Sabtu, 09 Juli 2016

Bab 11 PEREMPUAN TUA (the end)



Bab 11
PEREMPUAN TUA

“Ini benar-benar tidak adil!”
“Aku muak dan bosan.”
Dan begitulah dia. Muak dan bosan. Kenyatannya, dia bosan merasa muak dan muak merasa bosan. Apakah itu adil? Ayah Richard telah bekerja sepenjang hidupnya sebagai tukang kayu. Dia selalu  menginginkan kekayaan, tetapi tidak pernah mendapatkannya. Hal itu mendorongnya bekerja jauh lebih keras sehingga tekanan
yang dia tanggung akhirnya melumatnya sampai gepeng.
Dia sama sekali tidak memiliki uang, dan terbaring sakit di tempat tidur.
Rich ada di sisinya, “Ayah, maafkan aku atas kejadian kemarin. Sesuatu yang ajaib terjadi, yang akan kuceritakan kepadamu nanti.








Tetapi hari ini, aku berjanji untuk mengunjungi Sumur Kekayaan untukmu.”
Tukang Kayu tersenyum, “Terima kasih, Nak. Maafkan Ayah karena telah membuatmu bersedih semalam. Tetapi, kamu tidak boleh melewatkan sehari saja, jadi, kemarin aku harus pergi. Lebih baik aman daripada menyesal.”
Kemudian, sambil memberi Rich uang satu dolar, ia berkata:
“Selama berabad-abad, orang-orang di desa ini telah terbiasa mengunjungi Sumur Kekayaan setiap hari tanpa henti. Bermurah-hatilah kepada Sumur, Anakku, dan Sumur akan bermurah hati kepadamu sebagai balasannya.”
Richard menerima uang itu dan langsung berlari dengan buku catatannya menuju jalan ke Sumur. Dia segera bertemu dengan









Perempuan Tua yang, lagi-lagi, sedang duduk dengan segelas air dingin di tangannya.
“Wow, kamu terlihat Rich hari ini!” serunya.
“Saya datang untuk berterima kasih dan meminta nomor telepon Anda. Saya memulai Bisnis Pemeliharaan Kayu dan Perkayuan, dan saya akan meminta nasihat dari Tukang Leding tentang apa yang perlu saya lakukan untuk mewaralabakan bisnis itu suatu saat nanti. Kemudian, saya ingin berbicara dengan Pendayung mengenai perawatan semua kapalnya di sungai. Saya ingin mengadakan lokakarya di garasi kapalnya.”
Well, well, well. Kedengarannya sangat menarik.” Kata Perempuan Tua. “Dan sudahkan kamu memanfaatkan buku catatan itu dengan baik?”
“Oh, ya, terima kasih.” Dia memperhatikan gambar daftarnya.

































“Bagus sekali. Nah, sebelum berangkat, apakah kamu punya pertanyaan yang lebih baik untukku?”
“Ya, saya punya. Pertama-tama, saya harus mencari Sumur Kekayaan, di mana saya bisa mendapatkan seember air untuk ayah saya. Jalan manakah itu?”
“Apakah kamu punya pertanyaan yang lebih baik?”
Rich keberatan, “Saya benar-benar harus pergi ke Sumur, atau ayah saya akan sangat sedih.”
“Jadi, apakah kamu punya pertanyaan yang lebih baik?”
Rich berpikir beberapa saat. Kemudian, dia melihat daftarnya.
“Berapa lagi yang harus ada dalam daftar?”
Perempuan Tua tersenyum, “Dua, untuk saat ini.”









Rich mengangguk, “Dan apakah seharusnya saya telah mempelajarinya?”
Perempuan Tua terus tersenyum dan mengangguk.
Rich mulai memikirkan hari kemarin. Dia duduk di samping Perempuan Tua dan berpikir keras, karena dia juga tahu dia telah melewatkan sesuatu. Dan itu adalah sesuatu yang sangat penting.
Dia merasa hal itu ada hubungannya dengan jenis orang yang ditemuinya. Dia merasa hal tersebut ada hubungannya dengan bagaimana mereka terhubung. Dia tahu itu ada hubungannya dengan melodi Pemusik dan nyanyian gadis kecil:
“Dunia sedang Menunggu, Berharap …”
Rich berpikir lebih keras. Dia memandangi air dalam gelas di tangan Perempuan Tua. Dia belum meminumnya, dan hal tersebut mengingatkannya kembali pada Air Sumur Kekayaan. Hal itu membuatnya berpikir








tentang air di kolam air mancur dan di taman. Hal itu membuatnya berpikir tentang air di sungai dan di laut.
Dia berpikir sangat keras tentang air itu, dan apa yang dilakukan setiap orang yang ditemuinya dengan air itu. Yang tampaknya dilakukan oleh semua orang di desanya dengan Air dari Sumur adalah meminumnya.
Tetapi, semua orang yang ditemuinya kemarin tampaknya menghargai air dengan cara berbeda. Seolah hal terakhir yang perlu mereka khawatirkan adalah mempunyai minum yang cukup. Mereka tidak hanya menemukan nilai secara berbeda—tetapi juga dengan cara yang jauh lebih besar.
Dia tahu bahwa ada sesuatu dalam hal ini yang harus dia pahami. Sepanjang perjalanannya kemarin, selalu ada lebih banyak air daripada yang bisa digunakannya, dan air itu terus bertambah banyak. Dia ingat apa yang dikatakan oleh Dokter Mata:









“3. Apa yang kamu lihat selalu merupakan apa yang kamu dapatkan.”
Kemudian, dia memikirkan kepanikan ayahnya semalam ketika dia tidak mendapatkan Air Sumur, dan bagaimana suasana hatinya tiba-tiba berubah. Perempuan Tua tampaknya memahami yang sedang dipikirkan Rich dan dia berbisik:
“Air, air, di mana-mana. Dan tak ada satu tetaspun untuk diminum.”
Rich mulai mendapatkan kejelasan selanjutnya. Dia mengangguk ke arah gelas berisi air. “jadi, untuk apakah air itu?”
“Hanya sedikit yang seperti kamu, Rich. Hanya sedikit yang datang untuk menjadi kaya. Banyak orang datang kepadaku untuk mencari Sumur Kekayaan, jadi aku menunjukkan Sumur kepada mereka. Tetapi, tahukah kamu, sebagian besar bahkan tidak










menanyakannya. Mereka datang dan sekadar menanyakan kepadaku mereka haus.”
“Kepada orang-orang tersebut, aku memberikan segelas air.”
“Begitu mengobati rasa haus mereka, mereka tidak melanjutkan perjalanan. Mereka berbalik dan pulang ke rumah begitu saja.”
Perempuan Tua menatap Rich, dan Rich juga menatapnya. Dia berpikir tentang gelas itu, ember, dan lautan. Perempuan itu menganggukkan kepalanya ke buku catatan Rich, dan ia pun menulis:
“29. Air selalu menemukan tinggi permukaannya.”
Perempuan Tua memandang Rich dengan mata berbinar, dan berkata, “Maka, itulah semua yang kamu perlukan untuk ayahmu.” Dia menyerahkan sebuah ember kosong dari Sumur Kekayaan kepada Rich.










Rich menyipitkan matanya mengerti, “Jadi, Anda memiliki Sumur Kekayaan.”
“Tepat sekali. Gadis terkaya di desa.”
“Tetapi, itu bukan Sumur yang sesungguhnya…” Rich melanjutkan.
Perempuan Tua mendesah. “Kita semua memiliki sumur itu, Rich. Tetapi, visiku adalah membantu mereka yang benar-benar tidak mau membantu diri sendiri. Sumur Kekayaan tidak bisa memberi mereka kekayaan, tetapi bisa member mereka keamanan. Gelas ini tidak bisa memberi kelegaan. Sukses, berkecukupan, atau harus bertahan hidup. Semua adalah masalah pilihan.”
Hal itu benar. Siapa pun bisa melakukan perjalanan seperti yang dilakukan Rich kemarin. Sebagian besar tidak melakukannya karena mereka tidak mau menginvestasikan waktu yang diperlukan untuk sukses. Itulah pilihan mereka. Rich ingat apa yang dikatakan Penjaga Penginapan:









