Sabtu, 09 Juli 2016

Bab 10 TUKANG KAYU



Bab 10
TUKANG KAYU

Dia sudah sampai di rumah! Rich berlari dengan gembira menuju pintu depan
rumahnya, sambil memegang buku
catatannya erat-erat saat dia membuka pintu. Hatinya berdebar-debar dan seringai lebar mengembang di wajahnya.
Rich berlari ke dalam rumah dan membuka pintu kamar  ayahnya.
“Ayah, kita akan kaya! Ayah tidak akan percaya pada apa yang terjadi hari ini!”
“Richard! Kenapa kamu pergi begitu lama? Mana Air Sumur?”
Richard terpaku. “Oh tidak, aku tidak mendapatkan Air Sumur. Tetapi, lihat apa yang kudapatkan.” Dia mengeluarkan buku catatannya.









Tukang Kayu mengangkat tubuhnya dari atas tempat tidur dan menatap Richard dengan putus asa. “Richard, mana Air Sumur? Hanya itulah yang harus kamu lakukan hari ini.
Pergi ke Sumur Kekayaan dan ambil Air. Kita memerlukan Air, Richard. Mana Air Sumur?”
Richard berdalih, “Tidak, Ayah, kita tidak memerlukan Air Sumur, Sumur Kekayaan tidak berada di tempat seperti yang ayah pikirkan. Aku telah melihat samudera, Ayah. Aku telah melihat samudera.”
Richard melihat mata ayahnya berkaca-kaca saat Tukang Kayu menggelengkan kepalanya. Dia perlahan mengangkat tubuhnya dari tempat tidur dan mulai mengenakan kaus kakinya. “Aku harus pergi. Aku harus pergi
ke Sumur sekarang. Kita harus mendapatkan Air.”
“Ayah, ini sudah malam. Lakukan itu besok pagi. Ayah, waktu sangatlah berharga. Biar kuberi tahu visiku. Biar kuberi tahu apa yang telah kupelajari hari ini.” Kata-kata Richard berjatuhan di sekelilingnya, berceceran di lantai sebelum mencapai telinga Tukang Kayu.








“Di mana uangnya, Richard?”
Mengucapkan kata-kata itu seolah menyakiti Tukang Kayu, dan dia membungkuk
kesakitan saat berdiri. Richard mulai
menangis.
“Maafkan aku. Aku tidak menyimpan uang itu lagi.”
“Oh, Richard. Kamu tidak tahu. Ini menyedihkan. Ini sangat menyedihkan. Apa yang telah kamu lakukan.” Orang tua itu merogoh-rogoh kotak uang, mengeluarkan uang satu dolar, dan mengenakan jaketnya. “Aku harus pergi sekarang. Aku harus ke Sumur. Kunci pintunya setelah aku keluar. Aku bawa kunci.”
Richard mulai menangis lebih keras saat Tukang Kayu berusaha menuju pintu.
“Tidak, Ayah. Tolong. Tolong, biar kuberi tahu. Lihatlah buku catatanku. Lihat apa
yang telah kutulis. Aku mohon, Ayah.
Lihatlah. Pemelajaran adalah permainan. Waktu adalah aset kita yang paling berharga.








Ayah, semua ada di sini. Tolong duduklah sebentar dan biar kujelaskan kepadamu.”
Richard mengusap matanya dengan putus
asa. Air matanya menyingkirkan visinya, menyingkirkan kejelasannya.
“Biar kuilhami dirimu, Ayah. Sumur itu di
sini. Sumur itu ada dalam Kata-Katamu.”
Dia berbicara kepada pintu yang tertutup.
Dia duduk di lantai dan mulai menangis. Dia mulai memikirkan ibunya, dan itu membuat tangisnya semakin tersedu. Sebelumnya, hari ini akan menjadi hari terbaiknya, namun sekarang, hari ini adalah hari terburuknya.
Hal itu seperti mimpi buruk. Tak satu pun yang nyata. Hanya air matanyalah yang
nyata. Air matanya, derita ayahnya, dan
lantai yang dingin.
Saat Richard terbaring di lantai seperti
boneka rusak, menangisi dirinya hingga tidur, kata-kata Pemusik muncul di kepalanya:









“23. Bukan hanya apa yang kamu lakukan, tetapi juga kapan kamu melakukannya.”
Dan musim dingin pun berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar