Selasa, 13 Agustus 2013

Theater JKT48 dan Bunga Misteri [ Part 1 ]

Berikut adalah artikel yang bersumber dari janganbacaya.blogspot,com dimana blog tersebut sudah out of service. Selamat membaca.


"…senyum itu tak selamanya indah"

Okay, sebelumnya ini bukan artikel resmi – apalagi sampai turun cetak dan diterbitin di majalah. Ini ga lebih dari sekedar pandangan aja yang saya bentuk jadi cerita. Jadi di sini ga ada paksaan untuk percaya, setuju atau mendukung. Tapi kalau kita emang punya pandangan yang sama, ayo kita sama-sama mencari solusi yang kecil dan praktis, siapa tau itu bisa berarti banyak.

***
Mungkin di antara para Wota, fans, atau apapun namanya, udah sering dan ga asing denger nama Jiro – atau mungkin masih lebih kenal sama Balenk? Ya, Jiro-san ini saya kurang tau posisinya apa di JKT Official Team, yang jelas dia itu Boss-nya. Ada apa dengan si J-san ini? Menjawab pertanyaan “Ada apa” ini susah-susah gampang. Tapi saya akan coba bikin jawaban segampang mungkin.
Kemarin (26 Januari 2013), saya dapat pengalaman yang cukup berharga dan informatif. Seperti biasa, awalnya niat WL di Theater karena ga dapet email verifikasi. WL gagal, akhirnya saya nungguin temen saya yang orang JOT (JKT Official Team) juga. Saya tau kalau kemarin sore itu bakal diadain shooting untuk Team-J karena temen saya udah ngasih kabar di hari sebelumnya.
Singkatnya, proses shooting ini memakan waktu sampai hampir pagi (sekitar jam 4 pagi). Dan saya mau ga mau juga nungguin temen saya sampai jam segitu. Sekitar jam setengah satu, saya turun dari F5 ke depan JKT48 Theater. Duduk di situ, ngobrol sama security­-nya, dan di sini saya berhasil mendapat informasi cukup banyak.

***

J-san, sebagai Big-B tentunya memegang kendali penuh terhadap seluruh kegiatan manajemen JKT48. Begini, semalam saya hanya melihat sekumpulan orang-orang yang kelelahan di dalam JKT48 Theater. Ga peduli segaya apapun penampilan mereka, mukanya kusut, lecek! Dan berkali-kali dari mulut mereka cuma keluar keluhan capek.

Ya, para crew dan JOT kayaknya emang udah ga bisa lagi pura-pura pasang tampang cool dan sok galak kayak kalau lagi menghalau para Wota garis keras. Saya kebetulan sempat ikut salah satu security ngintip ke dalem stage untuk ngeliat prosesi shooting Setlist Pajamas Drive yang totalnya 16 lagu itu. Apa yang terlihat? Member yang terus berusaha mengulang take karena udah ga konsentrasi, crew yang mondar-mandir sambil ngeliat jam dan memasang muka lelah, temen saya pun berkali-kali harus menutup mulutnya yang keliatan menguap.

Security itu – saya lupa namanya, juga cuma bisa bilang, “Member pada tepar semua, Mas.”, diiringi gelengan kepala. Saya cuma tersenyum kecut sambil menahan desiran miris di dada. Kita berdua balik ke depan, ngobrol lagi. Obrolan keluar begitu aja, random, ga jelas – tapi begitu seru dan menarik. Dan beberapa kali kita masuk ke dalam topik manajemen JOT.

***
Kata-kata yang keluar dari security berkumis ini polos, jujur, tapi penuh hal yang mengejutkan. Dia bercerita panjang lebar, memberikan pandangan terhadap kegiatan yang selama ini berlangsung di JKT48. Saya emang bukan orang yang baru banget tau soal JKT48, apalagi temen saya juga seorang JOT. Tapi denger pendapat dari orang awam ini, saya kaget.

Awalnya saya cuma memancing dengan pertanyaan sederhana, “Yang ubanan itu Jiro ya, Pak?”. Kebetulan J-san baru aja melewati kami berdua, mungkin dia mau pulang – semoga. Dari situ si bapak security ini cerita. Dan dari percakapan kami, berikut yang bisa saya tangkap:
1. Untuk seukuran JKT48 yang punya nama dan fans di mana-mana, gaji mereka cuma sedikit lebih banyak dari UMR DKI Jakarta tahun 2012. Baru terhitung Januari 2013 ini mereka naik gaji jadi dua kali lipatnya. Sementara, gaji para petinggi – sebut aja si Balenk, katanya sampai sekitar 10 kali lipatnya – silakan itung sendiri berapa-berapanya.

2. Pembayaran gaji member keliatannya sering telat. Dua kali saya denger ada yang bilang gaji mereka telat dibayar sampai sebulan – sementara show terus berjalan.

3. Pembayaran gaji member keliatannya sering telat. Dua kali saya denger ada yang bilang gaji mereka telat dibayar sampai sebulan – sementara show terus berjalan.

4. Segala pendapatan, dari show, iklan atau penjualan SWAG masuk ke pihak manajemen dengan pembagian yang kayaknya juga ga jelas – mengingat para member ini belum punya kontrak. Padahal, pendapatan stand SWAG sendiri bisa lebih dari 50 juta sehari.

5. Kasus graduate tertentu, kayak Cleo atau Ochi, besar kemungkinan berawal dari persoalan gaji atau kebijakan dan kinerja J-san yang ga memuaskan di mata ortu kedua member itu.

6. Dulu ortu member yang mau nonton show tetep harus bayar kayak yang lain. Alhamdulillah sekarang udah gratis. Dan itu juga bisa gratis karena banyak protes dari member.

7. Persetujuan proposal show yang berbelit. Pihak JOT terlalu banyak maunya. Mungkin itu sebabnya JKT48 jarang tur ke luar kota, ga ada yang mampu memenuhi persyaratan yang diajuin JOT karena terlalu mahal.

8. J-san orang yang terlalu praktis tapi ga efisien – mungkin lebih cocok disebut “semaunya sendiri”. Kalau malam itu dia minta sesuatu dan besok paginya harus selesai, maka itu yang harus terjadi.

9. J-san terkesan ga peduli sama segala tudingan negatif soal kinerjanya. Selama dia masih punya sesuatu yang bisa menghasilkan uang untuk dia – para member, dia bakal tetep tenang-tenang dan seneng-seneng aja.

10. Dan J-san mengerti bahasa Indonesia. Ini kayak pedang bermata dua. Dalam satu sisi komunikasi bisa berjalan lancar, tapi di sisi lain pasti susah untuk ngomongin J-san.

Ada sepuluh poin – kurang lebih. Bukan masalah jumlah poinnya, tapi besarnya pengaruh yang dihasilkan dari poin tersebut. Contoh paling kecil, ya seperti poin nomer lima, member bakal graduate. Satu, dua, tiga orang mungkin keliatan dikit dari total member Team-J yang semula ada 24 orang. Tapi kalau ini ga segera dihentikan? Silakan difikir dan dijawab sendiri.
Bahkan kemarin saya liat beberapa ortu member keluar dari lorong Theater dengan wajah kesal. Ada sekitar empat orang saya hitung, salah satunya ada ibunya Beby dan ibunya Shanju. Seorang laki-laki – entah ayahnya siapa, terlihat yang paling emosi. Sepanjang jalan menuju lorong lift dia terus ngomel-ngomel. Intinya dia marah karena ga dikabarin kalau shooting­-nya itu sampai jam segini (sekitar setengah satu pagi) belum selesai, apalagi nanti paginya mereka harus show lagi di Dahsyat, dan siangnya mereka ada show juga di Idola Cilik. Rena, cuma bisa diem waktu dimarahin ibunya di lorong lift sekitar jam dua. Saya ga tau apa isi percakapan mereka karena pakai bahasa Jepang.

***
Semakin pagi, suasana semakin tegang dan semakin ngantuk. Dan itu memperlambat proses shooting yang berjalan. Ya, semua udah capek, ngantuk, kedinginan, laper, mungkin juga badannya lengket karena belum kena air. Ortu member yang pulang juga makin banyak. Mereka milih pulang dan ninggalin member untuk nginep di Theater. Baru besok paginya mereka nyusul ke studio RCTI.
Obrolan saya masih berlanjut, sambil diiringi backsound lagu-lagu dari setlist Pajamas Drive – yang sesekali diulang karena kemungkinan besar para member tampil kurang maksimal. Beberapa crew yang keluar menjawab tinggal tiga lagu lagi, tapi mereka ga berani mastiin sampai jam berapa. Saya liat security yang satu lagi udah tidur dibalik stand SWAG.
Ga lama saya turun untuk ngopi bareng Pak Kumis ini. Sekarang topik obrolan meluas, tapi saya coba pancing lagi ke arah JOT – berhasil. Dia bilang, “Sebetulnya menurut saya member itu kasian lho, Mas. Gini, coba sampeyan bayangin, mereka kerja sampe kayak gitu, cuma digaji segitu, telat lagi. Yang manajernya ga ngapa-ngapain malah gajinya gede banget. Yang capek siapa, yang kaya siapa.”.
Dia nyeruput kopi sebentar – dan lanjut ngomong lagi. “Padahal seandainya mereka keluar terus ikut main film, sinetron atau semacamnya gitu saya yakin gajinya lebih besar lho, Mas. Dan tentunya ga secapek ini, karena ada manajer, kan. Lha, yang sekarang ini manajer mereka siapa? Paling orang tuanya. Jiro itu udah jelas nganggep mereka kayak mesin duitnya dia, Mas.”
“Pernah, Mas waktu itu dia nyuruh ngecat tembok depan Theater. Nyuruhnya malem, tapi maunya pagi udah kelar. Wah, Mas! Itu yang namanya kipas angin kita pasang semua biar cepet kering! Bau catnya kemana-mana! Kacau itu orang. Kayaknya dendam banget itu orang Jepang sama kita.”, Pak Kumis terus berceloteh.

Intinya, J-san ini lagi melakukan perbudakan – yang berkedok dunia hiburan, entertainment, Idol atau apapun namanya. Bahkan orang awam kayak salah satu temen saya juga bisa liat itu. Para member ini pastinya sadar kalau mereka udah terjebak. Mereka menderita – mungkin. Tapi mereka ga bisa ngapa-ngapain selain menikmati penderitaannya – atau keluar dan meninggalkan embel-embel “JKT48”.

Saya masih inget sekitar jam setengah dua, ga sengaja pintu staff kebuka. Dari dalem saya denger ada yang teriak “Woi, capek, nih! Capeeek!”, yang kemudian saya tau itu Melody. Itu pasti cuma sebagian teriakan yang berhasil keluar dari mulut mereka. Selebihnya, mereka harus menelan lagi semua. Atau, kejadian seperti Oshi saya – Ghaida, akan terulang.

Di taksi, saya sempet nyeletuk ke temen saya yang JOT itu, “Parah, ya si Jiro. Maksud gw, mereka itu cewek, bukan kuli! Ga heran Cleo sama Ochi graduate… Untung kejadian kayak gini ga sering.”. Temen saya sambil terkantuk-kantuk nimpalin omongan saya, “Kalo sering pada graduate semua, Yud.”. Saya diem sambil mengangguk pelan.

***
Jadi siapa yang harus disalahkan sekarang – atau nanti kalau yang dibilang temen saya itu kejadian? J-san, kah? Sebagai pemegang kendali teratas, semua kesalahan pasti tertuju ke dia. Semua kemarahan, kebencian. Bahkan saya sendiri saking gemesnya sampai nyeletuk, “Pengen gw ajak gelut si Jiro, hahahaha…”. J-san serta-merta jadi public enemy #1.

Tapi apa cuma dia? Gimana dengan anggota JOT lain yang punya jabatan cukup tinggi. Apa mereka ga merasa bersalah – atau kasian? Apa mereka ga pernah sesekali mendengar keluhan para member – yang membuat saya keinget sama topik MC beberapa show lalu, “Kira-kira kalau member jadi JOT bakal mau ngapain?”. Dan Melody memberi jawaban sangat baik – nyamar jadi member atau fans, biar bisa tau keluhan mereka, jadi semua bisa lebih baik.

Kode, kah? Curhat, kah? Kenyataan, kah? Kalau kita melihat dan mendengar kata tersebut keluar dari bibir indah seorang perempuan berusia 20 – 21 tahun yang cantik, mungkin kita ga berfikir ke arah situ. Atau mungkin kita berfikir tapi seketika itu juga ilang dan teralihkan sama wajah-wajah dan suara indah member yang lain.

Tapi saya, seorang fans, Wota – apalah sebutannya, yang juga merangkap sebagai jurnalis, sangat bersyukur, Alhamdulillah, bisa ngobrol dengan tiga member dalam sesi wawancara untuk artikel majalah saya. Saya memperhatikan betul setiap jawaban mereka, mencoba merasakan lelah dan tekanan yang mereka alami. Mereka persis seperti lagu “Boku no Sakura” – perlahan rontok.
Belum lagi cerita-cerita dari temen saya yang setiap hari ada di back stage, saya yang cowok harus berkali-kali ngelus dada sambil menyaut “Serius lo?!” dengan nada tinggi karena hal-hal yang sangat ga masuk akal – ga manusiawi. Semakin ke sini saya sering berfikir, “Apa mereka bakal bisa jadi seperti yang diharapkan? Mungkin sekarang mereka masih berusaha bertahan. Tapi sampai kapan? Dan pihak JOT, apa mereka sadar sama apa yang mereka lakukan? Apa mereka tau kalau mereka lagi menanam bow waktu di dalam tubuh JKT48? Dan saat bom meledak, apa yang bakal mereka lakuin? Berdiam diri, meninggalkan JKT48 yang tinggal jadi nama? Dan para fans zombie itu, apa mereka pernah berfikir gimana penderitaan para member – yang suatu saat bakal bikin kalian ngerti dan belajar cara mendukung dan nge-fans yang baik.”.
Nge-fans yang baik? Ya, karena beberapa fans salah mengartikan kata “mendukung” dan menjadi brutal. Kebanyakan dari kita rela antre lama, ngeluarin dana banyak untuk nonton mereka dan dapet sesuatu yang menyenangkan. Kita ingin mereka selalu senyum untuk kita, mambalas lambaian tangan kita, menoleh waktu kita panggil dan hal-hal kecil yang begitu ngebosenin dan melelahkan untuk member – yang pasti kita ga sadar, atau sengaja ga mau kita sadari.

***
Kehadiran Gen-2, JKT48-Trainee atau KKS (Kenkyuusei), mungkin bisa jadi sedikit angin segar untuk kita dan mereka – Team-J. Tapi kalau manajemen ga segera dibenahi, J-san ga segera sadar, JOT ga mau peduli, lagi-lagi semua tinggal nunggu waktu. Dan slogan “Tumbuh bersama fans” akan berubah jadi “Hancur tanpa fans”. Ini bukan pernyataan apatis atau skeptis, ini hanya gambaran betapa mereka-mereka yang merasa punya kepentingan dan kendali atas JKT48 harus segera berbenah.
Selama ini satu-satunya hal yang bisa membuat member tersenyum adalah dukungan para fans. Bahkan dalam wawancara saya, mereka menegaskan kalau dukungan fans itu semangat untuk mereka. Ya, saya – kita sebagai fans, apa yang bisa kita lakukan? Mendukung mereka? Pasti! Tapi apa cuma sebatas itu yang bisa kita berikan sebagai fans? Apa itu yang dimaksud tumbuh bersama fans? Kalau memang begitu, yang saya rasakan adalah kita – para fans, Wota secara ga langsung diperas sama J-san, JOT.

Ini bukan cuma tentang HTM yang berubah, sama sekali bukan. Bahkan pengiriman dan pelayanan dari Rakuten yang beberapa kali berakhir dengan komplain, nyata-nyata bukan jadi masalah dan penghalang. Stand SWAG ga pernah kosong, Rakuten kebanjiran email. Tapi bukan itu yang saya maksud. Yang saya maksud adalah peran serta yang aktif dari fans untuk bisa dilibatkan secara langsung dalam memutuskan – atau setidaknya menilai lalu memberi feedback tentang kebijakan apapun yang sudah, sedang, dan akan diberlakukan dalam JKT48.

Tapi nyatanya itu semua ga terjadi, belum – atau ga akan pernah. Kita cuma diberi kekuasaan dan kebebasan untuk memilih Oshi, Oshihen, mendukung mereka, mengeluarkan uang untuk menonton mereka, dan mengoleksi SWAG – yang hasil pendapatannya pun entah menguap ke kantong siapa. Member dan fans itu tumbuh bersama, bernasib serupa, cuma dalam situasi dan tempat yang berbeda. Satu-satunya yang membedakan kita sama member adalah: Ga ada yang menekan dan mengendalikan kita. Ga ada yang mengambil waktu dan merampas kebebasan kita.
Percayalah, dibalik senyum manis, suara lembut, kerlingan “mematikan”, dan gerakan gemulai para member, mereka menangis. Bukan karena sakit secara harfiah, melainkan bentuk dari kelelahan, keraguan, kesedihan, kekesalan yang bercampur jadi satu dan harus dipaksa meluap lewat cara yang lebih elegan. Bahkan untuk meluapkan emosi dan eskpresi, mereka masih harus berhadapan dengan paksaan.

***
Di balik JKT48 Theater yang begitu riuh, terang, dipenuhi wajah gembira para pemegang email verifikasi, diiringi harap cemas para penghuni waiting list, ada banyak misteri dan teka-teki yang selalu jadi rahasia. Rahasia yang disimpan begitu rapih dalam gelapnya suasana Theater saat show berakhir, di bawah bayangan poni para member yang samar-samar menutupi wajah mereka dengan mata yang menatap nanar – mengisyaratkan lelah yang teramat-sangat. Sementara hati mereka, terus berusaha menyalakan api semangat dan berharap untuk bisa menjadi lebih baik lagi.
Tulisan ini mungkin menyimpang jauh dari topik J-san. Tapi mau gimana lagi? Kenyataannya semua emang saling terkait – dan terlanjur menyebar luas. Sekali lagi, ini cuma pandangan saya atas info-info yang saya dengar, saya liat, dengan mata dan telinga saya sendiri. Kalian percaya, silakan. Ga percaya, saya ga heran. Ini juga bukan tulisan ilmiah yang inspiratif, jadi ga perlu repot memutar otak. Tapi kalau kalian selesai membaca dan mengangguk-angguk, mungkin kita punya pandangan – atau pengalaman yang sama, dan terimakasih untuk setiap waktu kalian yang terbuang.

Senin, 12 Agustus 2013

Kisah Pohon Apel dan Anak Lelaki


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.

Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel.

Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.

“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,”jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.

Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.

“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika
kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.


sumber: MantraUang

Kamis, 08 Agustus 2013

Merubah Bahasa Pada Blog



Kejadian ini diawali ketika pada tanggal 7 agustus 2013 saya coba membuka blog lama saya ketika saya membuka halaman bloger, blog tersebut menjadi berbahasa Arab. Kembali saya ingat-ingat ternyata terakhir saya coba membuka link di twitter orang yang saya follow yang berisikan rumor yang terjadi di fandom JKT48. Blog tersebut berisikan penyimpangan di management JKT48 juga misteri yang selama ini dinilai menyelubungi Theater FX dan para membernya. Mungkin karena itu juga lalu blog tersebut di banned dan pindah ke Kaskus. Anyway, waktu saya coba masuk ke blog tersebut sudah dalam kondisi banned, tapi berisikan bahasa Arab, saya paksakan untuk login, ehh yang saya dapat justru halaman blogger yang saya hadapi command buttonnya berubah menjadi bahawa arab.
                Barusan adalah pengenalan kenapa tulisan ini saya buat heehe. Langsung saja ke intinya
1.       Buka command button yang terdapat pada pojok kiri atas. Untuk lebih jelasnya lihat di gambar berikut.



2.       Silahkan anda scroll ke bawah anda akan menemui opsi bahasa apa saja yang didukung oleh blog ini. Klik bahasa apa yang ingin anda pergunakan. Disini saya akan menggunakan bahasa indonesia




3.       Taraaaaaaaaaaaaaaaa XD blog anda kini sudah memiliki opsi bahasa indonesia





Demikian tulisan yang saya buat, dan setelah blog tersebut menjadi berbahasa indonesia, langsung saya eksekusi ke proses selanjutnya, yaitu mengembalikan password blog saya yang sudah dari tahun 2011 tidak terurus jadi harus saya reset kembali.


Salam Super

Rabu, 07 Agustus 2013

Memulai Membuat Blog



Konbanwa ^_^ selamat datang kembali di blog saya yang sederhana ini. Tampa basa basi dan panjang lebar bari kita lanjutkan. Sesuai dengan judul diatas, kita akan belajar bagaimana membuat blog.
1.       Sebelum anda memulai membuat blog, anda harus memiliki akun gmail. Kalalau sudah silahkan anda log in. Kemudian masuk ke halaman blogger.



2.       Selanjutnya di halaman blogger ini akan ada beberapa command button. Untuk memulai membat blog silahkan di klik “blog baru”





3.       Menuju ke jendela selanjutnya akan ada isian dimana anda akan menyisipkan beberapa informasi di kolom tersebut





·         Judul : maksudnya anda akan memberikan nama pada blog milik anda, nama tersebut mewakili keseluruhan apa yang anda posting pada blog nantinya
·         Alamat : maksudnya URL apa yg anda inginkan sebagai hosting dari blog anda. Apa yang anda masukkan pada alamat ini secara otomatis akan di cek oleh google apakah ada ketersediaannya untuk dipakai. Kalau ternyata alamat tersebut tidak tersedia karena sudah ada orang lain yang menggunakan, maka anda harus coba dengan URL yang lain
·         Template : template ini adalah seperti apa halaman anda nanti akan di tampilkan. Kalau anda memahami bahasa program HTML anda bisa memodifikasi blog anda tersebut sesuai dengan selera anda. Keberadaan template disini hanya memudahkan bagi pengguna awam untuk memodifikasi blog mereka

Setelah selesai silahkan klik comman button “buat blog”.
Dan blog andapun telah selesai, anda bisa langsung mengirim postingan apapun yang anda inginkan. Selamat menikmati blog baru dan selamat menulis. Semoga tulisan kita bermanfaat untuk orang banyak, aamiin

Salam Super

SONICHI metal and idolgroup



Malam ini pukul 00.22 WIB bertepatan dengan 1 Syawal 1434 Hijriah. Dan suara kumandang takbir begitu hebatnya. Yah semua orang bersuka cita menyambut lebaran besok pagi bertepatan dengan tanggal 8 Agustus 2013. Seperti judul yg saya beri di atas, SONICHI, hari pertama.
                Yah, ini adalah hari pertama menulis artikel di blog ini. Sebelumnya saya sudah punya blog tahun 2011. Masih bisa dibuka cuma ada kesulitan ketika saya ingin singkronisasikan dengan akun google saya. Karena blog saya yang pertama menggunakan akun yahoo. Jadi untuk menghindari “masalah” kedepannya, langsung saya rapihkan menggunakan akun gmail saya.
Selamat menikmati dan selamat membaca. Semoga apa yang ada di blog saya ini bisa membantu kalian dalam menambah pengetahuan. Hhhhmmm intinya kita sama-sama sharing supaya bermanfaat



Salam  Super



Catatan :
Kedepannya blog ini dibuat untuk memberikan informasi, baik itu dari JKT48, AKB48 dan sistergroupnya, juga mengenai pandangan dari berbagai pihak menilai bagaimana  fandom ini berjalan. Tulisan yang berkenaan dengan hal tersebut akan menyusul.