“28. Kamu adalah hasil pilihanmu.”
“Lalu, kenapa Anda membantu saya?” “Karena kamu meminta. Dan aku mengirimmu kepada orang yang mempunyai visi yang tepat.”
“Dokter Mata. Saya tidak pernah mengetahui visinya.”
Perempuan Tua tersenyum, “Ya, kamu tahu.”
Rich membalas senyumannya, dan kemudian mengangguk. Dia menatapnya sambil mengajukan pertanyaan yang lebih baik. “Jadi, apa yang ada setelah nomor 29?”
“Jika tidak melihatnya, kamu mengetahui jawabannya. Apa yang kamu lihat selalu merupakan apa yang kamu dapatkan.”
Perempuan Tua memberikan rahasianya, “Tetapi, Rich, aku akan memberitahumu hal ini. Jangan pernah menyerah untuk mencari









yang ada selanjutnya, karena suatu hari kamu akan menemukannya. Saat kamu menemukannya, kamu akan menyadari bahwa ketika sumur Kekayaan memancar dari Kata-Kata kita, yang ada selanjutnya adalah Kekayaan yang melampaui Kata-Kata.”
Apa yang telah dilewatkannya? Apa yang ada setelah nomor 29? Dia tahu itulah yang terpenting. Dia tahu itulah yang jauh paling penting.
Dia bisa merasakan kaitan di antara orang-orang yang ditemuinya. Atau mungkin itu adalah urutannya, dia berpikir keras tentang kata-kata mereka. Dia tidak melihat apa pun dalam kata-kata mereka.
Dia memang harus menjadi tukang kayu yang lebih baik.
Sesuatu dalam daftar 29 pokok pikirannya salah. Urutannya salah. Dia perlu mengubah anak tangga pada tangganya. Dia akan harus memikirkannya, menuliskannya, melakukannya, meninjaunya kembali.








Saat berjanji kepada Perempuan Tua bahwa dia akan bekerja keras, dia tidak menyadari bahwa hal itu akan sekeras ini.
Apa yang ada setelah nomor 29? Tampaknya jawabannya ada di belakangnya. Tetapi, karena dia harus membaca kembali bukunya, jawabannya sebenarnya ada di dedepannya. Dia bertekad akan mengetahuinya. Dia akan membaca kembali bukunya hingga menemukan jawabannya.
Rich menghirup udara segar musim semi, dan tahu bahwa dia pernah berasa di sini sebelumnya. Baru saja sehari yang lalu, ataukah sebulan? Atau setahun?
Dia merasakan kejelasan yang lebih besar, dan kembali menatap Perempuan Tua.
Apa yang ada setelah nomor 29?
Perempuan Tua membalas tatapannya dengan mata biru sejuk.
Dua mata itu adalah mata muda yang penuh semangat. Rich melihat tarian lucu dan








menyenangkan di kolam yang indah itu. Mata Perempuan Tua mengingatkannya kepada kolam air mancur tempat tukang leding menari. Kedua mata itu mengingatkannya kepada sungai di mana kedua gadis itu berenang. Apa yang ada setelah nomor 29?
Saat dia menatap mata Perempuan Tua, terpaku, dia menjadi sadar akan waktu. Dia bisa merasakan aliran waktu seperti arus air yang melewati kapal.
Saat dia memandang rona biru itu, arusnya menjadi tenang, dan dia bisa melihat lautan yang berkilau. Waktunya yang berharga melambat menjadi ayunan yang lamban, dan kemudian berhenti.
Dia menahan napas.
Dengan binar di matanya, Perempuan Tua mengedipkan sebelah matanya.
Dan akhirnya, Rich melihatnya.










TAMAT






“Dunia sedang menunggu,
Berharap ...”















Penutup

Selamat datang kembali, dan terima kasih Anda telah membaca buku ini.
Mohon dipahami bahwa kisah dalam buku ini bukan cerita biasa. Kisah sesungguhnya tidak terletak pada ceritanya. Kisah sesungguhnya adalah sebuah kisah ajaib di balik ceritanya, yang menunggu untuk diungkapkan. Hal itu berarti kisah ini hanya bisa dipahami setelah pembacaan berulang-ulang. Terserah Anda apakah kisah ini Anda pahami pada pembacaan yang kelima atau yang kelima belas.
Kisah sesungguhnya sedang menunggu, menawarkan kunci menuju kekayaan pribadi Anda sendiri.
Jika Anda belum menemukan kisah










sesungguhnya dalam buku ini, apakah Anda siap menerima hal itu? Atau, apakah Anda siap bekerja lebih keras?
Kita puas dengan standar kita. Apakah standar Anda segelas penuh yang Anda dapatkan dari beberapa kali membaca kisah ini, beberapa kali Anda membahasnya, atau Anda hanya puas dengan lautan?
Setiap kali Anda membaca buku ini, kejelasan dan fokus Anda akan meningkat. Apa yang Anda lihat selalu merupakan apa yang Anda dapatkan. Saat Anda melihat lebih banyak, Anda akan mendapatkan lebih banyak. Pada akhirnya, saat tingkat Anda semakin tinggi, Anda akan mendapatkan lautan, air akan selalu berusaha agar permukaannya datar.
Jika Anda menginginkan lebih dari sekadar segelas penuh, jawabannya muncul dengan memikirkan dan menuliskannya. Jika Anda sudah tahu bahwa mengetahui tanpa melakukan berarti belum mengetahui, mana bolpoin Anda? Apa yang telah Anda tuliskan? Apa yang telah Anda lakukan?








Jika Anda menginginkan kejelasan yang lebih besar, ajukan pertanyaan yang lebih baik. Pertanyaan anggapan Anda.
Apa yang dimiliki semua penasihat selain hal-hal yang sudah jelas? Apa definisi Anda mengenai kekayaan?
Mengapa urutannya penting untuk penciptaan kekayaan dan mengapa urutannya tidak selalu tepat? Apakah urutan yang tepat?
Bagaimana menata ulang urutan daftar Rich membuat Anda semakin dekat ke apa yang ada setelah nomor 29?
Apa visi Ahli Kacamata?
Jika kisah sesungguhnya bukan ceritanya, apa kisah sesungguhnya? Jika yang Anda lihat adalah yang Anda dapatkan, apa yang masih belum Anda lihat?
Pintu apa yang tidak Anda buka? Pertanyaan yang lebih baik adalah kunci yang mempertanyakan dan membuka pintu yang









telah berhenti Anda pertanyakan dan telah Anda tutup.
Ada dua pertanyaan lebih baik yang akan membawa Anda lebih dekat, dengan lebih cepat, ke kisah sesungguhnya. Pertanyaan yang mempertanyakan anggapan Anda:
Jika air dalam keseluruhan cerita tidak mewakili apa yang Anda anggap diwakilinya, apa sebenarnya yang diwakilinya?
Dan jika perjalanan Rich tidaklah selama yang Anda kira, berapa lama perjalanan tersebut? Akan berapa lamakah perjalanan itu?
Kita puas dengan standar kita. Apakah standar Anda segelas penuh yang Anda dapatkan dari beberapa kali membaca kisah ini, beberapa kali Anda membahasnya, atau Anda hanya puas dengan lautan? Akankah Anda sungguh-sungguh akan memikirkannya, menuliskannya, melakukannya, meninjaunya kembali?
Anda adalah hasil pilihan Anda.









Jadi, mohon gunakan cerita ini seperti Anda menggunakan gembor penyiram tanaman. Semakin sering Anda menyiramkannya, semakin subur Anda tumbuh.
Petunjuk penggunaan:
Gunakan
Bilas
Ulangi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar