Sabtu, 09 Juli 2016

Bab 8 PEMUSIK



Bab 8
PEMUSIK

Rich melangkah masuk ke gazebo. “Hai, saya Rich! Saya memiliki jasa perawatan kayu
yang berkualitas dan saya akan senang
membantu Anda.”
Pemusik tertawa. “Wow, kamu seorang
wirausaha muda. Sayangnya, gazebo ini
bukan milikku. Tetapi, serulingku bisa
di pelitur.”
Rich duduk dan melihat ke laut. Sebelumnya
dia tidak pernah memerhatikan betapa
luasnya lautan itu.
“Bolehkan saya mengungkapkan visi saya
kepada Anda?” Rich memulai.
Paemusik meniup serulingnya dengan ringan
dan kemudian berhenti. “Gambarkan visimu untukku.”









Dan itulah yang dilakukan rich selama dua
puluh menit selanjutnya, sementara Pemusik
terus memainkan serulingnya.























“Jadi, sekarang katakan kepadaku mengapa kamu mungkin gagal.”
Rich memikirkan hal itu. Hal itu bukan
karena dia akan melakukan kesalahan, karena dia telah berencana untuk gagal. Bukan karena dia akan menyia-nyiakan
waktu atau uangnya, karena dia akan menginvestasikan keduanya. Bukan karena
dia akan bergerak terlalu cepat atau terlalu lamban, Karena dia akan mengikuti irama.
“Saya tidak tahu. Bagaimana saya bisa gagal?”
“Jika kamu menabur di musim panas atau
menuai di musim semi. Jika kamu
melupakan… “ dia memainkan serulingnya
lagi “…keselarasan.”
Dia memandangi Rich, dan Rich pun melihat kilau indah di mata wanita itu.
“Katakan kepadaku, Rich. Apa yang kamu tahu tentang waktu?”
“Saya tahu bahwa kita, orang kaya, menghargai waktu lebih daripada uang. Saya









Tahu bahwa kita memperlakukannya dengan sangat hati-hati karena kita melihatnya
sebagai sesuatu yang berharga. Kita benci menyia-nyiakannya.”
Pemusik mengangguk setuju. “Waktu tidak bisa dibandingkan dengan uang . kamu selalu bisa mendapatkan lebih banyak uang jika kamu menghabiskannya. Sementara untuk waktu, sekali kamu menghabiskannya, hilanglah waktu. Waktu tidak pernah
kembali. Waktu adalah asetmu yang paling berharga, maka berinvestasilah dengan memahaminya secara lebih baik.
Rich menambahkan ke dalam daftarnya:
“20. Waktu adalah asetmu
yang paling berharga.”
Rich bertanya. “Jadi, apa yang bisa Anda ajarkan kepada saya untuk membantu saya memahami waktu dengan lebih baik?”
Pemusik memandang lautan, “Waktu memiliki cita rasa. Belajarlah untuk merasakannya,
dan kekayaanmu pun terjamin.” Dia berhenti.






“Akan kutunjukkan kepadamu. Perhatikan
ombak itu.”
Rich memandang ombaknya. Ombak itu tampak seperti ombak-ombak lain yang
pernah dilihatnya. Pemudik melanjutkan, “Bernapaslah bersama ombak.”
Rich mulai menarik napas saat garis air menyurut, dan mengembuskannya setiap kali ombak pecah di pantai. Pemusik mulai memainkan serulingnya, memainkan nada-nada naik dan turun bersamaan dengan
ombak.
Rich bisa mendengar Pendayung berkata:
“19. Kekayaan yang berkelanjutan mempunyai irama.”
Tetapi, ini lain. Tubuh Rick merinding setiap kali ombak memecah pantai. Hal aneh mulai terjadi. Dia bukan lagi sekadar Rich. Dia








adalah sesuatu yang jauh lebih besar. Saat bernapas, dia menjadi lalutan, dan melodi,
dan di sana terdapat begitu banyak
kelimpahan. Dia tiba-tiba melihat betapa jauh lebih banyak yang telah dimilikinya, dan betapa jauh lebih banyak yang harus dia berikan.
Dia berpikir tentang ayahnya. Dia berpikir tentang ibunya yang telah tiada. Dia telah menyalahkan ibunya atas kematiannya—karena meninggalkan dirinya dan ayahnya.
Dia tidak mengira akan bertemu dengan ibunya lagi. Tentu saja bukan di sini dan sekarang ini. Tetapi, perasaan menyatunya sangat dalam.
Alih-alih merasa kewalahan, dia justru
merasa sangat tenang, dia merasakan
kekuatan batin yang bergelombang bergerak naik dalam dirinya. Kekuatan itu menggelora di seluruh tubuhnya, naik ke dadanya, dan
naik lagi ke wajahnya, ke matanya. Rich merasakan energi yang tidak bisa digambarkannya. Saat dia melihat ke luar, selaras dengan irama alam, dia disentakkan oleh kejelasan yang luar biasa.







Kemudian, dia melihatnya. Dengan binar di matanya, dia berbisik, “Jadi, seharusnya
Dunia tampak seperti INI…”
Pemusik berhenti bermain, tetapi Rich masih bisa mendengar melodinya. “Bisakah kamu merasakannya?” dia bertanya. Rich mengangguk. Pemusik melanjutkan, “Saat kamu menemukan keselarasan yang sesungguhnya, kamu menemukan kekuatan yang tak ternilai. Keselarasan adalah
landasan Kekayaan.”
Rich cepat-cepat menuliskannya:
“21. Keselarasan adalah
Landasan Kekayaan.”
Wanita itu menggambarkan lingkaran:

















“Di laut, ada riak-riak pada gelombang pada arus pada pasang. Sama dengan waktu. Ada musim dalam musim. Ada musim semi,
panas, gugur, dingian setiap tahun, setiap
hari. Kamu memiliki berbagai musim dalam kehidupan, hubungan, investasi, dan
bisnismu. Kamu memiliki satu musim dalam perjalanan yang kamu lakukan hari ini.”
“Kamu memiliki musim-musim dalam pemelajaranmu dan dalam tindakanmu. Sekarang, kamu melihat musim dalam
bukumu. Keselarasanmu memberikan pengetahuan itu.”









Richard memikirkan hal itu. Pemusik benar.
“Saat kamu menginvestasikan waktumu—untuk menabur, memelihara, dan menuai hubungan dan investasimu, pemelajaran dan hasratmun visi dan fokusmu—pastikan kamu menabur pada musim semi, merawat pada musim panas, dan menuai pada musim gugur. Uang penting bukan hanya apa yang kamu lakukan, teapi juga kapan kamu melakukannya.”
Richard menulis:
22. Waktu mempunyai musim.”
“23. Yang penting bukan hanya apa yang kamu lakukan, tetapi juga kapan kamu melakukannya.”









Pemusik melanjutkan:
“Saat menemukan visi dan kejelasanmu,
kamu menemukan Kekayaanmu. Saat kamu menemukan Kekayaanmu, kamu bisa
terfokus kepada cara menginvestasikan waktumu. Saat kamu menginvestasikan waktumu, kamu menciptakan nilai. Saat
kamu menciptakan nilai, kekayaanmu mulai mengalir. Saat kekayaanmu mengalir bersama irama dan keselarasan, kekayaanmu mulai bergema.”
“Apakah kamu tahu artinya bergema, Rich?”
“Saya merasakannya, tetapi sata tidak memahaminya.”
“Saat bergema, kamu menciptakan getaran, seperti riak-riak di kolam. Kamu menciptakan daya tarik terhebat—kamu menarik orang-orang terbaik, kesempatan-kesemlpatan terbaik dan lingkungan terbaik. Itulah saat kamu benar-benar mulai menjalani
kehidupan secara penuh. Saat bergema, kamu mengumpulkan sedikit demi sedikit.”








Rich diingatkan kepada burung-burung dan kupu-kupu di kebun Tukang Kebun. Dia menulis:
“24. Saat bergema, kamu mengumpulkan sedikit demi sedikit.”
Matahari semakin turun di langit, dan udara mulai terasa dingin. Rich menatap Pemusik. Dia belum bertanya kepadanya seberapa kaya dirinya, tetapi dia menyadari dia tidak perlu menanyakannya. Dia bisa melihat kekayaan
di seluruh tubuhnya. Dia bertanya:
“Begitukah cara Anda menjadi sedemikian kaya? Anda menarik segala sesuatu kepada diri Anda?”
Pemusik menggelengkan kepalanya. “Daya tarik itu bukanlah penyebabnya. Hal itu
adalah dampaknya. Saat kamu mulai
menarik hal-hal luar biasa, itu hanyalah petunjuk bahwa kamu berjalan di jalan yang benar. Jika tidak, itu adalah petunjuk untuk







melakukan penyesuaian ulang. Daya tarik itu adalah penghargaan yang kamu dapatkan dari usahamu.”
“Tidak, saat aku menjadi pemusik yang lebih baik, aku mengembangkan kejelasan tentang waktu dan tempat untuk menciptakan
investasi baru, waktu membangunnya, dan waktu menjualnya. Aku menjadi penguasa waktu dan fokusku hanya dengan menyelaraskan diri dengan pasar dan penasihatku. Aku menemukan rahasia segala kekayaan luar biasa.”
“Apa rahasianya?”
“Itulah yang harus kamu temukan.”
“Bisakah Anda memberi saya petunjuk?”
Pemusik tersenyum, dan kemudian mulai memainkan melodi yang sama dengan yang ia mainkan sebelumnya. Rich melihat kembali ke laut.
Di pertengahan melodi, Pemusik tiba-tiba berhenti.








Melodinya berlanjut di kepala Rich.
Dia berpaling kepada Rich. “Aku mulai tahu apa nada selanjutnya.”
Rich melihatnya dengan penuh teka-teki, dan nada lainnya muncul di kepalanya:
“Dunia sedang menunggu. Berharap …”
Rich melihat bayangan dirinya di mata biru cerah perempuan itu. Bayangannya berkelip-kelip. Saat Rich menatap matanya, Pemusik mengedipkan sebelah mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar