Sabtu, 09 Juli 2016

Bab 11 PEREMPUAN TUA (the end)



Bab 11
PEREMPUAN TUA

“Ini benar-benar tidak adil!”
“Aku muak dan bosan.”
Dan begitulah dia. Muak dan bosan. Kenyatannya, dia bosan merasa muak dan muak merasa bosan. Apakah itu adil? Ayah Richard telah bekerja sepenjang hidupnya sebagai tukang kayu. Dia selalu  menginginkan kekayaan, tetapi tidak pernah mendapatkannya. Hal itu mendorongnya bekerja jauh lebih keras sehingga tekanan
yang dia tanggung akhirnya melumatnya sampai gepeng.
Dia sama sekali tidak memiliki uang, dan terbaring sakit di tempat tidur.
Rich ada di sisinya, “Ayah, maafkan aku atas kejadian kemarin. Sesuatu yang ajaib terjadi, yang akan kuceritakan kepadamu nanti.








Tetapi hari ini, aku berjanji untuk mengunjungi Sumur Kekayaan untukmu.”
Tukang Kayu tersenyum, “Terima kasih, Nak. Maafkan Ayah karena telah membuatmu bersedih semalam. Tetapi, kamu tidak boleh melewatkan sehari saja, jadi, kemarin aku harus pergi. Lebih baik aman daripada menyesal.”
Kemudian, sambil memberi Rich uang satu dolar, ia berkata:
“Selama berabad-abad, orang-orang di desa ini telah terbiasa mengunjungi Sumur Kekayaan setiap hari tanpa henti. Bermurah-hatilah kepada Sumur, Anakku, dan Sumur akan bermurah hati kepadamu sebagai balasannya.”
Richard menerima uang itu dan langsung berlari dengan buku catatannya menuju jalan ke Sumur. Dia segera bertemu dengan









Perempuan Tua yang, lagi-lagi, sedang duduk dengan segelas air dingin di tangannya.
“Wow, kamu terlihat Rich hari ini!” serunya.
“Saya datang untuk berterima kasih dan meminta nomor telepon Anda. Saya memulai Bisnis Pemeliharaan Kayu dan Perkayuan, dan saya akan meminta nasihat dari Tukang Leding tentang apa yang perlu saya lakukan untuk mewaralabakan bisnis itu suatu saat nanti. Kemudian, saya ingin berbicara dengan Pendayung mengenai perawatan semua kapalnya di sungai. Saya ingin mengadakan lokakarya di garasi kapalnya.”
Well, well, well. Kedengarannya sangat menarik.” Kata Perempuan Tua. “Dan sudahkan kamu memanfaatkan buku catatan itu dengan baik?”
“Oh, ya, terima kasih.” Dia memperhatikan gambar daftarnya.

































“Bagus sekali. Nah, sebelum berangkat, apakah kamu punya pertanyaan yang lebih baik untukku?”
“Ya, saya punya. Pertama-tama, saya harus mencari Sumur Kekayaan, di mana saya bisa mendapatkan seember air untuk ayah saya. Jalan manakah itu?”
“Apakah kamu punya pertanyaan yang lebih baik?”
Rich keberatan, “Saya benar-benar harus pergi ke Sumur, atau ayah saya akan sangat sedih.”
“Jadi, apakah kamu punya pertanyaan yang lebih baik?”
Rich berpikir beberapa saat. Kemudian, dia melihat daftarnya.
“Berapa lagi yang harus ada dalam daftar?”
Perempuan Tua tersenyum, “Dua, untuk saat ini.”









Rich mengangguk, “Dan apakah seharusnya saya telah mempelajarinya?”
Perempuan Tua terus tersenyum dan mengangguk.
Rich mulai memikirkan hari kemarin. Dia duduk di samping Perempuan Tua dan berpikir keras, karena dia juga tahu dia telah melewatkan sesuatu. Dan itu adalah sesuatu yang sangat penting.
Dia merasa hal itu ada hubungannya dengan jenis orang yang ditemuinya. Dia merasa hal tersebut ada hubungannya dengan bagaimana mereka terhubung. Dia tahu itu ada hubungannya dengan melodi Pemusik dan nyanyian gadis kecil:
“Dunia sedang Menunggu, Berharap …”
Rich berpikir lebih keras. Dia memandangi air dalam gelas di tangan Perempuan Tua. Dia belum meminumnya, dan hal tersebut mengingatkannya kembali pada Air Sumur Kekayaan. Hal itu membuatnya berpikir








tentang air di kolam air mancur dan di taman. Hal itu membuatnya berpikir tentang air di sungai dan di laut.
Dia berpikir sangat keras tentang air itu, dan apa yang dilakukan setiap orang yang ditemuinya dengan air itu. Yang tampaknya dilakukan oleh semua orang di desanya dengan Air dari Sumur adalah meminumnya.
Tetapi, semua orang yang ditemuinya kemarin tampaknya menghargai air dengan cara berbeda. Seolah hal terakhir yang perlu mereka khawatirkan adalah mempunyai minum yang cukup. Mereka tidak hanya menemukan nilai secara berbeda—tetapi juga dengan cara yang jauh lebih besar.
Dia tahu bahwa ada sesuatu dalam hal ini yang harus dia pahami. Sepanjang perjalanannya kemarin, selalu ada lebih banyak air daripada yang bisa digunakannya, dan air itu terus bertambah banyak. Dia ingat apa yang dikatakan oleh Dokter Mata:









“3. Apa yang kamu lihat selalu merupakan apa yang kamu dapatkan.”
Kemudian, dia memikirkan kepanikan ayahnya semalam ketika dia tidak mendapatkan Air Sumur, dan bagaimana suasana hatinya tiba-tiba berubah. Perempuan Tua tampaknya memahami yang sedang dipikirkan Rich dan dia berbisik:
“Air, air, di mana-mana. Dan tak ada satu tetaspun untuk diminum.”
Rich mulai mendapatkan kejelasan selanjutnya. Dia mengangguk ke arah gelas berisi air. “jadi, untuk apakah air itu?”
“Hanya sedikit yang seperti kamu, Rich. Hanya sedikit yang datang untuk menjadi kaya. Banyak orang datang kepadaku untuk mencari Sumur Kekayaan, jadi aku menunjukkan Sumur kepada mereka. Tetapi, tahukah kamu, sebagian besar bahkan tidak










menanyakannya. Mereka datang dan sekadar menanyakan kepadaku mereka haus.”
“Kepada orang-orang tersebut, aku memberikan segelas air.”
“Begitu mengobati rasa haus mereka, mereka tidak melanjutkan perjalanan. Mereka berbalik dan pulang ke rumah begitu saja.”
Perempuan Tua menatap Rich, dan Rich juga menatapnya. Dia berpikir tentang gelas itu, ember, dan lautan. Perempuan itu menganggukkan kepalanya ke buku catatan Rich, dan ia pun menulis:
“29. Air selalu menemukan tinggi permukaannya.”
Perempuan Tua memandang Rich dengan mata berbinar, dan berkata, “Maka, itulah semua yang kamu perlukan untuk ayahmu.” Dia menyerahkan sebuah ember kosong dari Sumur Kekayaan kepada Rich.










Rich menyipitkan matanya mengerti, “Jadi, Anda memiliki Sumur Kekayaan.”
“Tepat sekali. Gadis terkaya di desa.”
“Tetapi, itu bukan Sumur yang sesungguhnya…” Rich melanjutkan.
Perempuan Tua mendesah. “Kita semua memiliki sumur itu, Rich. Tetapi, visiku adalah membantu mereka yang benar-benar tidak mau membantu diri sendiri. Sumur Kekayaan tidak bisa memberi mereka kekayaan, tetapi bisa member mereka keamanan. Gelas ini tidak bisa memberi kelegaan. Sukses, berkecukupan, atau harus bertahan hidup. Semua adalah masalah pilihan.”
Hal itu benar. Siapa pun bisa melakukan perjalanan seperti yang dilakukan Rich kemarin. Sebagian besar tidak melakukannya karena mereka tidak mau menginvestasikan waktu yang diperlukan untuk sukses. Itulah pilihan mereka. Rich ingat apa yang dikatakan Penjaga Penginapan:









“28. Kamu adalah hasil pilihanmu.”
“Lalu, kenapa Anda membantu saya?” “Karena kamu meminta. Dan aku mengirimmu kepada orang yang mempunyai visi yang tepat.”
“Dokter Mata. Saya tidak pernah mengetahui visinya.”
Perempuan Tua tersenyum, “Ya, kamu tahu.”
Rich membalas senyumannya, dan kemudian mengangguk. Dia menatapnya sambil mengajukan pertanyaan yang lebih baik. “Jadi, apa yang ada setelah nomor 29?”
“Jika tidak melihatnya, kamu mengetahui jawabannya. Apa yang kamu lihat selalu merupakan apa yang kamu dapatkan.”
Perempuan Tua memberikan rahasianya, “Tetapi, Rich, aku akan memberitahumu hal ini. Jangan pernah menyerah untuk mencari









yang ada selanjutnya, karena suatu hari kamu akan menemukannya. Saat kamu menemukannya, kamu akan menyadari bahwa ketika sumur Kekayaan memancar dari Kata-Kata kita, yang ada selanjutnya adalah Kekayaan yang melampaui Kata-Kata.”
Apa yang telah dilewatkannya? Apa yang ada setelah nomor 29? Dia tahu itulah yang terpenting. Dia tahu itulah yang jauh paling penting.
Dia bisa merasakan kaitan di antara orang-orang yang ditemuinya. Atau mungkin itu adalah urutannya, dia berpikir keras tentang kata-kata mereka. Dia tidak melihat apa pun dalam kata-kata mereka.
Dia memang harus menjadi tukang kayu yang lebih baik.
Sesuatu dalam daftar 29 pokok pikirannya salah. Urutannya salah. Dia perlu mengubah anak tangga pada tangganya. Dia akan harus memikirkannya, menuliskannya, melakukannya, meninjaunya kembali.








Saat berjanji kepada Perempuan Tua bahwa dia akan bekerja keras, dia tidak menyadari bahwa hal itu akan sekeras ini.
Apa yang ada setelah nomor 29? Tampaknya jawabannya ada di belakangnya. Tetapi, karena dia harus membaca kembali bukunya, jawabannya sebenarnya ada di dedepannya. Dia bertekad akan mengetahuinya. Dia akan membaca kembali bukunya hingga menemukan jawabannya.
Rich menghirup udara segar musim semi, dan tahu bahwa dia pernah berasa di sini sebelumnya. Baru saja sehari yang lalu, ataukah sebulan? Atau setahun?
Dia merasakan kejelasan yang lebih besar, dan kembali menatap Perempuan Tua.
Apa yang ada setelah nomor 29?
Perempuan Tua membalas tatapannya dengan mata biru sejuk.
Dua mata itu adalah mata muda yang penuh semangat. Rich melihat tarian lucu dan








menyenangkan di kolam yang indah itu. Mata Perempuan Tua mengingatkannya kepada kolam air mancur tempat tukang leding menari. Kedua mata itu mengingatkannya kepada sungai di mana kedua gadis itu berenang. Apa yang ada setelah nomor 29?
Saat dia menatap mata Perempuan Tua, terpaku, dia menjadi sadar akan waktu. Dia bisa merasakan aliran waktu seperti arus air yang melewati kapal.
Saat dia memandang rona biru itu, arusnya menjadi tenang, dan dia bisa melihat lautan yang berkilau. Waktunya yang berharga melambat menjadi ayunan yang lamban, dan kemudian berhenti.
Dia menahan napas.
Dengan binar di matanya, Perempuan Tua mengedipkan sebelah matanya.
Dan akhirnya, Rich melihatnya.










TAMAT






“Dunia sedang menunggu,
Berharap ...”















Penutup

Selamat datang kembali, dan terima kasih Anda telah membaca buku ini.
Mohon dipahami bahwa kisah dalam buku ini bukan cerita biasa. Kisah sesungguhnya tidak terletak pada ceritanya. Kisah sesungguhnya adalah sebuah kisah ajaib di balik ceritanya, yang menunggu untuk diungkapkan. Hal itu berarti kisah ini hanya bisa dipahami setelah pembacaan berulang-ulang. Terserah Anda apakah kisah ini Anda pahami pada pembacaan yang kelima atau yang kelima belas.
Kisah sesungguhnya sedang menunggu, menawarkan kunci menuju kekayaan pribadi Anda sendiri.
Jika Anda belum menemukan kisah










sesungguhnya dalam buku ini, apakah Anda siap menerima hal itu? Atau, apakah Anda siap bekerja lebih keras?
Kita puas dengan standar kita. Apakah standar Anda segelas penuh yang Anda dapatkan dari beberapa kali membaca kisah ini, beberapa kali Anda membahasnya, atau Anda hanya puas dengan lautan?
Setiap kali Anda membaca buku ini, kejelasan dan fokus Anda akan meningkat. Apa yang Anda lihat selalu merupakan apa yang Anda dapatkan. Saat Anda melihat lebih banyak, Anda akan mendapatkan lebih banyak. Pada akhirnya, saat tingkat Anda semakin tinggi, Anda akan mendapatkan lautan, air akan selalu berusaha agar permukaannya datar.
Jika Anda menginginkan lebih dari sekadar segelas penuh, jawabannya muncul dengan memikirkan dan menuliskannya. Jika Anda sudah tahu bahwa mengetahui tanpa melakukan berarti belum mengetahui, mana bolpoin Anda? Apa yang telah Anda tuliskan? Apa yang telah Anda lakukan?








Jika Anda menginginkan kejelasan yang lebih besar, ajukan pertanyaan yang lebih baik. Pertanyaan anggapan Anda.
Apa yang dimiliki semua penasihat selain hal-hal yang sudah jelas? Apa definisi Anda mengenai kekayaan?
Mengapa urutannya penting untuk penciptaan kekayaan dan mengapa urutannya tidak selalu tepat? Apakah urutan yang tepat?
Bagaimana menata ulang urutan daftar Rich membuat Anda semakin dekat ke apa yang ada setelah nomor 29?
Apa visi Ahli Kacamata?
Jika kisah sesungguhnya bukan ceritanya, apa kisah sesungguhnya? Jika yang Anda lihat adalah yang Anda dapatkan, apa yang masih belum Anda lihat?
Pintu apa yang tidak Anda buka? Pertanyaan yang lebih baik adalah kunci yang mempertanyakan dan membuka pintu yang









telah berhenti Anda pertanyakan dan telah Anda tutup.
Ada dua pertanyaan lebih baik yang akan membawa Anda lebih dekat, dengan lebih cepat, ke kisah sesungguhnya. Pertanyaan yang mempertanyakan anggapan Anda:
Jika air dalam keseluruhan cerita tidak mewakili apa yang Anda anggap diwakilinya, apa sebenarnya yang diwakilinya?
Dan jika perjalanan Rich tidaklah selama yang Anda kira, berapa lama perjalanan tersebut? Akan berapa lamakah perjalanan itu?
Kita puas dengan standar kita. Apakah standar Anda segelas penuh yang Anda dapatkan dari beberapa kali membaca kisah ini, beberapa kali Anda membahasnya, atau Anda hanya puas dengan lautan? Akankah Anda sungguh-sungguh akan memikirkannya, menuliskannya, melakukannya, meninjaunya kembali?
Anda adalah hasil pilihan Anda.









Jadi, mohon gunakan cerita ini seperti Anda menggunakan gembor penyiram tanaman. Semakin sering Anda menyiramkannya, semakin subur Anda tumbuh.
Petunjuk penggunaan:
Gunakan
Bilas
Ulangi

Bab 10 TUKANG KAYU



Bab 10
TUKANG KAYU

Dia sudah sampai di rumah! Rich berlari dengan gembira menuju pintu depan
rumahnya, sambil memegang buku
catatannya erat-erat saat dia membuka pintu. Hatinya berdebar-debar dan seringai lebar mengembang di wajahnya.
Rich berlari ke dalam rumah dan membuka pintu kamar  ayahnya.
“Ayah, kita akan kaya! Ayah tidak akan percaya pada apa yang terjadi hari ini!”
“Richard! Kenapa kamu pergi begitu lama? Mana Air Sumur?”
Richard terpaku. “Oh tidak, aku tidak mendapatkan Air Sumur. Tetapi, lihat apa yang kudapatkan.” Dia mengeluarkan buku catatannya.









Tukang Kayu mengangkat tubuhnya dari atas tempat tidur dan menatap Richard dengan putus asa. “Richard, mana Air Sumur? Hanya itulah yang harus kamu lakukan hari ini.
Pergi ke Sumur Kekayaan dan ambil Air. Kita memerlukan Air, Richard. Mana Air Sumur?”
Richard berdalih, “Tidak, Ayah, kita tidak memerlukan Air Sumur, Sumur Kekayaan tidak berada di tempat seperti yang ayah pikirkan. Aku telah melihat samudera, Ayah. Aku telah melihat samudera.”
Richard melihat mata ayahnya berkaca-kaca saat Tukang Kayu menggelengkan kepalanya. Dia perlahan mengangkat tubuhnya dari tempat tidur dan mulai mengenakan kaus kakinya. “Aku harus pergi. Aku harus pergi
ke Sumur sekarang. Kita harus mendapatkan Air.”
“Ayah, ini sudah malam. Lakukan itu besok pagi. Ayah, waktu sangatlah berharga. Biar kuberi tahu visiku. Biar kuberi tahu apa yang telah kupelajari hari ini.” Kata-kata Richard berjatuhan di sekelilingnya, berceceran di lantai sebelum mencapai telinga Tukang Kayu.








“Di mana uangnya, Richard?”
Mengucapkan kata-kata itu seolah menyakiti Tukang Kayu, dan dia membungkuk
kesakitan saat berdiri. Richard mulai
menangis.
“Maafkan aku. Aku tidak menyimpan uang itu lagi.”
“Oh, Richard. Kamu tidak tahu. Ini menyedihkan. Ini sangat menyedihkan. Apa yang telah kamu lakukan.” Orang tua itu merogoh-rogoh kotak uang, mengeluarkan uang satu dolar, dan mengenakan jaketnya. “Aku harus pergi sekarang. Aku harus ke Sumur. Kunci pintunya setelah aku keluar. Aku bawa kunci.”
Richard mulai menangis lebih keras saat Tukang Kayu berusaha menuju pintu.
“Tidak, Ayah. Tolong. Tolong, biar kuberi tahu. Lihatlah buku catatanku. Lihat apa
yang telah kutulis. Aku mohon, Ayah.
Lihatlah. Pemelajaran adalah permainan. Waktu adalah aset kita yang paling berharga.








Ayah, semua ada di sini. Tolong duduklah sebentar dan biar kujelaskan kepadamu.”
Richard mengusap matanya dengan putus
asa. Air matanya menyingkirkan visinya, menyingkirkan kejelasannya.
“Biar kuilhami dirimu, Ayah. Sumur itu di
sini. Sumur itu ada dalam Kata-Katamu.”
Dia berbicara kepada pintu yang tertutup.
Dia duduk di lantai dan mulai menangis. Dia mulai memikirkan ibunya, dan itu membuat tangisnya semakin tersedu. Sebelumnya, hari ini akan menjadi hari terbaiknya, namun sekarang, hari ini adalah hari terburuknya.
Hal itu seperti mimpi buruk. Tak satu pun yang nyata. Hanya air matanyalah yang
nyata. Air matanya, derita ayahnya, dan
lantai yang dingin.
Saat Richard terbaring di lantai seperti
boneka rusak, menangisi dirinya hingga tidur, kata-kata Pemusik muncul di kepalanya:









“23. Bukan hanya apa yang kamu lakukan, tetapi juga kapan kamu melakukannya.”
Dan musim dingin pun berlalu.

Bab 9 PENJAGA PENGINAPAN



Bab 9
PENJAGA PENGINAPAN


Rich dan Pemusik berjalan di sepanjang
pantai menuju penginapan yang indah. Saat mereka semakin dekat, seseorang lelaki bertubuh sangat besar keluar
menyambutnya. Pemusik berbicara kepada Rich:
“Ini adalah salah satu penginapan dalam jaringan penginapan Pendayung. Pria ini adalah penjaganya. Dia akan mengatarmu pulang. Tetapi, sebelumnya kamu harus melewatkan waktu bersamanya selama beberapa saat.”
Rich menjawab, “Maksud Anda menginvestasikan waktu beberapa saat bersamanya?”
Pemusik tersenyum, “Ya, menginvestasikan!”








Penjaga Penginapan menyambut Rich dengan jabat tangan beruang dan pelukan pegulat. “Kamu pasti Rich! Selamat datang di surgaku! Mari, silakan masuk.”
Rich memasuki penginapan dan melihat
kebun, air mancur, serta kolam ikan yang paling mengagumkan. Situasinya benar-benar menyenangkan dan staf hotel berlalu lalang seperti mengenakan sepatu permadani ajaib.
“Saya bertemu Tukang Kebun hari ini, dan kebun Anda hampir sama cantiknya dengan miliknya. Anda tahu, visinya adalah yang terhebat.”
Penjaga Penginapan mendesah. “Ah ya. Aku mempunyai teman yang visinya jauh lebih hebat daripada visi Tukang Kebun.”
“Benarkah? Siapa dia?”
“Oh, dia bukan siapa-siapa. Dia tidak pernah melakukan sesuatu dalam hidupnya. Dia
hanya hidup secukupnya.”
Rich tidak mengharapkan jawaban itu.








“Apakah dia tahu apa yang diperlukan untuk menjadi kaya? Sudahkah dia bertemu Tukang Leding dan Nelayan? Sudahkah dia bertemu dengan pemusik?”
“Oh, tentu saja sudah. Hanya saja dia tidak pernah berhasil seperti mereka.”
Matahari mulai tenggelam, dan Rich tiba-tiba merasakan sebuah ketakutan yang tak bisa digambarkan. Apa jadinya jika dia bangun esok hari dan ternyata semuanya hanya
ilusi? Bagaimana jika semuanya tidak sejelas sebelumnya ketika dia berasa di pantai? Kemudian dia ingat mata Pemusik, dan dia mengajukan pertanyaan yang lebih baik:
“Mengapa dia tidak melakukannya?”
“Karena dia bahagia menerima standar yang lebih rendah. Kamu tahu, aku juga seperti itu, sampai aku menjadi Penjaga Penginapan
yang lebih baik.”
Rich menunggu penuh harap.
“Kamu tahu, aku senang melayani orang. Aku








Senang memberi orang pengalaman yang luar biasa, terutama jika untuk itulah mereka datang secara khusus. Aku selalu ingin melakukan yang terbaik. Aku selalu ingin melakukan yang terbaik. Aku melakukannya dalam pekerjaanku, dan aku melakukannya setiap hari dalam hidupku. Tetapi, dulu standarku rendah.”
“Bagaimana standar Anda rendah jika Anda melakukan yang terbaik?”
Penjaga Penginapan duduk di bangku yang elegan dan Rich mengikutinya. Seorang pelayan muncul dengan membawa dua koktil buah. “Pernahkan kamu masuk ke hotel berbintang tiga?”
Rich memikirkannya. “Saya pernah masuk ke hotel berbintang dua di desa.”
“Apakah orang-orang yang bekerja di sana melakukan yang terbaik?”
“Ya.”
“Dan apakah kamu merasakan pengalaman yang sama dengan yang kamu dapat di sini?”







“Tidak, tentu saja tidak!” Rich berhenti. Sebuah kejelasan baru mulai terbentuk.
Penjaga Penginapan melanjutkan, “Untuk waktu yang lama, aku selalu merasa telah melakukan yang terbaik, tetapi tampaknya
aku tidak pernah mencapai apa pun. Aku
mulai menginvestasikan waktuku untuk mengembangkan diri. Aku mempelajari berbagai kunci menuju kekayaan, tetapi kakayaan tetap menjauhiku. Hingga
kemudian aku menyadari bahwa aku masih menjalani kehidupan hotel berbintang dua.”
“Meskipun tahu aku harus menginvestasikan waktuku, aku masih terus menghabiskannya. Meskipun tahu aku harus membangun sistem perledingan yang lebih baik, aku terus saja menundanya. Meskipun tahu bahwa ada
irama menuju kekayaan, aku tidak pernah mencarinya dengan sungguh-sungguh. Aku masih tetap melakukan yang terbaik, tetapi pada akhirnya aku bersedia menerima standar yang lebih rendah.”
Rich menyela, “Jadi, bagaimana Anda
menjadi Penjaga Penginapan yang lebih
baik?”







“Aku menaikkan standarku. Kamu tahu,
bukan pengetahuanmu yang akan
membuatmu kaya, tetapi apa yang kamu lakukan dengan pengetahuanmu.”
Rich ingat apa yang dikatakan Nelayan:
“12. Mengetahui tanpa melakukan berarti belum mengetahui.”
“Saat menaikkan standarku, aku tidak lagi bersedia menghabiskan waktuku begitu saja. Aku tidak lagi bersedia menerima kehidupan yang sedang-sedang saja. Aku tidak mau lagi menuruti pikiran cengeng dan visi yang tidak jelas. Saat tidak lagi menerima perilaku tertentu, kamu tidak punya pilihan lain
kecuali mengambil tindakan dan mengubahnya.”
“Jadi, kehidupan yang kita jalani tidak ditentukan oleh kehidupan yang ingin kita jalani esok, tetapi oleh kehidupan yang kita











jalani saat ini. Kita menentukan standar
kita.”
25. Kamu menentukan standarmu.”
“Nah, Rich. Berikut ini sebuah rahasia untukmu.”
Rich mendekat, menumpahkan sebagian
koktil buahnya.
“Apakah Pemusik memberitahumu soal daya tarik?”
Rich mengangguk.
“Jika kamu mengelola hotel berbintang dua, orang-orang macam apa yang akan kamu tarik?”
Rich menjawab, “Orang-orang berbintang dua?”







“Dan jika kamu mengelola hotel berbintang lima?”
Rich mulai memahaminya.
“Dan berikut ini adalah rahasia yang lain.”
Penjaga Penginapan menyapukan tangannya seolah sedang menaburkan benih di lantai marmer.
“Hotel berbintang lima adalah
tentang pelayanan, kualitas, dan tata karma.
Hal-hal semacam itu tidak membutuhkan
uang. Hanya dibutuhkan aturan dan sistem yang lebih baik untuk memastikan bahwa kamu tidak menerima standar yang lebih rendah. Jadi, kenyataannya, standar yang
lebih tinggi tidak perlu menghabiskan biaya lebih besar, dan kenyataannya …”
Dia mencondingkan badannya ke depan, dan Rich juga.
“… Siapa yang menurutmu harus bekerja
lebih keras? Orang dengan kehidupan berbintang dua atau kehidupan berbintang lima?”
Rich berpikir tentang orang-orang yang








dikenalnya yang ingin hidup lebih baik tetapi bersedia menerima standar yang lebih
rendah. Dia memikirkan ayahnya. Dia
berpikir tentang orang-orang yang ditemuinya hari ini. Tanpa keraguan:
“Orang dengan kehidupan berbintang dua harus melakukan upaya lebih keras.” Dan dia menulis:
“26. Kehidupan berbintang lima lebih mudah daripada kehidupan berbintang dua.”
Rich mendapatkan ilham lagi, dan dia menuliskan daftar aturan dan system kehidupan berbintang lima.
Kemudian dia punya sebuah pertanyaan
untuk Penjaga Penginapan. “Sekarang setelah Anda menjalani kehidupan berbintang lima, mengapa Anda memilih bekerja untuk Pendayung alih-alih bekerja untuk diri
sendiri?”








Penjaga Penginapan tertawa terbahak-bahak. “Aku menyukai pekerjaanku! Jangan ambil pekerjaan ini dariku! Aku melakukan apa
yang kusuka untuk mencari nafkah, aku
hidup di surgaku dengan gratis, dan semua pendapatanku dikelola oleh sistem
perledingan uang yang hebat.
Kekayaan telah memberiku kebebasan untuk memilih, dan inilah yang kupilih. Inilah visiku tentang kehidupan yang sempurna.”
Penjaga Penginapan duduk tegak. “Nah, Rich, aku punya sebuah pertanyaan untukmu. Jika kamu harus menempatkan aku di lingkungan berbintang dua, apa yang menurutmu akan terjadi? Akankah aku kembali menjalani kehidupan berbintang dua?”
Rich yakin jawabannya sudah pasti. “Tidak. Anda bisa mengubah lingkungan itu atau kembali ke lingkungan berbintang lima
karena Anda tidak akan menerima standar yang lebih rendah.”
































Penjaga Penginapan mengangguk. “Jadi, apa yang akan kamu lakukan jika kamu kembali
ke lingkunganmu malam ini?”
Rich duduk diam.
“Ingat, Rich, kamu adalah pilihanmu. Segala pilihan dan pemelajaranmu akan dibentuk dalam lingkunganmu. Jika pemelajaran
adalah permainan, lingkunganmu adalah taman bermainmu. Jangan menerima standar yang lebih rendah.
Rich menulis:
“27. Lingkunganmu adalah taman bermainmu.”
“28. Kamu adalah hasil pilihanmu.”














Hari mulai gelap. Rich memikirkan kembali pilihan yang diambilnya ketika dia mengikuti jalanan penuh semak belukar, dan hasil
pilihan itu adalah dirinya saat ini. Saat
Penjaga Penginapan mengantarnya pulang,
dia memikirkan apa yang akan dikatakannya kepada ayahnya. Dia memikirkan apa yang dikatakan Dokter Mata:
“2. Pilih tingkat di mana kamu ingin bermain.”
Selama Sembilan tahun kehidupannya, satu-satunya tingkat komunikasi yang ia ketahui dengan ayahnya adalah saling bertukar dan berhubungan. Malam ini, dia akan
mengilhami.