersenyum oleh kata-kata itu. Kekayaan dimulai jauh sebelum bunganya mekar.

Richard menulis:
“Kekayaan adalah awal,
bukan akhir.”








“Saya tahu bagaimana Anda mendapatkan kejelasan. Tetapi, bagaimana Anda memfokuskan diri?”

“Saat aku memutuskan untuk menjadi tukang kebun yang lebih baik, aku meminimalkan waktu yang kuhabiskan dan memaksimalkan waktu uang kuinvestasikan. Aku memperlakukan hidupku sebagai kebun, dan fokusku seperti slang penyiraman tanamanku. Yang kujadikan fokus kusiram dan tumbuh. Uang tidak kujadikan folus menjadi kering dan mati.”

Richard berpikir tentang tanaman liar di
kebun ayahnya uang selalu menjadi fokus ayahmua. Setiap kali ayahnya berkata, “Ini tidak adil,” sesungguhnya dia telah menyiram dan menumbuhkan tanaman liar itu menjadi pepohonan yang lebat. Yang jauh lebih buruk, seluruh bakat dan aspirasinya telah
diabaikan, dan layu. Dia menarik napas.

“Aku segera menyadaro bahwa aktivitasku yang paling bernilai adalah menabur, memelihara, dan menuai. Jal itu berlaku untuk pemelajaran, jaringan, dan investasiku












Aku memiliki sedikit pengalamam atau ketertarikan di bidang keuangan, tetapi aku memiliki segudang pengalaman dan ketertarikan pada berkebun.”

“Aku menabur benih pada setiap orang yang kutemui dan pada setiap alah baru yang kupelajari cara penggunaannya. Aku
membina hubungan baik dan menjaga investasiku. Aku menuai penghargaan dengan sadar dan pada saat yang tepat. Jika tidak demikian, aku mungkin telah mencoba
menuai terlalu awal, tidak menabur dengan kasinh sayang sepenuhnya, atau tidak memelihara dengan komitmen penuh.”

“Aku menjadi kaya hanya dengan menjadi tukang kebun yang lebih baik.”

Rivhard berpikir keras mengenai dirinya dan ayahnya. Apa yang telah mereka tabur? Apa yang telah mereka pelihara? Tidak mengherankan kalau mereka belum banyak berkembang. Apa yang mau ditumbuh-kembangkan jika mereka belum
menggunakan waktu untuk menabur apa pun?













Dia bertanya dengan lantang, “Jadi, mengunjungi Sumur Kekayaan berarti menabur ataukah menuai?”

“Sumur yang mana?” Tukang Kebun tertawa.

“Bukan Sumur sesungguhnya—bukan Sumur dalam Kata-Kata kita. Sumur yang selalu dikunjungi penduduk desa setiap hari.”

“Kupikir kamu sudah tahu bahwa itu bukan menabur ataupun menuai.”

Richard berpikir tentang keran waktu Tukang Leding. Dia tahu bahwa dia harus menginvestasikan waktunya alih-alih menghabiskannya. Sekarang dia paham
bahwa dia perlu membagi investasi waktunya menjadi menabur, memelihara, dan menuai.

Dia pun menulis:

“10. Menabur, memelihara,
menuai.”






Sejurus kemudian Richard tiba-tiba
menyadari bahwa dia telah kehilangan kesempatan emas untuk menabur. Dia telah bertemu orang-orang yang sangat fantastis, tetapi dia belum meminta mereka untuk terus berhubungan dengannya, dia segera memutuskan untuk melakukannya, mulai
dari Tukang Kebun
: “Bisakah kita berteman?”

“Jika itu yang kamu mau. Tentu saja, aku akan senang menjadi temanmu.”

Apa yang dia maksud dengan, “Jika itu yang aku mau”? Richard tahu bahwa dia telah melewatkan sesuatu. Dia harus bekerja lebih keras agar bisa melintarkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih baik. Dia memandangi gadis-gadis yang sedang berenang di sungai. Dia bertanya-tanya apa yang akan dipikirkan ikan-ikan tentang hal tersebut.

Dia bertanya, “Saat Anda membangun kebun Anda, bagaimana Anda mengetahui apa yang harus menjadi fokus Anda?”

“Pernahkah kamu mendengar ungkapan “Tidak bisa melihat kayu karena sibuk








mengamati pohonnya”? Aku belum mengetahui fokusku sebelum aku tahu
seperti apa kebun yang kuinginkan. Begitu memiliki visi, begitu memiliki gambaran jelas akan seperti apa nantinya kebun itu, aku
bisa mulai melihat apa yang harus kutabur,
apa yang harus kupelihara, apa yang harus kutuai.
Saat aku berjalan-jalan di kebunku setiap hari, jelas bagiku di mana seharusnya aku menginvestasikan 24 tetes air milikku. Dengan hanya 24 tetes, akku harus sangat
hati-hati di mana aku menginvestasikannya.”

“Dan kamu tahu, hari demi hari aku mulai melihat akar-akar dan rumput-rumput tua melayu karena akuk mengabaikannya. Aku mulai melihat pemelajaran, persahabatan, relasi, dan investasiku berkembang. Jalan-jalanku setiap hari di kebunku selalu mengasyikkan dan menyenangkan.”

“Jadi, Richard. Katakan kepadaku, kamu ingin kebunmu seperti apa?”

Richard bukan tukang kebun. Dia pernah mencoba menanam kentang di pot kecil di rumahnya tetapi hanya itu. Namun, dia













terilhami mendengarkan Tukang Kebun, dan dia ingat perkataan Dokter Mata tentang empat tingkat komunikasi:

“2. Pilih tingkat di mana
kamu ingin bermain.”


“Saya juga ingin memiliki kebun yang indah. Saya ingin melihat lebih dari sekadar pepohonannya. Saya ingin bisa melihat kamu sebagai ganti pepohinannya, saya sungguh ingin melihat kayunya.  Saya ingin menjalani kehidupan yang penuh ilham, di mana kekayaan didapatkan dari kekayaan yang
saya berikan. Saya ingin hidup dengan visi hebat saya sendiri. Bagaimana menemukannya?”

“Jika kamu ingin menemukan visimu, ikukti hasratmu. Semakin pekerjaanmu tidak terasa sebagai pekerjaan, semakin dekat kamu dengan visimu.”


Richard mulai merasa sangsi lagi. “Tukang Leding tidak pernah memberi penjelasan apa pun mengenai hasrat.”





“Berarti kamu tidak mendengarkan.
Setahuku, seluruh penjelasannya adalah mengenai hasrat, jika kamu mencari visimu, biarkan hasrat menjadi penunjuk arahmu. Sekarang, ada seseorang yang perlu kamu temui.”

Richard berdiri dan mengikuti Tukang Kebun menuju pinggir sungai. Sembari berjalan dia menulis:


“11. Hasratmu adalah
penunjuk arahmu.”


dia berpikir tentang ayahnya lagi. Hasratnya adalah mengeluh. Jadi, bagaimana keluhan akan membuat mereka kaya.

Mereka menemukan gadis-gadis itu di dekat kapal pencari ikan yang dilabuhkan di pinggir sungai. Seorang lelaki berjenggot menunjukkan dan kemudian memberikan seekor ikan gemuk kepada mereka. Mereka melemparkannya kembali ke dalam air dengan jerit dan tawa yang mengingatkan Richard kepada ibunya.






“Richard, perkenalkan Nelayan, Richard adalah anak muda yang sedang mencari
kayu.”

Richard mengulurkan tangannya. “Halo, saya Richard. Siap melayani Anda!”

“Well, well, well!” seru Nelayan. “Cari kayu, ya? Nah, kalau begitu, naiklah, kita akan menyusuri sungai.”

Richard melompat ke dalam kapal dan berpaling kepada Tukang Kebun. “Jika Anda hendak memberi saya kata-kata bijak, apa yang akan Anda katakan?”

Tukang Kebun melihat sekeliling surganya sembari menarik napas panjang, kemudian berkata keplada anak-anal gadisnya. “Anak-anak, kenapa kalian tidak memberi bekal kepada Richard?”

Salah satu gadis itu memandang Richard,
dan untuk pertamakalinya Richard melihat mata indahnya. Mata itu berbinar. Saat Nelayan bertolak, gadis itu bernyanyi:









“Dunia sedang menunggu,
Berharap... “

Richard menatapnya selama mungkin dengan jantung berdebat-debar.